4.2.08

Dicari! Orang yang Berani Membuat Majalah Mangrove!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Majalah Olahraga? Banyak. Majalah Budaya? Ada. Majalah Hiburan? Bejibun! Majalah Flora dan Fauna? Baru saja tumbuh. Majalah Mangrove (MM)? Mungkin belum ada. Kalau saja ada, saya sendiri ragu, apakah ada orang yang mau membeli dan membacanya? Pun, saya pikir para penerbit juga tak akan mencetaknya dalam jumlah yang banyak. Mengapa? Karena bagi sebagian orang, informasi mengenai mangrove sangatlah segmented. Hanya disukai dan hanya bisa dinikmati oleh beberapa orang saja. Makanya, kalau dicetak dan dijual, pasti juga tak akan mendatangkan banyak keuntungan alias tak mampu mengeruk cukup rupiah.

Tapi, saya yakin, di Indonesia, MM yang dijual secara komersil, memang belum ada. Yang ada hanyalah informasi dan berita-berita proyek mangrove (baca: buletin mangrove) yang dikerjakan oleh masing-masing organisasi terkait. Itupun terpecah-pecah dan terpisah-pisah, dicetak dan diedarkan oleh organisasi-organisasi lingkungan seperti DKP, WWF, KEHATI, WALHI, WI-IP, termasuk KeSEMaT sendiri.

Tak salah memang, apabila informasi mangrove tak banyak dibutuhkan orang. Rata-rata, kita ini lebih tertarik memperhatikan permasalahan antar sesama manusia saja dan malas sekali “melirik” hubungan kita dengan alam. Kalau saja, kita tahu apa itu mangrove berikut fungsinya buat pesisir, itupun juga tak akan banyak berpengaruh bagi kita. Mangrove tak layak buat disimak. Kita ini seolah mengingkari fakta begitu besarnya jasa mangrove bagi kita.

Namun, kita juga tidak boleh menyalahkan masyarakat. Mungkin benar, “para produsen” yang mengedarkan informasi mangrove belum bisa memoles artikel-artikel mangrove menjadi sebuah bahan bacaan yang baik. Anggapan sebagian orang yang menganggap buletin-buletin mangrove disajikan dalam kemasan yang sangat formal, tak menarik dan kurang memperhitungkan komposisi warna, agaknya layak diperhitungkan.

Lepas dari ada tidaknya MM, kalau saja ada orang yang mau mulai membuatnya, saya yakin tak akan rugi. Banyak berita dan informasi yang bisa digali dari mangrove. Salah satunya mengenai kuliner mangrove yang tentunya akan sangat dinanti oleh mereka yang ingin mengembangkan jiwa wirausahanya. Selanjutnya, kita juga tak perlu takut kehilangan bahan untuk menulis tentang mangrove. Begitu banyak artikel yang bisa ditulis untuk “dibagikan” kepada masyarakat. Lihatlah foto bunga Lumnitzera racemosa di atas. Bentuknya yang indah dan cantik, tak kalah dengan Anturium yang saat ini begitu digilai.

Kalau saja, ada teman-teman dari penerbitan yang mau menginisiasi lahirnya MM, masih banyak area yang bisa digali dan dikembangkan mengingat berita dan pengetahuan mangrove, saat ini masih terkesan disajikan dengan cara yang sangat formal sehingga terkesan sangat tidak manarik Dengan sedikit polesan dan variasi artikel bergambar kertas lux, dan permainan warna yang lebih ngejreng, saya yakin, MM akan merupakan sebuah ladang bisnis yang sangat menarik.

Pertanyannya sekarang. Adakah orang yang berani membuat MM?