28.3.15

Kisah Perjalanan KeSEMaTER, Sembilan Hari Mangroving ke Pesisir Jepang

Jepang - KeSEMaTBLOG. Selama sembilan hari, salah satu KeSEMaTER, yaitu Sdr. Amrullah Rosadi (Presiden KeSEMaT XII) terpilih mewakili Universitas Diponegoro Semarang dan Indonesia sehingga mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Jepang. Kisah seru apa saja yang dia dapatkan selama mangroving di pesisir Jepang? Berikut ini adalah laporan perjalanannya. Selamat membaca.

JENESYS 2.0 adalah program pertukaran pemuda yang diadakan oleh pemerintah Jepang. JENESYS 2.0 memiliki tujuan untuk meningkatkan persahabatan antara Jepang dengan negara yang diundang untuk merevitalisasi ekonomi Jepang melalui pengenalan Jepang secara mendalam, kepada turis mancanegara dan konsumen mancanegara dengan mempromosikan pemahaman internasional dalam kekuatan dan nilai-nilai potensial Jepang, termasuk konsep “Cool Japan”.

JENESYS telah dilaksanakan sejak tahun 2007 hingga saat ini dengan sasaran 30.000 pemuda dari Asia, Pulau-pulau di Semenanjung Pasifik, dan Amerika Utara. Pada tahun 2014, 1.743 peserta dari ASEAN, Australia, Selandia Baru, India, dan Timor Leste telah diundang dalam tema “Social Community”. Di tahun 2015 ini, waktu pelaksanaan program ini adalah dari 3 - 12 Maret 2015 yang berlokasi di Tokyo dan Prefektur Miyagi, dengan jumlah peserta sebanyak 25 orang.

Hari pertama Rabu, 4 Maret 2015, 25 mahasiswa dan dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Hasanudin (UNHAS), Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), Politeknik Negeri Pertanian Pangkep dan Universitas Patimura (UNPATI) sebagai peserta JENESYS 2.0 Batch 35 Social Community Course Oceanography and Fisheries, tiba di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang.

Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 8 jam dari Jakarta, para peserta JENESYS 2.0 langsung menuju ke kawasan Shinjuku untuk melaksanakan orientasi bersama organizer JENESYS 2.0 yaitu JOCA (Japan Overseas Cooperative Association) dan MOFA (Ministry of Foreign Affairs) Japan.

Pada agenda orientasi ini, para peserta JENESYS 2.0 mendapatkan beberapa paparan mengenai kegiatan yang akan berlangsung selama 9 hari kedepan. Peserta juga diberi pemahaman tentang konsep dasar “Cool Japan” sebagai acuan dalam melaksanakan program JENESYS 2.0.

Orientasi ini juga memberikan gambaran ilmu yang bisa dipelajari oleh peserta JENESYS 2.0 terutama dalam pengelolaan kelautan dan perikanan di Jepang serta teknologi ultra-modern yang berkaitan dengannya.

Selepas dari Shinjuku, para peserta JENESYS 2.0 bertolak ke Yokohama untuk mengunjungi Hakkeijima Sea Paradise. Di lokasi tersebut, peserta dapat menyaksikan berbagai biota laut dari biota intertidal hingga biota laut dalam. Bahkan, peserta juga dapat menyaksikan berbagai mamalia laut dari berbagai wilayah dari kawasan tropis hingga kawasan kutub. Berbagai biota dan mamalia laut tersebut dapat disaksikan di dalam sebuah akuarium raksasa.

Setelah selesai agenda di Hakkeijima Sea Paradise, peserta bertolak menuju Shinjuku New City Hotel untuk beristirahat.

Hari Kedua. Pada Kamis, 5 Maret 2015, Peserta JENESYS 2.0 Batch 35 dipenuhi dengan agenda untuk mengikuti sesi perkuliahan di Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) dan sesi bersama Sensei (Guru Besar) dari Kinki University.

