Dukung KeSEMaT dalam mengkampanyekan konsep Mangrove Safe ke komunitas Anda. “Ingatlah, setiap satu ekor udang yang kita makan, bisa jadi satu batang pohon mangrove telah dikorbankan!” Selengkapnya, klik di sini.

Friday, July 10, 2009

Mulai Tahun 2009, Konsep MANGROVE REpLaNT Mengalami Penyesuaian

Semarang – KeSEMaTBLOG. Terus berkreasi, tak statis tapi dinamis. Begitulah salah satu misi yang selalu dijunjung tinggi oleh para KeSEMaTERS, dalam menjalankan visinya dalam mengkonservasi, meneliti, mendidik, berkampanye dan mendokumentasikan mangrove ke masyarakat luas. Maka, sebuah pembaharuan dan inovasi baru yang menuju ke arah perbaikan adalah hal lumrah, dan tak henti-hentinya selalu dilakukan oleh KeSEMaT, untuk mencari terobosan baru dalam memasyarakatkan mangrove ke komunitas yang lebih luas, lagi.

Maka , demikian juga yang akan terjadi dengan MANGROVE REpLaNT (MR): Seminar Nasional, Pelatihan dan Penanaman Mangrove. MR yang merupakan program konservasi mangrove “paling tua,” yang telah dilaksanakan oleh KeSEMaT mulai dari tahun 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2008 ini, mulai tahun 2009 akan mengalami penyesuaian konsep.

Setidaknya, ada dua penyesuaian dalam MR 2009, nanti. Penyesuaian pertama adalah dari sisi pesertanya. Untuk MR 2009 ini, KeSEMaT sengaja memberikan ruang yang lebih besar lagi, bagi Rekan-rekan LSM dan dinas-dinas lingkungan terkait, yang seringkali menanyakan kepada kami, kapankah KeSEMaT akan memberikan pelatihan mangrove kepada mereka, dan bukan hanya kepada pelajar dan mahasiswa, saja.

Untuk itulah, kali ini, peserta MR 2009, sepertinya akan didominasi oleh Rekan-rekan dari dinas dan LSM se-Indonesia, daripada para pelajar dan mahasiswanya. Dan memang, sepertinya indikasi ini akan terbukti. Sampai dengan artikel ini selesai ditulis, peserta MR 2009 didominasi oleh Rekan-rekan dinas dan LSM dari Malang, Kalimantan Timur, Manokwari, Sumatera, Mataram, Jakarta, Semarang, Surakarta, Jepara dan berbagai daerah lainnya.

Selanjutnya, niche (baca: relung) MR dengan “konsep mahasiswa,” akan digantikan oleh program konservasi mangrove KeSEMaT lainnya, yaitu Mangrove Cultivation (MC): Seminar Nasional, Penyuluhan dan Pembibitan Mangrove, yang di tahun 2009 ini, sangat sukses pelaksanaannya, dimana diikuti oleh lebih dari 200 orang mahasiswa sebagai peserta dan panitianya.

Apabila dicermati lebih lanjut, secara informal, sebenarnya KeSEMaT sudah seringkali memberikan pelatihan dan penyuluhan mangrove kepada kelompok tani-kelompok tani di beberapa daerah, di Jawa Tengah (lihat foto di atas, pada saat KeSEMaT memberikan pelatihan penanaman mangrove kepada karyawan FIF ASTRA Semarang). Pengalaman sebagai tenaga ahli dan konsultan mangrove bagi dinas lingkungan terkait dan LSM-pun, juga telah menjadi langganan. Namun, memang dalam suasana formal, KeSEMaT belum memiliki kesempatan untuk memberikan pelatihan mangrove, secara langsung kepada mereka. Nah, baru di MR 2009 inilah, hal itu kiranya akan bisa terwujud.

Penyesuaian kedua dalam MR, yaitu perubahan konsep penyuluhan menjadi pelatihan. Tidak seperti MR-MR yang terdahulu, yang cenderung kepada konsep penyuluhan mangrove, di MR 2009 dan seterusnya, konsep penyuluhan mangrove akan disesuaikan menjadi pelatihan mangrove dengan menghadirkan “seminar tandingan,” disamping seminar nasional yang adalah menu wajib di setiap pelaksanaan MR. “Seminar tandingan” akan menghadirkan dua konsep pelatihan tentang pemberdayaan mangrove dari sisi ekologi dan ekonomi.

Pelatihan sisi ekologi mangrove akan menghadirkan para praktisi mangrove dari KeSEMaT, yang akan memberikan pelatihan tentang teknik pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove yang baik dan benar. Sementara itu, dari sisi ekonomi, KeSEMaT mendatangkan Ibu-ibu PKK dari pesisir di Indonesia, yang membawakan presentasi tentang pengolahan bahan makanan, minuman, dan berbagai produk seperti sabun dan sampo, yang berbahan dasar buah mangrove. Tertarik mengikuti pelatihan mangrove di MR 2009? Anda bisa membaca tata cara pendaftarannya di KeSEMaTONLINE www.kesemat.undip.ac.id. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

KeSEMaT Mendapat Penghargaan dan Sertifikat dari PEMSEA Philipina

Semarang – KeSEMaTBLOG. Lagi-lagi, KeSEMaT mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari dunia internasional. Setelah memenangkan 2009 International Children’s Art Calendar dari Mangrove Action Project (MAP) Amerika Serikat, beberapa bulan yang lalu, pada tanggal 10 Juli 2009, KeSEMaT mendapatkan penghargaan dan sertifikat dari Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) Philipina.

Penghargaan dan sertifikat ini, diberikan kepada KeSEMaT atas kemenangaannya dalam kompetisi The East Asian Seas Congress - Regional Photo Contest: “The Coast, the Ocean, my Community.” Penghargaan dan sertifikat dikirimkan secara langsung melalui DHL (lihat foto di atas).

Selain penghargaan dan sertifikat, KeSEMaT juga mendapatkan sebuah majalah internasional Tropical Coasts yang berisi foto KeSEMaT dan para finalis PEMSEA Photo Contest, tas dan pena eksklusif dari PEMSEA serta undangan PEMSEA kepada KeSEMaT untuk menghadiri The East Asian Seas Congress 2009: Partnership at Work: Local Implementation and Good Practices, yang akan diselenggarakan di Manila Philipina, pada tanggal 23 – 27 November 2009.

