6.7.07

Sinergitas Pembangunan Mangrove Indonesia

Semarang - KeSEMaTBLOG. Demonstrasi yang terjadi pada saat Kongres Rakyat Indonesia kemarin, sepertinya membuat pemerintah (baca: DEPHUT) berang, ya. Namun yakinlah, tak ada sedikitpun niat dari rekan-rekan lingkungan itu untuk “berani” kepada pemerintah. Kalau ada sikap yang terasa “sangat radikal” dan keterlaluan, itu hanyalah masalah “teknis penyampaian” saja. Memang seperti itulah, style alias gaya penyampaian sebagian rekan-rekan lingkungan itu. Selanjutnya, saya pikir itu adalah representasi dari kekesalan mereka setelah beberapa waktu lamanya, belum juga mendapatkan jawaban yang tepat dan pas dari pemerintah dalam mengatasi lingkungan hidup terutama masalah lumpur LAPINDO yang berlarut-larut.

Ya, harap dijadikan maklum, saja. Namun sekali lagi, yakinlah, sebenarnya sama sekali mereka tak ada maksud memojokkan pemerintah. Orang kita ini sama tujuan dan satu misi, kok. Berjuang untuk menyelamatkan lingkungan hidup Indonesia, demi masa depan generasi mendatang.

Kepada rekan-rekan lingkungan, saya menghimbau untuk tidak terlalu “radikal” dalam menyampaikan pendapat kita. Terasa lebih bersahaja, apabila kita berdiskusi secara baik-baik kepada pemerintah. Kemudian, jangan bisanya mengkritik saja, tapi ayo bersama-sama memberikan solusi dan melakukannya. Melakukan dan mempraktekan solusi-solusi itu, demi membangun lingkungan hidup kita ke arah yang lebih baik lagi.

Selebihnya, jangan juga terlalu banyak berharap kepada pemerintah kita. Kita tahu lah, bahwa sistem peraturan lingkungan hidup di negara kita ini sedang dalam proses menuju kesempurnaannya. Tak bijak kiranya, kalau kita mendemo dan mengkritik pemerintah dengan tujuan penuntutan kesempurnaan peraturan lingkungan, yang mungkin sudah dicapai oleh pemerintah di negara lainnya. Biarkanlah prosesnya berjalan dulu. Kita juga harus bantu.

Lalu, jangan suka membanding-bandingkan peraturan lingkungan hidup kita dengan peraturan lingkungan hidup di negara lain, lah. Apa pasal? Karena setiap negara (pasti) memiliki kondisi dan situasi yang spesifik, yang tentunya berbeda dengan kondisi dan situasi dengan negara kita. Boleh saja peraturan lingkungan negara lain itu diadopsi. Tapi, ya jangan seratus persen mengadopsi. Harus disesuaikan dengan akar budaya masyarakat Indonesia.

Yang terjadi sekarang ini, ada beberapa orang yang seperti memaksakan, supaya peraturan lingkungan hidup kita dibuat seperti negara lain. Ya, tidak mathuk alias tidak cocok! Orang kondisi dan situasinya berbeda, kok. Tak bisa disama-ratakan.

Akhirnya, kita juga harus bisa menghargai dan memahami pemerintah, dan begitu juga pemerintah kepada kita. Kalau masih terjadi perkelahian (seperti sekarang), ayo cepatlah berdamai. Ingatlah, nyawa lingkungan hidup lebih penting daripada (hanya) menyelamatkan gengsi institusi/organisasi saja. Jangan seperti anak kecil, ah.

Kalau saja “nota kesepahaman” atawa sikap saling menghormati, memahami dan memaafkan seperti ini terjadi, saya yakin seratus persen tak akan lagi terjadi persinggungan antara para stake holder lingkungan hidup. Berkelahi itu capek, euy! Buang-buang energi juga buang waktu saja. Akibat perkelahian ini, bukan hanya satu atau dua buah hati manusia saja yang terluka, tetapi ratusan bahkan ribuan. Lebih baik bekerja bersama, saling mendukung dan mengingatkan, bukannya malah saling menyalahkan.

Orang lingkungannya belum dibangun kok para stake holder-nya sudah berkelahi duluan. Kalau begini terus, kapan ada waktu membangun lingkungannya? Kapan juga peraturan lingkungan hidup kita mencapai kesempurnaannya? Katanya mau membangun lingkungan hidup Indonesia? Semoga tidak terjadi lagi, lah. Malu! (IKAMaT).