Kunjungan pertama di tanggal tersebut adalah kunjungan ke TUMSAT. Peserta disambut langsung oleh Vice President TUMSAT, yaitu Prof. Tomoji Takamasa dan Prof. Takafumi Arimoto. Prof. Tomoji memberikan sambutan berupa pengenalan TUMSAT sekaligus memberikan materi tentang tantangan dalam Sustainable Fisheries.

Kemudian, materi dilanjutkan oleh Sensei Prof. Takafumi Arimoto tentang kerjasama TUMSAT dengan institusi perikanan Indonesia. Setelah menerima materi dari Prof. Tomoji dan Prof. Arimoto, peserta JENESYS 2.0 batch 35 berkesempatan untuk melaksanakan diskusi bersama mahasiswa TUMSAT.

Diskusi dilaksanakan dalam 4 kelompok dengan 4 materi diskusi yang berbeda. Namun, diskusi tersebut berintikan pada kerjasama Indonesia dan Jepang dalam pengelolaan laut dan perikanan. 

Setelah sesi di TUMSAT selesai, peserta JENESYS 2.0 batch 35 bertolak menuju National Youth Olympic Memorial Center untuk mengikuti sesi perkuliahan selanjutnya. Sesi kuliah dipimpin oleh Sensei Prof. Masuma Shukei dari Fisheries Laboratory Kinki University.

Dalam sesi ini, Sensei Masuma menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun dalam membudidayakan Ikan Tuna di Kinki University. Riset budidaya ikan tuna oleh Kinki University sangat menarik, mengingat ikan tuna sebagai salah satu komoditas yang dikonsumsi oleh masyarakat Jepang secara luas dan pentingnya rekayasa teknologi untuk menjamin ketersediaan tuna di alam maupun di pasaran.

Setelah sesi kuliah bersama Sensei Masuma, para peserta JENESYS 2.0 bertolak ke Odaiba untuk memperoleh pengetahuan Pop Culture di kawasan tersebut dan langsung kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Ketiga. Peserta JENESYS 2.0 diharuskan meninggalkan Tokyo pada 6 Maret 2015 untuk menuju Prefektur Miyagi tepatnya di Kota Kesennuma. Para peserta meninggalkan Tokyo dengan menggunakan kereta cepat atau lebih dikenal dengan nama Shinkansen.

Perjalanan dari stasiun Tokyo menuju Stasiun Ichinoseki di Miyagi memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Sesampainya di Ichinoseki, peserta JENESYS 2.0 langsung menuju perkebunan stroberi di Kota Kesennuma menggunakan bus.

Di perkebunan stroberi, peserta mempelajari bagaimana manajeman masyarakat dapat menumbuhkan usaha stroberi hingga dapat menyuplai kebutuhan buah di Jepang. Setelah agenda di perkebunan stroberi usai, peserta bertolak untuk menyaksikan sekaligus mempraktekan industri pembuatan garam yang dilakukan oleh masyarakat di Kota Kesennuma.

Selama perjalanan, peserta menyaksikan bagian-bagian kota yang hancur akibat tsunami yang terjadi 2011 silam. Peserta juga mengunjungi beberapa memorial site sebagai tempat berdoa untuk para korban tsunami. Setelah semua agenda kunjungan selesai, peserta JENESYS 2.0 dipertemukan dengan host family yang akan tinggal bersama peserta selama 2 malam.

Bersama host family, peserta berkesempatan untuk mempelajari dan mencoba kehidupan sebagai masyarakat Jepang.

Hari Keempat. Aktivitas yang dilaksanakan oleh peserta JENESYS 2.0 pada tanggal 7 Maret 2015 berupa aktivitas untuk mengakrabkan diri bersama host family dan aktivitas melaksanakan kebudayaan masyarakat Jepang. Peserta melakukan aktivitas seperti membuat kue mochi, membuat zoni, dan membuat berbagai macam kerajinan tangan dari sumberdaya alam di Jepang seperti, buah kenari, dan awetan daun sakura.

