26.10.09

Bibit Mangrove Tanpa Polybag. Layakkah Ditanam?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Ada sebuah cerita menarik yang “dicurhatkan” oleh seorang pelajar SMA (sebut saja Andi), yang disampaikan kepada kami, melalui Jaringan KeSEMaTONLINE. Dia menceritakan tentang sebuah kisah program penanaman mangrovenya yang dia rasa agak aneh. Mengapa aneh? Karena bibit mangrove yang digunakan sebagai “bahan penanaman,” ternyata sudah tidak berpolybag lagi, melainkan hanya berupa daun, batang dan akar, saja.

Pada saat kami menanyakan mengapa bibit-bibit mangrove (yang ternyata mereka beli dengan cara patungan), tidak berpolybag, maka dia menginformasikan bahwa pada saat mereka membeli polybag ke produsen, maka polybag telah sengaja dicabut oleh penjual bibit, untuk mempermudah transportasi bibit ke lokasi penanaman.

Dikeluhkesahi seperti ini, maka kami langsung paham, tentang apa yang membuat program penanaman komunitas pelajar SMA ini, tak lazim. Tak hanya itu, kami juga jadi tahu, mengapa pula Andi menganggap bahwa program penanaman mangrove kelompoknya ini, terasa agak aneh. Ternyata, pangkal permasalahannya hanya satu, yaitu pada saat akan ditanam, tiga ribuan bibit mangrove yang didistribusikan ke lokasi penanaman, sudah tidak memiliki polybag, lagi!

Menanggapi hal seperti ini, maka kami mencoba tidak menyalahkan para produsen mangrove yang telah menjual bibit mangrove tanpa-polybag ke Andi dan teman-temannya. Kami hanya memberikan informasi kepada Andi bahwa apabila bibit-bibit mangrove tersebut ditanam tanpa adanya polybag, maka dikhawatirkan setelah dilakukan penanaman, kelulushidupan bibit mangrove tersebut, tidak akan bisa berjalan dengan maksimal.

Memang, belum ada penelitian yang “mendalam” mengenai efektifitas tanah yang terkandung di dalam polybag, dalam mendukung pertumbuhan bibit mangrove setelah ditanam. Namun demikian, bisa dikatakan bahwa tanah yang terkandung di dalam polybag itu, sebenarnya berfungsi sebagai cadangan makanan bagi bibit mangrove-muda. Cadangan makanan ini, akan digunakan sebagai bekal bibit dalam rangka beradaptasi terhadap lingkungan barunya. Apabila bibit mangrove dicabut polybagnya, maka tanah yang berada di dalam polybagnya, juga akan turut tercerabut sehingga akan berakibat pada hilangnya cadangan makanannya.

Selanjutnya, kita pasti mengetahui bahwa pada umumnya, lokasi pengadaan bibit mangrove akan berbeda dengan lokasi penanamannya. Hal ini, dikarenakan sebagian besar penginisiasi program-program penanaman mangrove bukanlah berasal dari lokasi setempat. Bibit-bibit mangrove sebagai bahan program rehabilitasi mangrove, biasanya akan dibeli dari para petani dan produsen bibit mangrove yang berasal dari luar kota dan atau bahkan luar pulau. Oleh karena itulah, maka tanah yang terkandung di dalam polybag bibit mangrove akan memiliki karakter dan spesifikasi yang berbeda dengan tanah yang ada di lokasi penanamannya. Maka, untuk memperbesar daya adaptasi bibit mangrove dengan lingkungan barunya, tanah yang terkandung di dalam polybag (yang tanahnya berasal dari lokasi persemaian bibit), menjadi sangat penting.

Sebagai informasi, kasus serupa yaitu pencerabutan polybag mangrove dari bibitnya, sebenarnya tak hanya menimpa Andi saja, tetapi juga seringkali terjadi di beberapa lokasi di pesisir Jawa. Alasan pencerabutan ini, pada umumnya adalah untuk memperingan transportasi. Tentu saja, hal ini sungguh sangat disayangkan.

Demikian, sedikit pengetahuan dan informasi dari kami mengenai bibit mangrove tanpa polybag. Semoga bisa berguna dan bermanfaat untuk diadopsi di program-program rehabilitasi mangrove di daerah Anda masing-masing. Salam MANGROVER!