Keluarga besar KeSEMaT, sekali lagi mengucapkan selamat kepada KeSEMaT atas prestasi internasional KeSEMaT yang kesekian kalinya, ini. Semoga penghargaan dan pencapaian internasional KeSEMaT ini, bisa menginspirasi dan memacu bagi kita semua untuk bekerja lebih keras lagi dalam menyelamatkan ekosistem mangrove, kita. Amin. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Thursday, July 9, 2009

Ayo, Ikuti Talk Show MANGROVE REpLaNT 2009 di Radio PROALMA Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Menginjak satu minggu penutupan pendaftarannya, perhelatan akbar tahunan KeSEMaT, yang sudah begitu familier di telinga mahasiswa Semarang, yaitu MANGROVE REpLaNT (MR), sepertinya semakin meriah, saja. Hal ini terbukti dengan semakin gencarnya iklan-iklan MR 2009 di dua buah radio di dua kota, yaitu Jepara dan Semarang. Di Jepara, Radio IDOLA yang memiliki jargon “Jendela Informasi dan Hiburan Jepara,” telah seringkali mempromosikan MR 2009 di setiap program-program acaranya.

Sementara itu, di Semarang, Radio PROALMA juga tak mau kalah. Radio anak muda dan mahasiswa Semarang, berjargon “The Spirit of Your Life,” ini, juga akan menyiarkan secara langsung Talk Show MR 2009, yang akan membahas tuntas tentang event nasional MR 2009, yang akan diselenggarakan oleh KeSEMaT pada tanggal 24 – 26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara.

Para KeSEMaTERS akan menjadi narasumber di acara ini, yang akan disiarkan secara LIVE pada hari Minggu, tanggal 12 Juli 2009 mulai pukul 15.00 WIB – 16.00 WIB.

Tak hanya beragam informasi seputar MR 2009 saja yang akan “digeber,” dalam program ini, para pendengar juga bisa berinteraktif dengan KeSEMaT dan menanyakan berbagai hal tentang mangrove seperti pengalaman menyedihkan dan menyenangkan KeSEMaTERS dalam mengelola ekosistem mangrove di Indonesia, tentang bagaimana teknik rehabilitasi mangrove yang benar, dan lain-lain.

Penasaran dengan aksi para KeSEMaTERS di talk show ini? Bingung memahami mangrove dan ingin bertanya langsung dengan pakar mangrove KeSEMaT? Jangan lupa, pantengin PROALMA 97,7 FM pada hari Minggu, tanggal 12 Juli 2009, mulai pukul 15.00 WIB – 16.00 WIB. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Sesi Penanaman MANGROVE REpLaNT 2009, Tak Lagi Dilakukan di Teluk Awur!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Sudah tidak ada lokasi penanaman mangrove lagi, di Teluk Awur, Jepara! Begitulah barangkali sebuah kalimat yang tepat untuk menggambarkan bahwa di tahun 2009 ini, memang sudah tidak ada lagi tempat, bagi bibit-bibit mangrove untuk ditanam di pesisir pantai desa itu. Tak adanya lahan penanaman ini, tak lain dan tak bukan, karena berhasil tumbuh lebatnya bayi-bayi mangrove, hasil program konservasi mangrove KeSEMaT, bertajuk MANGROVE REpLaNT (MR) di pesisir Teluk Awur.

Bagi Anda yang dengan setia mengikuti perjalanan MR KeSEMaT setiap tahun, mulai dari tahun 2003 sampai dengan 2008, dan akan diadakan lagi pada tanggal 24 – 26 Juli 2009 ini, tentunya sudah tidak asing lagi dengan MR, yang selalu saja melibatkan ratusan orang peserta dan ribuan bibit mangrove, ini.

Sejak mulai ditanam di tahun 2003, kelulushidupan bibit mangrove di lokasi Mangrove Education Center of KeSEMaT (MECoK), mencapai angka yang fantastis, yaitu 95%. Maka, tak salah memang, apabila lahan seluas kurang lebih satu hektar itu, kini telah penuh dengan jutaan tumbuhan mangrove jenis anakan, semai dan pohon, yang tumbuh berjejalan membentuk sebuah hutan mangrove kecil.

Lihatlah foto di atas. Foto ini diambil KeSEMaTERS pada tanggal 9 Juli 2009, pada saat melakukan pengecekan terhadap lokasi penanaman bagi MR 2009 di suatu area di luar Teluk Awur. Ya, kali ini KeSEMaT tidak akan menanam mangrove di MECoK lagi (kecuali hanya untuk program penyulaman mangrove), melainkan di sebuah desa yang berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan dari Teluk Awur. Desa itu bernama Tanggul Tlare!

Tanggul Tlare, sebuah desa yang penuh dengan area pertambakan dan terancam oleh abrasi, sekarang ini dan sepuluh tahun ke depan akan menjadi target selanjutnya bagi KeSEMaT, agar bisa dihijaukan kembali, layaknya Teluk Awur.

Perlu diketahui bahwa untuk area Jepara, baru kali ini KeSEMaT berpindah lokasi penanaman, setelah delapan tahun terus menerus bekerja dan berjibaku dengan lumpur dan bibit mangrove, memfokuskan diri di satu buah titik, yaitu Teluk Awur. Konsep ini sengaja diusung, dengan tujuan untuk lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas.

Sebuah pemikiran untuk melakukan rehabilitasi mangrove dengan cara melebatkan sebuah titik terlebih dahulu, daripada melakukan penanaman di banyak titik dengan konsep nomaden, memang sengaja dipilih untuk membangun sebuah area percontohan mangrove. Dan, pemilihan konsep ini ternyata berhasil! Setelah delapan tahun berlalu, MECoK yang dulunya “gersang bagaikan lapangan bola” kini berubah menjadi “rimbun laksana hutan-rimba-purba.”

Konsep penanaman mangrove di Tanggul Tlare yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2009 pada saat event nasional bertajuk MR 2009: Seminar Nasional, Pelatihan dan Penanaman Mangrove, akan sedikit berbeda dengan konsep penanaman yang selama delapan tahun ini, diterapkan oleh KeSEMaT di Teluk Awur. Di Tanggul Tlare, KeSEMaT dan masyarakat setempat akan menerapkan sistem penanaman mangrove dengan konsep silvofishery untuk membantu masyarakat Tanggul Tlare, dalam menyelamatkan tambak mereka dari abrasi air laut yang semakin hari semakin mendekati area pertambakan mereka.