Hari Kelima. Pada tanggal 8 Maret 2015, merupakan hari terakhir peserta JENESYS 2.0 bersama para host family. Oleh karena itu, aktivitas pada hari ini diisi dengan agenda perpisahan yang berupa cultural performance oleh peserta JENESYS 2.0 dan para host family.

Peserta JENESYS 2.0 membawakan pentas paduan suara lagu daerah Indonesia, sedangkan para host family memberikan pertunjukan berbagai tarian tradisional Jepang. Setelah agenda perpisahan bersama host family usai, acara dilanjutkan dengan pembuatan lilin untuk sesi doa bersama para korban tsunami Jepang 2011 silam.

Acara ini juga disertai dengan kunjungan lokasi-lokasi yang pernah diterjang tsunami bersama tokoh adat setempat. Seusai kunjungan, peserta bertolak menuju Hotel Kanyo Kesennuma City, untuk beristirahat dan makan malam.

Hari Keenam. 9 Maret 2015 merupakan hari dengan agenda yang sangat padat bagi peserta JENESYS 2.0 batch 35. Aktivitas di hari ini diisi dengan berbagai kunjungan ekskursi dari lokasi pendaratan dan pelelangan ikan, Kantor Walikota Kesennuma City, hingga berbagai industri perikanan yang menyuplai berbagai kebutuhan primer perikanan Jepang.

Agenda di hari Senin ini, dimulai dengan kunjungan di pelabuhan pendaratan dan pelelangan ikan Kesennuma City. Di lokasi ini peserta menyaksikan sekaligus mempelajari proses pendaratan ikan hingga biota laut apa saja yang diperdagangkan di Kesennuma City.

Berbagai macam komoditas kelautan dari ikan tuna, ikan cakalang, berbagai macam kerang, berbagai macam cumi-cumi, nanas laut, rumput laut, hingga hiu dapat ditemui di pelabuhan pendaratan ikan ini. Standar operasional dan prosedur yang berlaku di pelabuhan ini tampak dilaksanakan dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat yang beraktivitas di pelabuhan tersebut, baik hingga pengelola sampai pelaku usaha.

Pelabuhan pendaratan ikan di Kesennuma City memiliki detektor radioaktif untuk mendeteksi kandungan radioaktif pada setiap spesies laut yang didaratkan di pelabuhan tersebut. hal tersebut dilakukan mengingat adanya polusi radioaktif di daerah Fukushima yang dikhawatirkan akan mengkontaminasi hasil tangkapan laut yang didaratkan di Pelabuhan Kesennuma City tersebut.

Kunjungan dilanjutkan dengan bertamu ke kantor Walikota Kesennuma City. Peserta kemudian disambut oleh Walikota Kesennuma City dan dilanjutkan dengan sesi kuliah bersama Divisi Perikanan dari Kesennuma City.

Dalam sesi kuliah tersebut, pemerintah Kesennuma City memaparkan bagaimana perikanan Jepang terutama di Kesennuma City dapat bangkit setelah tsunami terjadi di Jepang maret 2011 silam. Kesennuma City sebagai kota dengan sumberdaya perikanan tangkap yang melimpah dan sebagai kota yang menyuplai kebutuhan perikanan Jepang, membuat pemerintah melakukan rekonstruksi yang cepat dan efektif demi terjaganya keseimbangan pasar perikanan Jepang.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan kunjungan industri perikanan yang terdapat di Kesennuma City. Perusahaan yang dikunjungi adalah Ashikaga Honten co.Ltd, Hachiyo Suisan co.Ltd, dan Kyodo Suisan co.Ltd.

Perusahaan Ashikaga Honten co.Ltd dan Kyodo Suisan co.Ltd merupakan perusahaan yang mendistribusikan berbagai macam produk segar perikanan Jepang, seperti ikan tuna, dan hiu. Hachiyo Suisan co.Ltd merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan cumi-cumi dan makro alga agar dapat dikonsumsi masyarakat Jepang.

Produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut adalah acar fermentasi cumi dan acar alga yang merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Jepang. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki beragam teknologi proses ultra modern serta sama-sama memiliki perjuangan yang berat dalam rekonstruksi pasca tsunami Jepang.

