27.10.09

Propagul dan Bibit Mangrove. Manakah yang Lebih Baik?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Beberapa rekan di dalam Jaringan KeSEMaTONLINE, terutama di KeSEMaTNURSERYBLOG, seringkali menanyakan kepada kami satu buah pertanyaan klise, “KeSEMaT, dalam program penanaman mangrove, lebih baik menggunakan propagul atau bibit mangrove?.” Sebenarnya jawaban dari pertanyaan ini, sudah seringkali kami publikasikan di Jaringan KeSEMaTONLINE. Namun karena (mungkin) judulnya tidak terlalu spesifik, maka ada beberapa Rekan yang masih belum membaca artikel, tersebut.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, maka kami perlu menjelaskan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan propagul di sini adalah alat regenerasi jenis mangrove Rhizophora yang merupakan gabungan dari buah Rhizophora dan kecambahnya (baca: hipokotil). Hipokotil yang berfungsi sebagai cadangan makanan bagi buah mangrove ini, telah ke luar dari buahnya (lihat foto di atas - kiri). Propagul merupakan mekanisme buah mangrove yang “berkonsep” vivipari. Selanjutnya, bibit mangrove di sini diartikan sebagai propagul yang telah disemaikan di kebun persemaian, dengan cara menanamnya di polybag dan telah memiliki daun minimal satu pasang (lihat foto di atas – kanan).

Langsung saja, untuk menjawab pertanyaan tadi, sebenarnya antara propagul dan bibit mangrove, tidak ada yang satu lebih baik daripada yang lainnya. Artinya, keduanya bisa digunakan dan akan saling melengkapi dalam program-program penanaman mangrove. Untuk kelulushidupan keduanyapun, asalkan dipelihara dengan baik dan benar maka tingkat kematiannya-pun juga bisa sangat rendah.

Walaupun ada beberapa literatur yang mengatakan bahwa kelulushidupan bibit mangrove setelah ditanam akan lebih besar daripada propagul, namun hal ini pun terkadang tidak berlaku di lapangan. Pengalaman melakukan penanaman mangrove di Trimulyo – Semarang, sebagian warga menyarankan penanaman dengan menggunakan propagul di daerah itu karena telah terbukti memiliki kelulushidupan mangrove yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan bibit mangrove.

Contoh lain, di MECoK KeSEMaT yang terletak di Teluk Awur, Jepara. Walaupun KeSEMaT menggunakan lebih dari 90% bibit mangrove untuk membangun pusat pendidikan mangrovenya, namun propagul yang juga ditanam dalam program pemeliharaan mangrovenya, juga memiliki tingkat kelulushidupan yang tinggi hingga mencapai angka 90%.

Dari dua contoh di atas ini, maka setelah didapatkan hasil penelitian awal yang representatif, asalkan dilakukan program pemeliharaan yang cermat dan tepat, propagul dan bibit mangrove akan bisa tumbuh dengan baik.

Perlu kami informasikan bahwa, sebenarnya apabila kita memilih mempergunakan propagul dalam program penanaman mangrove kita, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah, sebagai berikut:
1.Propagul mangrove, bagi sebagian masyarakat pesisir, dianggap memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan barunya yang lebih besar jika dibandingkan dengan bibit mangrove. Hal ini dikarenakan, propagul tidak melalui fase pembibitan terlebih dahulu. Jadi, begitu ditanam di lokasi penanaman, maka lokasi penanaman itulah lingkungan awalnya. Dengan demikian, propagul akan bisa cepat beradaptasi di lokasi penanaman.
2.Namun demikian, dari sisi ketahanan terhadap gelombang, tentu saja propagul kalah jauh dengan bibit mangrove. Propagul yang “hanya berupa” kecambah saja tanpa akar, batang dan daun, rentan sekali roboh begitu tersapu gelombang. Untuk itulah, dalam program penanaman mangrove, khususnya untuk daerah terabrasi, propagul tidak disarankan.
3.Propagul disarankan untuk dipergunakan di daerah rehabilitasi yang memiliki tipe daerah terlindung dengan kondisi gelombang yang minimal. Propagul juga bisa diperuntukkan bagi program pemeliharaan mangrove untuk mem-backup, bibit-bibit mangrove yang mati, di tiga bulan setelah penanaman.
4.Dalam skala proyek mangrove, propagul kurang begitu disukai karena pertumbuhannya yang “lebih lambat,” daripada bibit mangrove. Program monitoring dan evaluasi proyek yang biasanya dilakukan selama tiga bulan, terkadang tidak begitu memuaskan hasilnya, karena propagul belum juga “tumbuh” dan tidak menampakkan adanya daun.