Penasaran dengan konsep silvofishery yang akan diterapkan oleh KeSEMaT pada saat MR 2009? Ayo, ikuti MR 2009! Tata cara pendaftarannya, silahkan berkunjung ke KeSEMaTONLINE www.kesemat.undip.ac.id.

Jadilah saksi sekaligus “founding father” bagi penanaman mangrove konsep silvofishery di Tanggul Tlare, di tahun pertamanya. Layaknya di Teluk Awur, siapa tahu, sepuluh tahun dari sekarang, Anda sebagai peserta MR 2009 akan dikenang oleh KeSEMaT dan masyarakat Tanggul Tlare Jepara, sebagai salah satu pemrakarsa dan perintis bagi keberhasilan program penanaman mangrove di desa ini. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Tuesday, July 7, 2009

Ikut Mangrove REpLaNT 2009 Sambil Liburan ke Hutan Mangrove Jepara, yuk!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Di musim liburan seperti ini, kira-kira tempat liburan manakah yang akan Anda tuju untuk menghabiskan liburan Anda bersama keluarga? Beberapa pilihan seperti kebun binatang, mall, dan pantai, mungkin adalah tiga buah tempat rekreasi yang akan Anda pilih, ya? Tapi, pernahkah Anda berpikir untuk berlibur ke hutan mangrove? Berlibur ke hutan mangrove adalah sebuah alternatif liburan yang rekreatif dan edukatif, sarat dengan pendidikan dan pengetahuan bagi Anda dan keluarga Anda (?).

Mangrove, sebagai sebuah kawasan yang terletak di pesisir pantai, kini sedang menjadi primadona di mana-mana. Berbagai program dan proyek rehabilitasi mangrove dengan konsep ekologi, konservasi, ekonomi dan pariwisata, sedang getol-getolnya digalakkan oleh pemerintah dan swasta, untuk menyelamatkan hutan mangrove dari ancaman kepunahan di masa mendatang.

Sebagai salah satu “efek” dari banyaknya proyek rehabilitasi mangrove di Indonesia, maka “penyulapan” hutan mangrove menjadi sebuah tempat rekreasi keluarga, nampaknya tak bisa dibendung lagi. Maka, lantas tak salah memang, apabila di satu, dua buah titik di Indonesia, sekarang ini mulai ditemukan tempat rekreasi mangrove yang apik dan representatif. Satu diantaranya adalah Pusat Informasi Mangrove (PIM) yang berlokasi di Denpasar, Bali.

Namun demikian, tak hanya di Bali saja PIM berada. Bagi Anda yang tinggal di Jawa Tengah dan sekitarnya, beberapa kelompok tani, organisasi dan masyarakat pesisirnya, juga telah banyak yang menginisiasi bagi terbentuknya PIM-PIM serupa, layaknya di Bali.

Beberapa buah lokasi PIM ini bisa ditemukan di Cilacap, Pemalang, Tegal, Kendal, Semarang, Demak, Jepara dan Rembang. Khusus untuk Jepara, di sebuah desa bernama Teluk Awur, KeSEMaT telah berhasil membangun sebuah kawasan PIM, yang digunakan oleh organisasi-mangrove-mahasiswa ini, sebagai sebuah sarana untuk memberikan informasi tentang mangrove kepada pelajar, mahasiswa dan masyarakat di sekitarnya.

PIM KeSEMaT yang lebih dikenal dengan nama MECoK (Mangrove Education Center of KeSEMaT), terdiri dari puluhan jenis flora dan fauna mangrove. MECoK sudah banyak dikunjungi oleh perorangan, institusi dan LSM se-Indonesia yang berasal dari Jepara, luar Jepara bahkan luar Jawa. Apa yang ditawarkan oleh MECoK sehingga lokasi ini seringkali dikunjungi?

Selain pemandangan pantai Teluk Awurnya yang notabene adalah Laut Jawa yang indah, komunitas mangrove di MECoK dengan variasi spesiesnya berikut faunanya seperti kupu-kupu, burung-burung migran, kepiting, ikan gelodok dan lain sebagainya, tentunya sayang sekali apabila dilewatkan.

Tak hanya itu, di MECoK, terdapat juga vegetasi mangrove dengan berbagai variasi umur dan dua buah tempat persemaian mangrove, yang tentunya akan semakin melengkapi pengetahuan putra-putri Anda.

Bagi Anda yang tertarik untuk berlibur ke MECoK, kebetulan sekali, pada tanggal 24 – 26 Juli 2009 ini, KeSEMaT akan mengadakan program konservasi tahunannya bernama Mangrove REpLaNT (MR) 2009: Seminar Nasional, Penyuluhan, Pelatihan dan Penanaman Mangrove. Akan ada banyak perorangan, LSM, pelajar, mahasiswa, masyarakat dan instansi mangrove dari seluruh Indonesia yang akan hadir di acara ini.

Nah, tak ada salahnya, sembari berlibur di MECoK, Anda menyempatkan juga untuk mengikuti MR 2009, yang tentunya akan berguna sekali untuk menambah pengetahuan Anda dan keluarga tentang mangrove dan metode rehabilitasinya. Akan ada banyak acara seperti membuat sabun dari buah mangrove, memasak cake dengan bahan dasar dari buah mangrove jenis Lindur (Bruguiera gymnorrhiza), pelatihan teknik pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove yang benar, diskusi mangrove dengan masyarakat Teluk Awur dan Tanggul Tlare berikut peserta MR 2009 yang berasal dari seluruh Indonesia, dan lain sebagainya.

Tunggu apa lagi? Ayo ajak keluarga dan teman-teman Anda untuk mengikuti MR 2009, sembari berlibur ke hutan mangrove Desa Teluk Awur Jepara, yang indah. Untuk pendaftaran MR 2009, bisa Anda baca selengkapnya di KeSEMaTONLINE www.kesemat.undip.ac.id. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Sunday, July 5, 2009

Kesibukan KeSEMaTERS Menjelang Mangrove REpLaNT 2009

Semarang – KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping, ini. Inilah foto kami pada saat tiga minggu menjelang Hari H pelaksanaan Mangrove REpLaNT 2009: Seminar Nasional, Pelatihan dan Penanaman Mangrove. Foto pertama (kiri atas) memperlihatkan para KeSEMaTERS sedang merapatkan berbagai hal detail, berkaitan dengan MR 2009, di Kantor KeSEMaT. Di Kantor kami yang kecil nan bersahaja, terletak jauh dari hingar bingar dan kebisingan jalanan Ngesrep – Semarang yang sibuk, yang berada di seputaran area kampus Universitas Diponegoro (UNDIP), para KeSEMaTERS bisa dengan nyaman bekerja siang-malam, mempersiapkan gelaran akbar MR 2009.

