Setetes Harapan, Dibalik Rusaknya Mangrove Jepara

Semarang - KeSEMaTBLOG. Berikut ini adalah hasil dari KeSEMaT Goes To Arboretum (KGTA) di Jepara. Data yang diinterpretasi oleh Kurniani (2007) berdasarkan Citra Aster 2006, menunjukkan kenyataan yang sangat-sangat menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan. Luasan mangrove sudah sedemikian kecilnya akibat areal pertambakan dan peruntukan lainnya yang sedemikian besarnya. Bahkan, dari tiga kecamatan yaitu Mlonggo, Tahunan dan Kedung, luasan mangrovenya tak ada yang melebihi 12 ha. Sekali lagi, sangat menyedihkan. Ini hanya tiga kecamatan saja. Belum lagi kecamatan yang lainnya. Luasan mangrove di tiga kecamatan di Jepara adalah sebagai berikut:

1.Kecamatan Mlonggo
Ujung Piring: 11,58 ha

2.Kecamatan Tahunan
Teluk Awur: 6,28 ha
Semat: 2,54 ha

3.Kecamatan Kedung
Tanggul Tlare: 0,81 ha
Bulak Baru – Panggung: 8,46 ha

Penebangan dan Pencurian Pasir
Sebagai gambaran, di Teluk Awur Jepara yang merupakan Area Konservasi KeSEMaT (baca: Arboretum KeSEMaT), luasan mangrovenya hanya tinggal 6,28 ha saja. Pengambilan pasir dan penebangan mangrove yang tak kunjung usai menjadi salah dua penyebab dari “hilangnya” mangrove di Teluk Awur. Walaupun sudah ada penjagaan oleh KeSEMaT dan papan pelarangan penebangan pohon mangrove, kiranya tak banyak berpengaruh. Satu-satunya jalan yang masih bisa ditempuh adalah pembuatan Peraturan Daerah (PERDA) oleh Pemerintah Daerah (PEMDA) Jepara tentang pelarangan penebangan mangrove untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Teluk Awur dan Jepara.

Mangrove Disulap Menjadi Perumahan
Selanjutnya di Semat, vegetasi mangrovenya lebih sedikit lagi yaitu hanya tinggal 2,54 ha, saja. Berita terbaru, sisa mangrove ini akan segera dipindahtangankan alias dijual untuk umum sebagai perumahan. Hal ini (tentu saja) “berita duka” sekaligus sebagai bukti bahwa masyarakat sekitar tak peduli lagi dengan mangrove. Namun kiranya kita juga tidak bisa menyalahkan mereka. Inisiatif PEMDA setempat dalam mengelola mangrovenya patut dipertanyakan. Saran saya, karena kondisi mangrove Semat lumayan beragam dan dalam kondisi yang masih baik, sebaiknya lahan mangrove 2,54 ha itu digunakan sebagai area konservasi dan pendidikan mangrove yang “dilindung-langsung” oleh PEMDA Jepara.

Penebangan dan Pembangunan Tambak
Di Tanggul Tlare, lebih miris lagi, luasan mangrovenya tak mampu mencapai 1 ha, hanya tersisa 0,81 ha! Lokasi yang dulunya merupakan tempat pembuatan film dokumenter Mangrove Movie KeSEMaT ini sekarang mulai ditebangi dan dialihfungsikan menjadi tambak-tambak ikan. Potensi mangrove di Tanggul Tlare sebenarnya sangat baik sebagai ekowisata. Selain karena tingginya pohon, lengkapnya spesies mangrove dan binatangnya, dan keberadaan tambak semi intensif masyarakat, menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Namun sayang, belum terjadi keseimbangan antara jumlah tambak dengan jumlah mangrove. Tambak nampak lebih mendominasi, sehingga “menelan” mangrove. Dengan pengaturan yang baik, bukan tidak mungkin di masa mendatang ekowisata mangrove di Tanggul Tlare (kalau serius mau diwujudkan) merupakan komoditas utama PEMDA Jepara.

