5.6.07

Selamat (Mempraktekkan Arti) Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Semarang - KeSEMaTBLOG. Bulan Juni adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh para individu dan organisasi pencinta lingkungan (dan semoga oleh semua umat manusia di bumi ini). Apa pasal? Karena di bulan keenam ini, ada satu tanggal sakral yang diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yaitu tanggal 5. Bagi Lingkunganers, bulan Juni adalah bulan yang paling dinanti, untuk sekedar mempertanyakan kembali seberapa besar rasa kepedulian mereka terhadap lingkungan.

Di satu hari, di setiap tahunnya, kita manusia seolah diingatkan kembali, bahwa betapa kita ini sangat kecil dan tak berguna. Betapa kita sangat tergantung dengan lingkungan. Kita tidak akan mungkin bisa hidup tanpa lingkungan. Anda bisa bayangkan, apa jadinya apabila kita tak memiliki habitat dan tempat tinggal (baca: lingkungan). Tanpa lingkungan yang menampung kita, tak mungkin keberadaan kita ada bahkan diakui di dunia oleh makhluk lainnya. Lingkungan telah begitu membantu kita untuk menjadi “sangat diakui” di bumi, namun sayangnya, kita tak mempunyai rasa timbal balik bahkan terus saja melupakan lingkungan.

Renungkanlah, sudah berapa miliar ton buih sabun yang kita buang ke air. Lalu sudah berapa kubik asap dapur yang kita semprotkan setiap hari ke udara. Selanjutnya, dengan tangan jahil kita, sudah berapa ton sampah busuk yang kita buang ke tanah. Pertanyannya sekarang adalah, apa timbal balik kita kepada lingkungan. Tanpa bayar, tanpa permisi, setiap detik, setiap menit, setiap hari, (dengan seenaknya) kita membuang semua limbah kita ke air, udara, dan tanah. Sekali lagi saya bertanya, apa timbal balik kita kepada lingkungan?

Kesalahan kita adalah karena kita ini, masih terus dan terus dan terus (saja) menganggap lingkungan itu benda mati, benda tak hidup, yang kalau “disakiti” tak mungkin bisa berteriak melayangkan protes. Yang kalau dijejali dengan buih sabun, dengan asap dapur, dan dengan sampah busuk tak mungkin marah. Memang, lingkungan tak mungkin berteriak, pun lingkungan tak bisa marah secara langsung. Tapi lihatlah banjir di Jakarta kemarin. Amarah lingkungan diluapkan dengan petaka banjir yang merugikan banyak sektor kehidupan manusia. Itulah balasan mereka buat kita yang selalu menganaktirikan mereka.

Kalau sudah begitu, manusia hanya pasrah. Tapi anehnya, setelah banjir surut, manusia tak pernah jera dan tak bisa belajar dari pengalaman. Banjir Jakarta tetap saja terjadi setiap tahunnya. Manusia tak mau memperbaiki diri untuk bisa merubah sikapnya sehingga banjir tak datang lagi. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, hanyut begitu saja ditelan waktu.

Mungkinkah kita ini memang makhluk egois (?) Kenyataannya, setiap hari kita hanya sibuk berhubungan dengan manusia, manusia dan manusia. Jujurlah pada diri Anda sendiri, berapa jam dalam sehari Anda berpikir tentang lingkungan (?). Ayolah, cobalah menyempatkan sedikit waktu Anda untuk mulai bercakap-cakap dengan alam dan lingkungan kita. Tak ada ruginya, kok!

Selama enam tahun bekerja di pesisir, saya berusaha untuk menjadikan lingkungan sebagai teman main saya. Tak pernah sedetikpun terpikir dalam benak saya bahwa pasir, tanah, batu, karang dan lumpur adalah benda mati. Mereka semua hidup. Mereka semua teman main saya bahkan saya sering bercengkerama bahkan bercakap-cakap dengan mereka saat mengadakan kunjungan ke pesisir. Saya adalah teman mereka, mereka semua adalah teman saya, dan mereka hidup!

Karena anggapan saya yang demikian, untuk membuang sampah plastik di pesisir pantai saja, saya takut. Takut Mas Tanah, Mbak Pasir dan Bung Laut marah besar pada saya karena tubuhnya yang bersih (pasti) akan terkotori oleh sampah plastik saya. Saya kemudian, memilih membuangnya di tempat sampah yang telah ada.

Saya tak ingin Anda mencontoh sikap saya. Tapi setidaknya mulailah menganggap lingkungan itu sebagai teman Anda. Mereka itu hidup, punya nyawa seperti kita!

Lingkungan mempunyai hak hidup yang sama seperti kita. Mereka juga memiliki hak asasinya sendiri. Kita harus menghargai dengan cara hidup berdampingan dengan mereka dan bukan malah menyakitinya sehingga kehidupan mereka terganggu. Kalau sudah begitu, alam menjadi tidak seimbang dan tak harmonis. Tapi sayang usaha ke arah itu sangat sulit dituju. Manusia selalu, selalu, dan selalu saja sombong dan mengklaim diri sebagai penguasa tunggal di bumi yang fana ini. Hak-hak asasi lingkungan selalu dilanggar, dilompati dan diterjang. Kasihan sekali makhluk yang bernama lingkungan, itu?

Semoga artikel kecil ini bisa menjadi bahan perenungan dan pencerahan bagi kita semua. Jangan hanya memperingati, tapi mari mempraktekkan arti Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Hargailah hak-hak lingkungan, sekarang! (IKAMaT).