Rapat-rapat MR 2009, menjelang penyelenggaraan MR 2009, lebih difokuskan untuk mematangkan konsep acara dan konfirmasi beberapa buah proposal kegiatan dan sponsoship MR 2009 yang telah disebar jauh-jauh hari, sebelumnya. Tak hanya itu, rapat juga mendiskusikan tentang konsep koordinasi Panitia MR 2009, agar bisa menjamu Pembicara dan Peserta MR 2009 secara maksimal.

Maka, untuk persiapan “penjamuan” tersebut, Panitia MR 2009 yang sebagian besar adalah para mahasiswa dan generasi muda pecinta mangrove ini, rela mengisi hari liburnya untuk bekerja, bekerja dan bekerja demi mangrove dan “mengabaikan” hari liburan semesterannya bersama keluarganya. Sungguh, sebuah pekerjaan yang sangat mulia.

Tak hanya rapat, survei lokasi dan program sosialisasi MR 2009 ke berbagai pihak terkait, juga telah kami lakukan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik (lihat foto di atas).

Sampai dengan artikel ini ditulis, formulir pendaftaran Peserta MR 2009 sudah mulai kami terima, baik yang mendaftar secara langsung ke Kantor KeSEMaT, maupun via email di Jaringan KeSEMaTONLINE. Para calon Peserta MR 2009 berasal dari hampir seluruh wilayah di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan Papua. Mereka memiliki latar belakang yang berbeda seperti pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, LSM dan dinas pemerintah.

Selanjutnya, alasan mereka ingin mengikuti MR 2009 sangatlah beragam, namun rata-rata memiliki satu kesamaan, yaitu ingin mengetahui tentang metode pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove yang baik dan benar, untuk diimplementasikan di daerahnya masing-masing.

Sampai dengan tanggal 14 Juli 2009, Panitia MR 2009 masih memberikan kesempatan kepada para calon Peserta MR 2009 lainnya, yang berminat mengikuti program konservasi KeSEMaT yang bertujuan untuk memberikan pelatihan pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pembuatan makanan dan minuman mangrove, sekaligus juga untuk membantu masyarakat Desa Tanggul Tlare Jepara dalam menyelamatkan desa dan tambaknya dari gerusan abrasi. Ayo, daftar MR 2009, SEKARANG JUGA! Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Saturday, July 4, 2009

Sikap Apriori Terhadap Program dan Proyek Rehabilitasi Mangrove di Pesisir Indonesia

Semarang – KeSEMaTBLOG. Setelah membaca dan mencermati ratusan artikel yang ada di Jaringan KeSEMaTONLINE, muncul satu-dua pandangan sinis yang dilontarkan oleh para penikmat Jaringan KeSEMaTONLINE kepada sebagian pelaku Program dan Proyek Rehabilitasi Mangrove di Pesisir (P2RMP) negara ini, yang mereka “tuduh” tidak serius dalam menjalankan P2RMP, tersebut.

Mereka menganggap bahwa yang dilakukan oleh pelaku P2RMP itu, hanyalah sebuah jalan untuk mengeruk keuntungan semata yang mengatasnamakan P2RMP, - yang katanya dijalankan demi kesejahteraan kehidupan mangrove dan masyarakat pesisir - namun tanpa mendapatkan hasil yang maksimal.

Pandangan seperti ini, menurut hemat kami muncul, karena memang di lapangan seringkali terjadi P2RMP yang gagal, dimana kelulushidupan bibit-bibit mangrove menjadi sangat minimal, pun kehidupan masyarakat pesisir yang diawal P2RMP, dijanjikan oleh pelaku P2RMP akan meningkat, namun tak juga kunjung menampakkan kesejahteraannya.

Melihat hal ini, menurut hemat kami, para pelaku P2RMP sebenarnya (semoga saja) memiliki niat dan itikad yang baik untuk membantu keselamatan mangrove di pesisir-pesisir kita. Kalaupun pada akhirnya, di tengah jalan, P2RMP tersebut terkesan hanya main-main saja, dengan tanpa mengindahkan metode pembibitan, penanaman dan pemeliharaan bibit mangrove yang benar misalnya, maka seharusnya hal seperti itu dijadikan sebuah evaluasi dan pembelajaran yang sangat berharga bagi para pelaku P2RMP tersebut, sebelum menyelenggarakan P2RMP- P2RMP, selanjutnya.

Namun demikian, sikap apriori dari para penikmat Jaringan KeSEMaTONLINE kepada para pelaku P2RMP, kami rasa juga tidak harus dilakukan secara berlebihan mengingat para pelaku P2RMP sudah sangat bekerja keras dalam melaksanakan P2RMP, apalagi untuk mengkoordinasikan P2RMP kepada berbagai pihak yang terlibat, juga tidaklah mudah. Justru, yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah solusi atas sinisme mereka, agar para pelaku P2RMP bisa bekerja lebih baik lagi, di masa mendatang.

Adanya sebuah sikap bijaksana dari penikmat KeSEMaTONLINE dalam menghadapi kinerja yang tidak sempurna dari para pelaku P2RMP, bisa diwujudkan dengan cara memberikan komentar dan informasi berupa solusi yang membangun kepada para pelaku P2RMP dan tak hanya kritik, saja. Sikap bijaksana lainnya yang bisa juga ditunjukkan misalnya adalah dengan tidak menghakimi terlebih dahulu terhadap cara pembibitan yang asal-asalan, metode penanaman yang kurang benar, perijinan lokasi yang diabaikan, program pemeliharaan yang tidak dijalankan dan lain-lain, sebelum P2RMP benar-benar selesai dilaksanakan. Perlu disadari bahwa untuk mencapai kesempurnaan P2RMP dibutuhkan waktu. Dan, waktu itu tidaklah sebentar melainkan lama, menunggu sinkronisasi dari semua pihak yang terlibat dalam P2RMP dan pertumbuhan bibit-bibit mangrovenya, sendiri.