Peserta JENESYS 2.0 juga mengunjungi perusahaan pembuat es sebagai alat untuk menjaga kesegaran produk perikanan di Kesennuma City. Perusahaan tersebut juga memiliki beragam teknologi untuk memudahkan produksi dan distribusi es, seperti Ice Vending Machine dimana pembeli es cukup memasukan koin ke mesin vending dan menempatkan truk di bawah pipa es, maka es secara otomatis akan keluar mengisi truk pembeli sesuai jumlah yang dibeli.

Setelah semua agenda kunjungan ekskursi selesai, peserta JENESYS 2.0 kembali ke hotel untuk beristirahat dan makan malam.

Hari Ketujuh. Pada tanggal 10 Maret 2015 merupakan hari terakhir peserta JENESYS 2.0 berada di Kesennuma City dan harus kembali ke Tokyo. Sebelum bertolak ke Tokyo menggunakan Shinkansen, peserta JENESYS 2.0 berkesempatan untuk berkunjung ke NPO (Non Profit Organization) “Mori Wa Umi No Koibito” yang memiliki arti,”Laut sahabat hutan, hutan sahabat laut”.

Di NPO ini, peserta mendapatkan sesi kuliah tentang ekosistem dan produktivitas primer di kawasan laut dan pesisir Kesennuma City serta dampak dari tsunami. Peserta juga mempelajari kepedulian masyarakat Jepang terhadap kondisi lingkungan. Mori wa umi no koibito tampak memegang teguh prinsip pembangunan berkelanjutan, mereka dapat menggunakan cangkang kerang sebagai media budidaya kerang yang baru.

Mori wa umi no koibito juga giat menanami kawasan terestrial yang mengarah ke laut dengan pohon. NPO ini meyakini kawasan hutan yang dikelola dengan baik, akan menjaga kestabilan ekosistem laut. Hal tersebut disebabkan kawasan terestrial mampu menyediakan nutrien yang berperan dalam produktivitas primer di lautan, melalui sungai yang mengalir ke arah laut. Sebagai informasi, kawasan mangrove di Jepang terdapat di Okinawa, di bagian selatan pesisir Jepang.

Setelah sesi kuliah usai, peserta JENESYS 2.0 segera bertolak menuju stasiun Ichinoseki untuk kembali ke Tokyo menggunakan Shinkansen. Sesampainya di Tokyo, para peserta check-in dan beristirahat di Hotel Sunroute Ariake.

Hari Kedelapan. Pada 11 Maret 2015, para peserta JENESYS 2.0 batch 35 melakukan berbagai aktivitas untuk mengenal kehidupan di Jepang. Peserta berkesempatan untuk mempraktekkan pembuatan sampel display makanan dari lilin dan silikon.

Peserta dapat berkreasi untuk membuat sampel makanan seunik mungkin hingga sampel tersebut tampak menarik dan menggugah selera makan. Kemudian peserta berkesempatan untuk mengunjungi salah satu ikon Tokyo, yaitu Kuil Sensoji dan Asakusa.

Setelah berwisata di Kuil Sensoji, peserta JENESYS 2.0 kembali ke hotel untuk melaksanakan Reporting Session. Reporting Session ini merupakan sesi presentasi dari peserta untuk menyampaikan konsep Cool Japan seperti apa yang dipelajari oleh peserta selama agenda JENESYS 2.0 berlangsung kepada organizer JOCA.

Reporting Session ini juga turut dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang, Prof. M. Iqbal Djawad, M.Sc, Ph.D. Acara Reporting Session ini disertai dengan Cultural Performance dari peserta JENESYS 2.0 dan Farewell Party antara peserta dan organizer JENESYS 2.0.

Hari Kesembilan. Kamis, 12 Maret 2015 merupakan hari terakhir peserta JENESYS 2.0 berada di Jepang. Peserta JENESYS 2.0 batch 35 langsung bertolak ke bandara Haneda Tokyo untuk kembali ke Indonesia.