Kawasan Mangunharjo yang berada di Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng) bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan ruang hidup yang telah
mengalami tekanan ekologis dalam waktu panjang. Gelombang laut yang semakin agresif,
penurunan lahan pesisir, dan hilangnya vegetasi mangrove membuat wilayah ini berada
pada titik kritis. Di tengah kondisi yang terus berubah, KeSEMaT hadir membawa misi
pemulihan melalui pendekatan yang lebih berkelanjutan: menanam, mendata, dan
menjaga.
Para peserta yang dilibatkan KeSEMaT dalam program ini tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga diajak memahami bagaimana
mangrove berperan sebagai penyimpan karbon biru yang sangat besar. Diskusi ringan
mengenai ekologi pesisir, praktik pengukuran pertumbuhan bibit, hingga metode
sederhana menilai kesehatan mangrove menjadi bagian penting dari kegiatan. Pendekatan
ini memberikan ruang bagi peserta untuk melihat bahwa konservasi bukan hanya rutinitas
menanam bibit, tetapi proses panjang yang memerlukan pengetahuan, komitmen, dan
keberlanjutan.
Sdr. Muhammad Faris Rahman (Presiden), menekankan bahwa gerakan pemulihan
pesisir harus terus diperkuat, terutama oleh generasi muda yang hari ini memegang peran
penting dalam isu perubahan iklim.
“Kegiatan kami mulai dari pukul 07.00 - 12.00 WIB yang diikuti oleh relawan, warga binaan, mitra kerja, alumni, dan kolega kami. Mangrove adalah fondasi perlindungan pesisir kita. Ketika kita menanamnya, sebenarnya kita sedang menanam masa depan yang lebih baik bagi daerah pesisir. Upaya ini adalah bukti bahwa mahasiswa mampu menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengamat. Kami percaya kegiatan penanaman dan pemantauan 10.00 bibit mangrove ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendukung target FOLU Net Sink 2030 di SMC Jateng,” ungkap Sdr. Faris.
Sementara itu, Sdr. Jieo Pandu Maulana (MENPORSI) menambahkan bahwa kegiatan ini tidak lahir dari
sekadar kebutuhan program, tetapi dari kepedulian terhadap kondisi pesisir yang semakin
rentan.
“Setiap tahun, kami melihat perubahan nyata di Mangunharjo, ada tanah yang hilang,
gelombang yang semakin masuk, dan masyarakat yang terdampak. Melalui kegiatan ini,
kami ingin mengajak lebih banyak pihak untuk memahami bahwa rehabilitasi mangrove
adalah proses panjang, bukan aktivitas satu hari. Kami ingin memastikan bahwa setiap
bibit yang kami tanam benar-benar tumbuh dan memberi dampak di SMC Jateng,” jelasnya.
Lebih dari menjadi agenda tahunan, kegiatan ini diharapkan mampu membuka jalan bagi
kerja sama yang lebih besar dengan masyarakat, komunitas lingkungan, hingga
pemerintah setempat. KeSEMaT meyakini bahwa pemulihan pesisir hanya akan berhasil
apabila dilakukan secara kolektif dan konsisten, mengingat tantangan perubahan iklim
semakin kompleks dari tahun ke tahun.
Dengan semangat kolaboratif, KeSEMaT menegaskan kembali komitmennya untuk terus
memperkuat upaya konservasi berbasis ilmiah dan pemberdayaan. Harapannya,
rehabilitasi mangrove di Mangunharjo, SMC Jateng tidak hanya menghasilkan vegetasi baru, tetapi juga
menghadirkan harapan, ketahanan pesisir, dan kontribusi nyata bagi masa depan
lingkungan Indonesia. (JPM/ADM).
No comments:
Post a Comment