Sebagai penutup, dibalik “tuduhan tendensius” dari para penikmat KeSEMaTONLINE kepada para pelaku P2RMP, semoga saja hal ini tidak lantas mengurangi niat kita semua untuk selalu mendukung para pelaku P2RMP dalam menyelenggarakan P2RMP di pesisir Nusantara tercinta. Kita harus selalu mendukung mereka, bagaimanapun bentuk P2RMP-nya. Satu P2RMP yang dilaksanakan walaupun kurang berhasil, tentu saja akan lebih baik daripada kita tidak melakukan P2RMP sama sekali, apalagi tak melakukan tindakan apapun, padahal kita tahu bahwa mangrove di pesisir kita sudah sangat “sekarat” dan membutuhkan pertolongan, kita. Semoga ke depan, kita bisa lebih bijak dalam bersikap. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Friday, July 3, 2009

Lagi, Dua KeSEMaTERS Meraih Penghargaan Internasional dari BAYER Jerman dan PEMSEA Philipina

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada bulan Juli 2009 ini, lagi-lagi KeSEMaT mencetak prestasi membanggakan berupa penghargaan tingkat internasional karena dua orang anggotanya, yaitu para KeSEMaTERS telah berhasil meraih prestasi internasionalnya. Kedua KeSEMaTERS tersebut adalah Arief Marsudi Harjo – Arief (KAK) dan Sapto Pamungkas – Sapto (Alumni) yang berturut-turut menjadi finalis dalam kompetisi “The Ocean, My Community, The Coast - The East Asian Seas Congress Regional Photo Contest” (EASCRPC) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Negara Philipina yang bekerjasama dengan PEMSEA dan “Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2009” yang diselenggarakan oleh BAYER Jerman bekerjasama dengan United Nations Environment Programme (UNEP).

EASCRPC merupakan kompetisi fotografi internasional yang diadakan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan semangat mencintai alam dan ekosistem pesisir di tiap-tiap negara kepulauan di seluruh dunia terutama di Asia Tenggara. Lomba ini diikuti tak kurang dari puluhan peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, Philipina, Malaysia, Singapura, Vietnam dan lain sebagainya yang dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pemula, hobby dan profesional.

Dalam kompetisi EASCRPC ini, Arief berhasil menjadi finalis setelah menyisihkan pesaingnya dari puluhan negara, dengan karya fotografinya yang berjudul “The Mangrove and The Sunset” – TMTS - (lihat foto Arief: kanan bawah dan hasil fotografinya: kiri bawah) untuk kategori pemula, sehingga mendapatkan hadiah berupa pena dan tas eksklusif dari PEMSEA Philipina serta berhak untuk maju ke babak penjurian selanjutnya. Foto TMTS ini juga akan dicetak dalam Kalender PEMSEA 2009, Majalah Tropical Coast International, dan dipublikasikan dalam Website PEMSEA serta menjadi salah satu fotografi yang dimasukkan dalam setiap souvenir Seminar Internasional PEMSEA tentang Pesisir yang akan diselenggarakan oleh Pemerintah Philipina di bulan November 2009, mendatang.

Selanjutnya, BYEE merupakan program tahunan yang diadakan oleh BAYER Jerman bekerjasama dengan UNEP. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada kaum muda cemerlang di Indonesia, yang memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan hidup serta memperlihatkan komitmen tinggi terhadap pelestarian lingkungan untuk mempelajari teknologi, fasilitas dan praktik-praktik yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, yang saat ini tersedia di Jerman.

Setelah di tahun 2008, Muhamad Ikhsan Sri Hartadi (Alumni) berhasil menjadi Finalis BYEE 2008, kini Sapto (lihat foto Sapto: kanan atas dan sesaat setelah wawancara 12 besar di Kantor BAYER Jakarta: kiri atas) mencapai prestasi yang sama dalam BYEE 2009. Setelah berhasil menyisihkan pesaingnya dan terpilih menjadi 30 besar, Sapto kembali berhasil menyisihkan para mahasiswa dari berbagai Universitas dari seluruh Indonesia, seperti Prasetya Mulya Business School, Institut Teknologi Sepuluh November, Institut Teknologi Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Tanjungpura, Universitas Jember, Institut Pertanian Bogor, Universitas Hasanuddin, Universitas Paramadina, Universitas Sanata Dharma, Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Katholik Soegijapranata dan Universitas Trunojoyo, untuk kemudian masuk menjadi finalis 12 besar.

Kedua belas finalis BYEE 2009 berasal dari UNDIP yang satu-satunya diwakili oleh Sapto Pamungkas, Institut Teknologi Bandung, Prasetya Mulya Business School, Universitas Indonesia, Universitas Tanjungpura, Universitas Jember, dan Institut Pertanian Bogor. Setelah terpilih menjadi finalis BYEE 2009, Sapto yang mengusung tema proposal-mangrove berjudul “Mangrove Camp: How to be a Farmer of Mangrove, a Producer of Mangrove Soap and a Chef of Mangrove Fruits” akan segera mengimplementasikan program Mangrove Camp di Mangrove REpLaNT (MR) 2009 yang akan diselenggarakan oleh KeSEMaT pada tanggal 24-26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara. Setelah itu, Sapto juga akan mengikuti ECOCAMP sebagai salah satu rangkaian BYEE di Bogor pada bulan Oktober 2009, mendatang.

Atas prestasi kedua KeSEMaTERS ini, Keluarga Besar KeSEMaT dan Civitas Akademika UNDIP mengucapkan selamat, dukungan penuh dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Sapto dan Arief yang telah berhasil mengharumkan dan mengangkat nama KeSEMaT, UNDIP dan tema mangrove ke dunia internasional sehingga salah satu moto KeSEMaT, yaitu KAMPANYE, lagi-lagi tercapai dan mencapai keberhasilan tertingginya. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Dua Pendekatan Proyek Rehabilitasi Mangrove

Semarang – KeSEMaTBLOG. Apabila kita bekerja dalam dunia mangrove, maka setidaknya terdapat dua buah pendekatan dalam proyek rehabilitasi mangrove yang ada di negeri ini. Ada satu institusi yang seringkali menjalankan proyeknya dengan cara menyosialisasikan anggarannya terlebih dahulu, baru kemudian memberitahukan konsep proyek rehabilitasi mangrovenya ke masyarakat. Sementara itu, ada juga institusi lainnya yang lebih memilih untuk mengedepankan program sosialisasinya terlebih dahulu, baru kemudian menginformasikan tentang anggarannya.