Bulak Lama, Desa Pesisir yang Tenggelam
Bulak Baru dan Panggung , luasan mangrovenya tinggal tersisa 8,46. Sebagai informasi, Desa Bulak Lama telah lama hilang ditenggelamkan oleh laut. Saya hanya berdoa saja, semoga saja di masa mendatang Bulak Baru dan Panggung tidak mengalami hal yang sama dengan “saudara tuanya” itu. Namun saya sangat pesismis, mengingat semakin hari luasan mangrovenya semakin menyusut. Pun, tak terjadi perubahan sikap dari masyarakat setempat untuk mulai “bekerja” mambangun daerah mangrovenya dan menyelamatkan pantainya dari abrasi yang semakin hari semakin mengganas.

Mangrove Dikorbankan untuk PLTU
Luasan mangrove yang agak “besar” ada di Ujung Piring, yaitu 11,58 ha. Namun demikian, sebentar lagi mangrove-mangrove ini juga akan segera lenyap dari permukaan bumi. Apa pasal? Penduduk setempat sudah “menjualnya” kepada pemerintah demi pembangunan Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU). Saya sangat menyayangkan hal ini terjadi. Hati saya miris, sedih dan geram. Saya pikir, mereka hanya menilai, ekosistem mangrove sebagai seonggok sampah yang sangat tidak penting bagi manusia. Astagfirullah! KeSEMaT bekerjasama dengan siswa SMA Theresiana Semarang telah melakukan penelitian mengenai ekosistem mangrove di Ujung Piring dan menemukan bahwa potensi mangrove di Ujung Piring sangat-sangat potensial dikembangakan sebagai area konservasi sekaligus ekowisata. Bahkan potensinya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Bulak Baru, Panggung, Teluk Awur, Semat dan Tanggul Tlare karena memiliki keanekaragaman hayati yang lebih tinggi. Kalau potensi keanekaragaman mangrove di Ujung Piring ini hilang, saya tak tahu lagi, bagaimana dengan masa depan ekosistem mangrove di Jepara.

Masih Adakah Setetes Harapan Itu?
Begitu bersemangatnya “oknum” masyarakat Jepara menghancurkan ekosistem mangrove-nya membuat sebagian teman-teman saya bertanya-tanya, “Kalau sudah begini, masih adakah “sedikit-harapan” (baca: setetes-harapan) untuk menyelamatkan mangrove di Jepara?” Dengan yakin dan lantang saya menjawabnya, “Masih. Saya yakin masih ada. Saya dan KeSEMaT Insya Allah telah memulainya sejak tahun 2001 sampai dengan sekarang. Dan berhasil. Kami berhasil menghijaukan kembali vegetasi mangrove yang dulunya gundul, menjadi lebat kembali. Kini giliran Anda! Kalau kami bisa, pasti Anda juga bisa! Bantu kami menyelamatkan pantai-pantai sepanjang Jepara yang terancam oleh abrasi.

Saya yakin Anda (warga Jepara) bisa! Yang perlu dirubah adalah sikap Anda. Kalau Anda kebetulan warga Jepara, tolonglah jangan hanya memikirkan ukir-ukiran Anda, saja. Saya tahu, bisnis harus tetap jalan tapi tolong jiwa konservasi Anda jangan pula berhenti. Bukankah Tuhan mengajarkan manusia untuk selalu berhubungan bukan hanya dengan-Nya, dengan manusia, tetapi juga dengan alam?

Apabila Anda adalah masyarakat Jepara, ayolah mulai cari tahu segala informasi mengenai mangrove. Ingatlah, pesisir pantai Anda terabrasi sangat parah. Waspadalah, air laut mengepung Anda dan mengancam keberadaan Anda. Apakah Anda mau ditenggelamkan oleh laut? Tentu tidak, bukan? Saya yakin Anda tak mau menjadi seperti warga Bulak Lama yang desanya ditenggelamkan laut. Dengan peduli dengan mangrove, dia bisa menyelamatkan dan menjaga rumah-rumah kita dari gerusan air laut. Mangrove terbukti bisa dan mampu mencegah abrasi yang sangat berbahaya itu.

Ayo ubah sikap Anda dari yang tak peduli sama sekali menjadi semakin menyayangi dan mencintai. Menyayangi dan mencintai siapa? Tentu saja M A N G R O V E! (IKAMaT).