Selanjutnya, untuk bibit mangrove, beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila kita memilihnya sebagai bahan program rehabilitasi mangrove kita, adalah sebagai berikut:
1.Bibit mangrove, bagi sebagian masyarakat pesisir, dianggap memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan barunya yang lebih kecil, apabila dibandingkan dengan propagul. Tentunya, hal ini disebabkan dirinya yang telah memiliki lingkungan awalnya terlebih dahulu (yaitu kebun persemaian tempat dirinya disemaikan), sebelum kemudian dipindahkan ke lingkungan barunya, yaitu lokasi penanaman kita. Hal ini, menyebabkan sebuah kekhawatiran akan kelulushidupannya di masa mendatang.
2.Namun demikian, walaupun daya adaptasi terhadap lingkungan barunya dianggap lebih rendah daripada propagul, bibit mangrove memiliki daya ketahanan terhadap lingkungannya yang lebih tinggi. Bibit mangrove yang memang telah memiliki struktur tubuh yang lengkap, yaitu daun, batang dan akar, diduga memiliki daya tangkal terhadap gelombang yang lebih baik jika dibandingkan dengan propagul.
3.Berkaitan dengan poin kedua maka bibit mangrove memang lebih disukai dan dipilih oleh para pelaksana program dan proyek mangrove di Indonesia. Bibit mangrove yang dibentengi dengan pemecah gelombang dan ajir, umumnya bisa ditanam di lokasi terabrasi dengan gelombang yang lumayan tinggi.
4.Selain itu, bibit mangrove juga disukai karena apabila para pelaksana proyek mangrove melakukan program monitoring dan evaluasi, maka bibit mangrove telah “terlihat tumbuh,”duluan.

Terlepas dari semua keterangan yang telah kami informasikan seperti di atas, ada sebuah informasi yang kiranya kurang sedap. Sekarang ini, penetapan penggunaan propagul dan atau bibit mangrove, dirasa lebih terkesan diekonomisir. Artinya, beberapa pihak sengaja memilih propagul bukan dilihat dari beberapa hal di atas tetapi karena alasan ekonomi. Mengapa mereka “menolak” menanam bibit mangrove? Karena selain berat, sudah berakar dan berpolibeg, untuk menanam satu bibit saja, dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra besar. Belum lagi, mereka harus memasang ajir juga, dan kemudian wajib mengikatkannya ke bibit-bibit agar bibit tak tumbang diterjang gelombang. Kesimpulannya, terlalu ribet dan memakan banyak waktu. Pun, upah yang didapatkan tidak sebanding dengan pekerjaan berat yang mereka kerjakan. Mengapa? Karena, dengan sedikitnya jumlah bibit yang bisa mereka tanam, maka semakin kecil pulalah pendapatan mereka dalam sehari.

Demikian, informasi mengenai propagul dan bibit mangrove. Artikel lainnya mengenai propagul dan bibit mangrove, bisa Anda baca dan cermati di bagian lain di Jaringan KeSEMaTONLINE. Semoga, masing-masing dari kita bisa memaknai penggunaan keduanya dengan bijak. Salam MANGROVER!