16.12.08

Nasib Mangrove Tapak Semarang

Semarang - KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 14 Desember 2008 yang lalu, sewaktu kami melakukan sampling-mangrove di Desa Tapak, Semarang, kami bertemu lagi dengan masyarakat pesisir. Kali ini, kami bertemu dengan dua orang nelayan muda yang masih memiliki semangat-kental untuk menyelamatkan desanya dari ancaman abrasi (lihat foto di samping). Sepanjang perjalanan sampling naik perahu, silih berganti mereka menuturkan kisah pilu desanya yang dulunya sejahtera, tapi kini merana. Abrasi pantai yang telah terjadi semenjak 1997 ini, telah melenyapkan puluhan hektar tambak di desa mereka dan merubahnya menjadi lautan.

Kedua nelayan yang rata-rata masih berumur tigapuluhan ini menuturkan bahwa beberapa waktu yang lalu ada sebuah survei untuk mengidentifikasi sumber daya mangrove di desa mereka. Survei ini bertujuan untuk membuat proposal pencairan dana bantuan ke desa mereka. Namun sayang, walaupun proposal sudah disetujui, namun bantuan dana untuk rehabilitasi mangrove, tak kunjung datang ke desa mereka.

Peristiwa ini hampir serupa dengan kejadian tak mengenakkan yang terjadi di Desa Pasar Banggi Rembang. Di sana, seorang ketua kelompok petani mangrove, juga sempat dibuat pusing oleh sebuah oknum LSM yang mempermainkan kelompok tani mereka. Setelah sang oknum selesai mendapatkan data yang cukup untuk pembuatan proposal, bantuan yang dijanjikan tak kunjung sampai ke Desa Pasar Banggi.

Dua kejadian tak baik di atas ini, kami harapkan tak terjadi lagi di tempat lainnya. Sudah sangat banyak masyarakat pesisir yang dijadikan obyek ketidakadilan oknum orang-orang pintar di atas sana. Janji-janji tak pernah tertepati ini, sangat berbahaya. Selain membuat masyarakat pesisir merasa tertipu, juga bisa menyebabkan mereka semakin pesimistis dengan LSM dan pemerintah.

Tak hanya permasalahan penipuan ini saja, keduanya juga mengisahkan betapa merasa terancamnya kehidupan mereka. Nasib tambak-tambak mereka, tak jelas masa depannya. Gelombang laut, telah dengan sangat leluasanya menerjang pesisir pantai Desa Tapak sehingga melenyapkan area pertambakan. Sabuk hijau berupa kumpulan hutan mangrove yang dulunya lebat, sudah tak bisa lagi melindungi tambak-tambak itu karena telah hilang ditebang untuk pertambakan yang kini ternyata juga telah hilang ditenggelamkan laut.

Sangat sedih. Itulah yang kami rasakan setelah kami mendengarkan kisah pilu mereka. Tak banyak yang bisa kami perbuat selain memberikan dukungan moral berupa ucapan selamat atas pembentukan kelompok nelayan yang mulai mereka rintis. Anjuran untuk membuat dan memasukkan proposal kepada pemerintah atas nama kelompok mereka, juga kami sarankan. Tak cukup disitu, kami juga berusaha menyemangati mereka dengan cara memberikan pengetahuan mengenai teknis pembibitan dan penanaman mangrove dan berbagai macam bentuk pemecah gelombang.

Di akhir pertemuan kami dengan mereka, tak lupa kami turut mendoakan supaya perjuangan mereka dalam menyelamatkan pesisir pantai Desa Tapak dari hantaman gelombang, bisa berhasil. Tak terlalu banyak menjanjikan, tapi kami katakan kepada mereka bahwa sekuat tenaga KeSEMaT akan membantu mereka. Pemberitaan perjuangan mereka dalam Jaringan KeSEMaTONLINE, adalah langkah awal pendampingan kami kepada mereka. Salam MANGROVER!