14.4.26

KeSEMaT Perkuat Restorasi Pesisir melalui Penanaman dan Pemantauan 10.000 Mangrove di Pantai Mangunharjo untuk Mendukung Target FOLU Net Sink 2030

Semarang - KeSEMaTBLOG. Komitmen Indonesia menuju Forest and Other Land Uses Net Sink 2030 (FOLU Net Sink 2030) kembali mendapatkan energi baru dari gerakan mahasiswa. Di tengah meningkatnya ancaman abrasi di pesisir utara Jawa, KeSEMaT sebagai salah satu lembaga penerima dana FOLU Net Sink 2030 sukses mengimplementasikan program “Rehabilitasi Pantai Mangunharjo, Semarang melalui Penanaman dan Pemantauan Mangrove sebagai Upaya Mitigasi Abrasi dan Jejak Emisi Karbon”. Program ini dirancang untuk menggabungkan aksi konservasi, edukasi ilmiah, dan partisipasi publik dalam satu rangkaian kegiatan yang menyeluruh. (29/11/2025).

Kawasan Mangunharjo yang berada di Semarang Mangrove Center (SMC) Jawa Tengah (Jateng) bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan ruang hidup yang telah mengalami tekanan ekologis dalam waktu panjang. Gelombang laut yang semakin agresif, penurunan lahan pesisir, dan hilangnya vegetasi mangrove membuat wilayah ini berada pada titik kritis. Di tengah kondisi yang terus berubah, KeSEMaT hadir membawa misi pemulihan melalui pendekatan yang lebih berkelanjutan: menanam, mendata, dan menjaga.

Para peserta yang dilibatkan KeSEMaT dalam program ini tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga diajak memahami bagaimana mangrove berperan sebagai penyimpan karbon biru yang sangat besar. Diskusi ringan mengenai ekologi pesisir, praktik pengukuran pertumbuhan bibit, hingga metode sederhana menilai kesehatan mangrove menjadi bagian penting dari kegiatan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi peserta untuk melihat bahwa konservasi bukan hanya rutinitas menanam bibit, tetapi proses panjang yang memerlukan pengetahuan, komitmen, dan keberlanjutan.

Sdr. Muhammad Faris Rahman (Presiden), menekankan bahwa gerakan pemulihan pesisir harus terus diperkuat, terutama oleh generasi muda yang hari ini memegang peran penting dalam isu perubahan iklim.

“Kegiatan kami mulai dari pukul 07.00 - 12.00 WIB yang diikuti oleh relawan, warga binaan, mitra kerja, alumni, dan kolega kami. Mangrove adalah fondasi perlindungan pesisir kita. Ketika kita menanamnya, sebenarnya kita sedang menanam masa depan yang lebih baik bagi daerah pesisir. Upaya ini adalah bukti bahwa mahasiswa mampu menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengamat. Kami percaya kegiatan penanaman dan pemantauan 10.00 bibit mangrove ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendukung target FOLU Net Sink 2030 di SMC Jateng,” ungkap Sdr. Faris.

Sementara itu, Sdr. Jieo Pandu Maulana (MENPORSI) menambahkan bahwa kegiatan ini tidak lahir dari sekadar kebutuhan program, tetapi dari kepedulian terhadap kondisi pesisir yang semakin rentan.

“Setiap tahun, kami melihat perubahan nyata di Mangunharjo, ada tanah yang hilang, gelombang yang semakin masuk, dan masyarakat yang terdampak. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak lebih banyak pihak untuk memahami bahwa rehabilitasi mangrove adalah proses panjang, bukan aktivitas satu hari. Kami ingin memastikan bahwa setiap bibit yang kami tanam benar-benar tumbuh dan memberi dampak di SMC Jateng,” jelasnya. 

Lebih dari menjadi agenda tahunan, kegiatan ini diharapkan mampu membuka jalan bagi kerja sama yang lebih besar dengan masyarakat, komunitas lingkungan, hingga pemerintah setempat. KeSEMaT meyakini bahwa pemulihan pesisir hanya akan berhasil apabila dilakukan secara kolektif dan konsisten, mengingat tantangan perubahan iklim semakin kompleks dari tahun ke tahun.

Dengan semangat kolaboratif, KeSEMaT menegaskan kembali komitmennya untuk terus memperkuat upaya konservasi berbasis ilmiah dan pemberdayaan. Harapannya, rehabilitasi mangrove di Mangunharjo, SMC Jateng tidak hanya menghasilkan vegetasi baru, tetapi juga menghadirkan harapan, ketahanan pesisir, dan kontribusi nyata bagi masa depan lingkungan Indonesia. (JPM/ADM).

No comments:

Post a Comment