Semarang – KeSEMaTBLOG. KeSEMaT melalui salah satu departemennya, yaitu Departemen Perpustakaan KeSEMaT (DEPUSMAT), kembali menyelenggarakan program tahunan berupa kompetisi mangrove nasional bertajuk KeSEMaTCOMPETITION (KC) 2026: Video Surat untuk Mangrove: A Letter of Hope, A Legacy of Green – Lomba Membuat Video Surat untuk Mangrove Mahasiswa Tingkat Nasional.
14.9.26
11.9.26
Warga Binaan KeSEMaT Berbagi Praktik Produk Olahan Mangrove hingga Jayapura
10.9.26
Rehabilitasi Mangrove Bergeser: Ketika Survival Rate Mengalahkan Alam
8.9.26
Mengapa 30 Persen Bibit Mangrove Sebaiknya Disimpan untuk Penyulaman
2.9.26
Survival Rate Mangrove 0%: Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan CSR?
Kegagalan Penanaman Mangrove: Mengapa Survival Rate Bisa 0%?
Semarang - KeSEMaTBLOG. Kegagalan penanaman mangrove hingga menghasilkan survival rate 0% bukan persoalan sederhana. Menanam ribuan bibit mangrove, melakukan asesmen lokasi, menentukan jenis yang dinilai sesuai, melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan, menjalankan pemantauan, bahkan melakukan penyulaman, tetapi beberapa bulan kemudian mendapati seluruh tanaman mati tentu bukan situasi yang mudah diterima.
28.8.26
Hilirisasi Mangrove: Pengertian, Produk, Manfaat, dan Inovasi KeSEMaT
25.8.26
Tutupan Kanopi Mangrove: Pengertian, Metode, Rumus, dan Cara Mengukurnya
Semarang – KeSEMaTBLOG. Tutupan kanopi mangrove merupakan persentase bagian permukaan atau bidang pandang yang tertutup oleh tajuk vegetasi mangrove dan menjadi salah satu parameter penting untuk menggambarkan struktur serta kondisi tegakan. Tutupan kanopi dapat diukur menggunakan pengamatan lapangan, fotografi hemisferis, densiometer, hingga pendekatan penginderaan jauh yang dikalibrasi dengan data lapangan.
Kualitas Air Mangrove: Parameter, Metode Pengukuran, dan Cara Membaca Hasilnya
Semarang – KeSEMaTBLOG. Kualitas air mangrove merupakan gambaran kondisi fisik dan kimia perairan yang berinteraksi dengan ekosistem mangrove dan dapat diketahui melalui pengukuran parameter seperti suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, kekeruhan, padatan tersuspensi, serta nutrien. Data kualitas air penting untuk memahami kondisi habitat, pengaruh pasang surut, masukan air tawar, potensi pencemaran, serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi vegetasi dan organisme yang hidup di kawasan mangrove.
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener Mangrove: Rumus, Cara Menghitung, dan Interpretasinya
Semarang – KeSEMaTBLOG. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener mangrove merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur keanekaragaman komunitas berdasarkan jumlah jenis dan proporsi kelimpahan setiap jenis. Dalam penelitian mangrove, indeks ini membantu menggambarkan bagaimana individu dari berbagai jenis seperti Rhizophora mucronata, Avicennia marina, Sonneratia alba, dan jenis lainnya terdistribusi dalam suatu komunitas.
Regenerasi Mangrove: Cara Mengukur Semai, Pancang, dan Pohon
Semarang – KeSEMaTBLOG. Regenerasi mangrove adalah proses muncul, tumbuh, bertahan, dan berkembangnya individu mangrove dari fase awal hingga membentuk tegakan yang lebih dewasa. Dalam penelitian vegetasi, regenerasi dapat dipelajari dengan membedakan individu berdasarkan tingkat pertumbuhan seperti semai, pancang, dan pohon, kemudian mengukur jumlah, jenis, kerapatan, distribusi, ukuran, serta perubahan setiap tingkat tersebut dari waktu ke waktu.
Cara Mengukur Tinggi Pohon Mangrove di Lapangan
Semarang – KeSEMaTBLOG. Cara mengukur tinggi pohon mangrove di lapangan harus dilakukan dengan menentukan titik dasar, titik tertinggi pohon, jarak horizontal, dan metode pengukuran yang sesuai dengan ukuran serta bentuk pohon. Tinggi pohon menjadi salah satu parameter penting dalam penelitian struktur vegetasi, pertumbuhan tegakan, monitoring rehabilitasi, dan pada persamaan allometrik tertentu dapat digunakan bersama diameter untuk memperkirakan biomassa mangrove.