Tak berusaha untuk membandingkan mana yang lebih baik, memang kedua konsep ini, sejatinya sah-sah saja apabila diterapkan. Toh, tujuan akhirnya adalah sama, demi menyejahterakan kehidupan masyarakat pesisir kita.

Namun, kiranya perlu diingat bahwa apabila pilihan pertama yang dijalankan, maka sebuah kekhawatiran akan adanya ketidaktulusan dalam menjalankan proyek rehabilitasi mangrove, kecuali karena uang semata, kiranya patut dicatat dengan tinta merah. Anggaran dana yang dilontarkan duluan, agaknya akan menjadikan sebuah iming-iming besar yang bisa saja mengaburkan jiwa-jiwa swadaya masyarakat pesisir.

Hal seperti ini, dalam jangka panjang ditakutkan akan bisa merubah persepsi masyarakat akan pentingnya sikap berswadaya dan bergotong royong dalam mengelola kawasan pesisirnya. Padahal, setiap kali diadakan, tujuan utama proyek rehabilitasi mangrove adalah untuk memupuk jiwa gerakan moral masyarakat pesisir kita agar mau dan mampu berusaha mengelola kawasan pesisirnya dengan usahanya sendiri tanpa terlalu menggantungkan bantuan orang lain.

Selanjutnya, pilihan kedua, sepertinya lebih tepat untuk dilakukan karena sangat membuka kesempatan bagi hadirnya sebuah inisiatif dari warga pesisir sendiri untuk mau bekerja secara mandiri tanpa mengandalkan uang semata. Tanpa diiming-imingi dengan anggaran, sebuah data tentang kondisi ekosistem mangrove yang ada di daerah mereka yang disosialisasikan terlebih dahulu, diharapkan bisa memancing reaksi mereka untuk bersikap proaktif dalam memecahkan permasalahan sehingga timbul rasa tanggung jawab terhadap alam pesisirnya dengan usahanya sendiri.

Sebuah kasus yang bisa dipastikan terjadi apabila pilihan pertama kita ambil adalah setelah proyek rehabilitasi mangrove selesai dijalankan - misalnya tiga tahun - maka, masyarakat dikhawatirkan akan malas menjaga kelulushidupan bibit-bibit mangrovenya karena dana sudah habis untuk membiayai jasa mereka dalam memelihara bibit-bibit mangrove, tersebut.

Sebaliknya, apabila pilihan kedua yang dipilih, maka walaupun dana telah habis untuk membayar honor warga dalam menjaga mangrove-mangrovenya, maka hal ini tidaklah menjadi sebuah masalah, karena warga bisa meneruskan program pemeliharaan mangrovenya secara mandiri dengan usahanya sendiri.

Pertanyaannya sekarang, pendekatan proyek rehabilitasi mangrove manakah yang akan kita pilih (?). Kami rasa, Anda sendiri sudah mengetahui mana pilihan yang lebih bijak. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

Tuesday, June 30, 2009

KeSEMaT Menghadiri Sosialisasi PNPM M-KP DKP Semarang dan CV Nirmana di Tugurejo

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 29 Juni 2009, KeSEMaT menghadiri acara Sosialisasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan (PNPM M-KP) yang diinisiasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Kota (PEMKOT) Semarang, bekerjasama dengan CV Nirmana Semarang selaku pihak Rekanan. Acara dilaksanakan di Kantor Kelurahan Tugurejo Semarang, mulai pukul 19.00 WIB - 23.00 WIB.

Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Oky Yuripa Pradana (Anggota), Faradhian Fahmi (DP), Arief Marsudi Harjo (KAK) dan Aris Priyono (DK).

Sosialisasi diawali dengan kata sambutan dari Kepala Dinas DKP PEMKOT Semarang, Direktur CV Nirmana dan presentasi materi dari DKP PEMKOT Semarang dan CV Nirmana. Setelah presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan pembentukan kelompok kerja PNPM M-KP di wilayah Tugurejo, Semarang. Sosialisasi dihadiri oleh kurang lebih 30 orang warga Desa Tugurejo dan para tamu undangan.

Dalam kesempatan ini, KeSEMaT yang hadir selaku tamu undangan memberikan informasi kepada CV Nirmana mengenai kondisi mangrove di Tugurejo yang akan dijadikan daerah percontohan program nasional PNPM M-KP 2009. Sebuah penjajakan kerjasama bersama antara CV Nirmana dengan KeSEMaT sangat dimungkinkan terealisasi, untuk menyukseskan program PNPM M-KP 2009, ini.
Selengkapnya...

KeSEMaT Menyosialisasikan Mangrove REpLaNT 2009 ke Mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 28 Juni 2009, KeSEMaT telah melakukan sosialisasi Mangrove REpLaNT (MR) 2009 kepada para mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan (JIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Sosialisasi dimulai pada pukul 09.30 WIB – 10.00 WIB. Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Oky Yuripa Pradana (Anggota), Tutus Wijanarko (Anggota), Abdul Muis (Anggota), Afirman Karyono (Anggota), Hilyati Fajrina (Anggota) dan Aurora Hanifa. Sosialisasi dilakukan di ruang kuliah mahasiswa JIK UNDIP lantai III.

Sosialisasi diawali dengan kata sambutan dari KeSEMaTERS yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi berupa informasi MR 2009. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tanya jawab seputar MR 2009, berikut tata cara pendaftarannya baik secara langsung maupun online di internet. Dalam kesempatan ini, para mahasiswa JIK UNDIP selaku tuan rumah, menyambut baik penyelenggaraan MR 2009 dan menyatakan kesanggupannya untuk berpartisipasi dalam MR 2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 – 26 Juli 2009 di Teluk Awur, Jepara.
Selengkapnya...

Saturday, June 27, 2009

KeSEMaT dan ASTRA Semarang Melakukan Penanaman Mangrove di Desa Tapak, Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 27 Juni 2009, KeSEMaT dan FIF ASTRA Semarang, telah melakukan penanaman sebanyak 2000 bibit mangrove di Desa Tapak, Tugurejo - Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerjasama antara FIF ASTRA Semarang dengan KeSEMaT. Turut serta dalam acara ini, yaitu perwakilan dari Yayasan BINTARI, kelompok tani nelayan dan petambak setempat, kelompok mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Green Community) dan masyarakat setempat.

Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Indriatmoko (Presiden), Farhan Pramudito (MENPORSI), Abdul Rohman Zaky (MENDIKTAN), Oky Yuripa Pradana (Anggota), Yulia Ulfah (Anggota), Faradhian Fahmi (DP) dan Sapto Pamungkas (Alumni).

Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pembukaan acara yang dibuka oleh Pimpinan dan Manajer FIF ASTRA, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari KeSEMaT, BINTARI dan masyarakat Desa Tapak. Acara selanjutnya adalah doa bersama dan pengarahan tata cara penanaman mangrove yang dilakukan oleh KeSEMaT diwakili oleh Sapto Pamungkas (Alumni), supaya dalam penanaman bibit mangrove bisa dilaksanakan dengan baik dan benar. Hal ini, tentunya dilakukan agar bibit mangrove yang ditanam bisa mempunyai kelulushidupan yang tinggi.

Jenis mangrove yang ditanam dalam acara ini yaitu Rhizophora mucronata dan R. apiculata. Penanaman dilakukan di sepanjang kanan-kiri sungai yang mengarah ke laut sepanjang kurang lebih lima ratus meter. Karena begitu banyaknya peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara ini, yaitu sekitar tujuh puluhan peserta yang begitu antusias dalam melakukan penanaman, maka penanaman 2000 bibit mangrove dapat terselesaikan dalam waktu tiga jam, yaitu pukul 11.00 WIB.

Setelah penanaman selesai, acara dilanjutkan dengan istirahat, bersih-bersih dan makan bersama. Selesai istirahat, FIF ASTRA, KeSEMaT dan BINTARI menyempatkan diri untuk melakukan survei ke luar tambak mengarah ke pantai yang sudah hilang dengan menggunakan transportasi perahu yang telah disediakan oleh warga setempat. Survei ini dilakukan dalam rangka penjajakan kerjasama ke depan, antara tiga institusi ini, di masa mendatang.

Di dalam perjalanan menyusuri sungai menuju ke laut, terlihat tambak-tambak yang dahulunya tidak terendam oleh air laut sekarang sudah mulai terendam oleh air laut ketika pasang. Hal ini karena daerah tambak tak terlindungi dengan hutan mangrove sehingga gelombang laut dengan leluasa merendam dan merusak area pertambakan. Maka, program penanaman mangrove yang telah dilakukan ini, bertujuan untuk menanggulangi hal-hal tersebut, di atas.

Rekomendasi dari kegiatan ini adalah sebuah harapan agar lebih banyak lagi pihak-pihak swasta yang mau peduli terhadap lingkungan khususnya dalam hal penanaman dan pemeliharaan tumbuhan mangrove sehingga dapat mengatasi masalah-masalah lingkungan yang terjadi saat ini dan untuk yang akan datang. Acara diakhiri dengan foto bersama oleh FIF ASTRA, KeSEMaT, BINTARI, para peserta penanaman mangrove dan warga Desa Tapak, Tugurejo - Semarang.
Selengkapnya...

Friday, June 26, 2009

Abrasi Pantai Teluk Awur Jepara: 3 Meter Setiap Tahun!

Jepara – KeSEMaTBLOG. Abrasi Pantai Teluk Awur Jepara: 3 Meter Setiap Tahun! Tentunya, kabar ini bukanlah isapan jempol belaka. Sebuah penghitungan telah dilakukan oleh para KeSEMaTERS dengan cara membandingkan peta topografi tahun 1963 dengan tahun 2001. Hasilnya, selama kurun waktu 38 tahun itu, didapatkan angka abrasi sebesar 110,23 meter. Dan, apabila angka ini dirata-rata, maka mulai dari tahun 1963 sampai dengan tahun 2001, abrasi yang telah terjadi adalah sejauh 2,9 (3) meter per tahun.

Anda bisa bayangkan sendiri, pesisir pantai Teluk Awur Jepara itu, selama ini telah terkikis oleh abrasi selebar 3 meter per tahun. Sungguh, sebuah fakta yang sangat mengerikan! Padahal, di tempat ini, tumbuh berbagai flora dan fauna mangrove yang sangat penting demi menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang masih tersisa di sana.

Untunglah, abrasi sebesar itu, dapat ditangkal dengan rapatnya perakaran vegetasi mangrove yang tumbuh lebat di sana, berkat program-program penanaman mangrove setiap tahun, yang dilaksanakan oleh KeSEMaT mulai dari tahun 2003 sampai dengan sekarang (2009). Kami tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya apabila KeSEMaT tidak “mencuri start” untuk melakukan inisiasi penanaman mangrove massal di setiap tahunnya, yang melibatkan ribuan bibit dan ratusan orang. Maka, bisa jadi di tahun 2009 ini, kondisi pantai Teluk Awur Jepara itu, tak bisa lagi dinikmati keindahannya. Namun, untunglah hal yang tersebut terakhir ini, tidak pernah terjadi.

Namun begitu, sebenarnya kami sangat mengkhawatirkan kondisi akar-akar Rhizophora yang terletak di bagian paling depan, pantai Teluk Awur, itu. Kami lihat, akar-akarnya sudah banyak sekali yang patah dan “rontok,” terterjang gelombang laut yang sangat dahsyat. Kami berharap sembari terus berdoa, semoga saja, akar-akar mangrove “Rhizophora-depan” ini, bisa terus kuat dalam menahan hempasan ombak yang bertubi-tubi.

Dan, selain terus bekerja menanam ribuan bayi mangrove lagi di sekitarnya, kami juga terus memujaNya agar menumbuhkan “dengan cepat” ribuan batang-batang mangrove muda yang ada di belakang “Rhizophora-depan” supaya bisa membantunya dan siap menggantikannya dalam meredam gelombang dan membuat daratan baru, sewaktu-waktu ajal “Rhizophora-depan,” dijemput olehNya. Dengan demikian, harapan agar persentase abrasi yang 3 meter per tahun bisa dicegah lajunya, akan semakin besar dan besar, lagi. Amin. Kami mohon doa dan dukungan dari semua pihak. Salam MANGROVER!
Selengkapnya...