Sedimentasi Mangrove: Pengertian, Metode, Rumus, dan Cara Mengukur Lajunya
Semarang – KeSEMaTBLOG. Sedimentasi mangrove adalah proses pengangkutan, pengendapan, dan akumulasi material sedimen pada kawasan mangrove yang berlangsung melalui interaksi antara pasang surut, arus, gelombang, suplai sedimen, topografi, serta struktur vegetasi. Sedimentasi merupakan proses penting karena dapat memengaruhi elevasi permukaan, karakter substrat, regenerasi vegetasi, penyimpanan karbon, hingga kemampuan mangrove mempertahankan posisinya terhadap kenaikan muka laut.
Serasah Mangrove: Pengertian, Produktivitas, Metode, Rumus, dan Cara Mengukurnya
Semarang – KeSEMaTBLOG. Serasah mangrove merupakan material organik yang berasal dari bagian tumbuhan mangrove yang gugur, seperti daun, ranting, bunga, buah, dan propagul, kemudian memasuki lantai hutan, perairan, atau sedimen mangrove. Dalam penelitian ekologi, serasah penting karena menjadi salah satu jalur utama perpindahan bahan organik dan unsur hara dari vegetasi menuju tanah, organisme pengurai, rantai makanan detritus, perairan pesisir, serta siklus karbon ekosistem.
Karbon Sedimen Mangrove: Cara Mengukur Stok Karbon dalam Tanah
Semarang – KeSEMaTONLINE. Karbon sedimen mangrove adalah karbon yang tersimpan di dalam tanah atau sedimen ekosistem mangrove dan menjadi salah satu komponen penting dalam penghitungan stok karbon ekosistem pesisir. Berbeda dengan karbon vegetasi yang diperkirakan dari diameter dan biomassa pohon, stok karbon sedimen ditentukan melalui pengambilan sampel tanah, pengukuran kedalaman, bulk density, serta analisis konsentrasi karbon organik.
Drone untuk Pemetaan Mangrove: Metode, Perencanaan Terbang, Pengolahan Data, dan Analisis
Semarang – KeSEMaTBLOG. Drone untuk pemetaan mangrove dapat digunakan untuk memperoleh citra udara beresolusi sangat tinggi yang kemudian diolah menjadi orthomosaic, model permukaan, peta tutupan vegetasi, informasi struktur kanopi, hingga data pendukung monitoring perubahan ekosistem. Dibandingkan survei lapangan saja, Unmanned Aerial Vehicle atau UAV memungkinkan kawasan pesisir direkam secara lebih cepat dan detail, terutama ketika ukuran objek yang ingin diamati lebih kecil daripada kemampuan resolusi citra satelit.
Metode Transek dan Plot Mangrove: Ukuran, Penempatan, dan Pengambilan Data
Semarang – KeSEMaTBLOG. Metode transek mangrove dan plot merupakan teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk memperoleh data vegetasi, struktur tegakan, regenerasi, biomassa, karbon, maupun perubahan kondisi ekosistem secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan. Transek membantu peneliti menangkap perubahan kondisi sepanjang suatu gradien kawasan, sedangkan plot menjadi unit area tempat individu mangrove dan berbagai parameter lainnya diamati serta diukur.
Kerapatan Mangrove: Pengertian, Rumus, dan Cara Menghitungnya
Semarang – KeSEMaTBLOG. Kerapatan mangrove adalah jumlah individu mangrove yang terdapat pada suatu satuan luas tertentu dan menjadi salah satu parameter dasar untuk menggambarkan struktur vegetasi suatu kawasan. Nilai kerapatan dapat digunakan untuk mengetahui banyaknya pohon, pancang, atau semai dalam suatu area, membandingkan kondisi antarstasiun, menghitung Kerapatan Relatif atau KR, serta menjadi salah satu komponen dalam analisis Indeks Nilai Penting atau INP.
Makrozoobentos Mangrove: Pengertian, Metode Sampling, Rumus, dan Analisis Struktur Komunitas
Semarang – KeSEMaTBLOG. Makrozoobentos mangrove merupakan kelompok hewan tidak bertulang belakang berukuran relatif besar yang hidup pada, di dalam, atau berasosiasi erat dengan substrat dasar ekosistem mangrove. Kelompok ini mencakup berbagai gastropoda, bivalvia, krustasea, cacing bentik, dan organisme lain yang dapat memberikan informasi penting mengenai struktur komunitas, karakter sedimen, bahan organik, hidrologi, serta kondisi ekologis kawasan mangrove.
Herbivori Mangrove: Pengertian, Metode, Rumus, dan Cara Mengukur Kerusakan Daun
Semarang – KeSEMaTBLOG. Herbivori mangrove merupakan aktivitas konsumsi jaringan tumbuhan mangrove oleh organisme herbivor yang dapat menyebabkan berkurangnya luas daun, kerusakan jaringan, kehilangan bagian reproduktif, hingga perubahan aliran energi dan bahan organik dalam ekosistem. Pada penelitian mangrove, herbivori daun paling sering diamati melalui jejak gigitan, lubang, pengerokan, atau hilangnya bagian helaian daun, kemudian dihitung sebagai persentase luas daun yang rusak atau hilang.