KeSEMaT dan ASTRA Semarang Mendistribusikan Bibit Mangrove ke Desa Tapak Semarang

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 26 Juni 2009, KeSEMaT dan CSR ASTRA Semarang, telah melakukan pendistribusian bibit mangrove ke Desa Tapak, Semarang. Pendistribusian bibit mangrove ini, dilakukan dalam rangka persiapan program penanaman mangrove yang diinisiasi oleh ASTRA Semarang dengan pendampingan dari KeSEMaT, yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2009, mulai pukul 08.00 WIB.

Pendistribusian bibit mangrove dimulai pada pukul 08.00 WIB – 19.00 WIB. Pada kesempatan ini, KeSEMaT diwakili oleh Arief Marsudi Harjo (KAK) dan Dhira Kurniawan Saputra (Alumni). Sementara itu, dari pihak ASTRA, diwakili oleh Bapak Heru dan beberapa personil CSR ASTRA.

Pendistribusian bibit mangrove diawali dengan pembelian bibit mangrove jenis Rhizophora spp dan Avicennia spp, berikut ajirnya ke petani mangrove setempat, yang kemudian diikuti dengan pendistribusiannya dengan menggunakan dua buah mobil ke Desa Tapak, Semarang. Prosesi pendistribusian ini, tak hanya dilakukan oleh KeSEMaTERS dan CSR ASTRA saja, melainkan juga melibatkan masyarakat sekitar lokasi dan beberapa petani tambak di Desa Tapak.

Pelibatan masyarakat ini, dirasa sangat perlu oleh KeSEMaT, demi menjaga keberlangsungan dan kelulushidupan bibit-bibit mangrove setelah dilakukan seremonial penanaman yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2009. Direncanakan, pembukaan penanaman mangrove akan dihadiri oleh berbagai pihak seperti KeSEMaT, ASTRA, Yayasan BINTARI, para petinggi Desa Tapak, LSM setempat, para petani tambak Desa Tapak dan masyarakat sekitar.
Selengkapnya...

Terima Kasih KeMANGTEER. Bibit-bibit Mangrove MANGRES 2008 Kita, 95% Hidup!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 20 Juni 2009, di saat kami melakukan survei lokasi penanaman mangrove ke dua lokasi, yaitu Trimulyo dan Tugu, Semarang untuk menindaklanjuti kerjasama penanaman mangrove antara KeSEMaT dengan CSR ASTRA Semarang, kami sungguh sangat sangat sangat bersyukur kepada-Nya karena sang Dia telah menganugerahi kami dengan sebuah hadiah yang tak bisa terhitung harganya.

Apakah hadiah yang begitu berharga itu? Tak lain dan tak bukan adalah kelulushidupan bibit-bibit hasil Mangrove Restoration (MANGRES) 2008 kami di Trimulyo, yang bisa hidup sangat maksimal hingga mencapai angka 95%! Alhamdulillah.

Lihatlah foto di atas ini. Apabila Anda cermati, dua buah foto yang paling atas adalah sebuah pemandangan di saat KeSEMaTERS dan KeMANGTEER, bekerja bersama-sama dalam menanami sebuah lahan gersang di pesisir pantai Trimulyo yang dijejali dengan tambak-tambak tak produktif yang telah ditinggalkan sang Empunya, pada bulan Juli 2008 lalu, lewat program konservasi KeSEMaT bertajuk MANGRES 2009 yang bekerjasama dengan PT BAYER Indonesia. Tak kurang dari lima puluhan KeMANGTEER dan puluhan KeSEMaTERS, ikut terlibat dalam usaha penanaman mangrove yang dilandasi jiwa gerakan moral, ini.

Dan, selanjutnya, dua buah foto yang di bawah adalah hasil jepretan KeSEMaTERS pada tanggal 20 Juni 2009, ini. Dua buah foto ini memperlihatkan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan, dimana 95% bayi-bayi mangrove yang telah ditanam kurang lebih setahun yang lalu itu, tumbuh dengan sangat sangat baik, tegap dan kokoh, seolah siap menjalankan tugasnya (baca: kerjaannya) dalam menghadapi gelombang laut Trimulyo yang lumayan keras, hantamannya.

Mengetahui hasil yang sangat menggembirakan ini, tentunya tak henti-hentinya kami bersyukur kepada-Nya dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada para KeMANGTEER dan masyarakat Trimulyo yang dengan setia telah mendampingi KeSEMaT dalam setiap usaha rehabilitasi mangrovenya di berbagai daerah di Jawa Tengah. Hasil ini terasa sangat istimewa, karena sejatinya, bibit yang kami tanam ini adalah bibit mangrove sisa-sisa pengerukan oleh sebuah oknum dinas yang kurang bertanggung jawab atas kelestarian pesisir di Semarang, yang berhasil kami selamatkan.

Dari 6000 buah bibit mangrove yang kami tanam bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang melalui program Mangrove Conservation (MANGCON) 2007, yang kemudian dikeruk oleh oknum tersebut, 1000 buah yang masih tersisa akhirnya berhasil kami selamatkan dan bisa hidup dengan baik hingga artikel ini kami tuliskan.

Lihatlah kembali foto di atas, bayi-bayi mangrove yang berdiri kokoh itu adalah 1000 buah bibit mangrove yang dulunya hampir saja menghembuskan nafas terakhirnya. Namun, untunglah KeSEMaTERS, KeMANGTEER dan masyarakat sekitar Trimulyo berhasil menyelamatkannya dengan memindahkan lokasi penanamannya di lokasi MANGRES 2008. Ditambah dengan penyulaman 5000 buah bibit mangrove baru yang diusahakan oleh KeSEMaT di MANGRES 2008, maka lunaslah hutang kami terhadap mangrove. Setidaknya, 5000 bayi mangrove yang “dibunuh” oleh sang Oknum, berhasil kami “hidupkan” kembali di Juni 2009, ini. Amin.

Maka, pada kesempatan yang baik ini, sekali lagi KeSEMaT ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah turut serta secara langsung maupun tidak langsung dalam menyukseskan MANGRES 2008, yang dilaksanakan setahun yang lalu. Ucapan terima kasih tak terhingga, kami tujukan kepada para KeMANGTEER yang tak pernah lelah apalagi takut dalam menghadapi pesisir Trimulyo yang ganas yang penuh pecahan kaca, sangat terik, tak ada air bersih untuk berganti dan mandi, dan berbagai keganasan lainnya. Thank you, Guys! Kita berhasil “menghidupkan kembali” ribuan bayi mangrove!
Selengkapnya...