10.3.15

Penebangan Mangrove dan Penurunan Tanah Ancam Pesisir Semarang

Semarang - KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 4 Maret 2015, KeSEMaT menghadiri Sosialisasi Pengelolaan Ekosistem Pesisir yang diselenggarakan oleh Balai Lingkungan Hidup (BLH) kota Semarang di Gedung Moch. Ichsan, Komisi C, Balai Kota Semarang. Selain KeSEMaT, sosialisasi tersebut dihadiri juga oleh berbagai kelompok tani, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan berbagai CSR perusahaan yang aktif bergerak di bidang lingkungan.

Banyaknya kasus penebangan mangrove dan masih awamnya pengetahuan masyarakat kota Semarang mengenai pentingnya ekosistem mangrove dan pesisir menjadi alasan diadakannya sosialisasi ini. Materi sosialisasi disampaikan oleh Dr. Rudhi Pribadi (Pembimbing) dari Universitas Diponegoro, Ibu Nana K. dari Universitas Negeri Semarang dan dimoderatori oleh Ir. Gunawan Wicaksono dari BLH Semarang.

Dr. Rudhi Pribadi menyampaikan materi mengenai Permasalahan Pengelolaan Pesisir dan Teknologi Pengelolaan Pesisir yang dapat diterapkan di kota Semarang. Banjir rob yang diperparah dengan meningkatnya angka land subsidence di Semarang membuat wilayah pesisir Semarang, semakin terancam. Dia menyatakan bahwa mangrove merupakan konsep pelestarian yang cocok diterapkan di wilayah ini.

Selain Dr. Rudhi Pribadi, Ibu Nana dari LP2M Universitas Negeri Semarang juga menyampaikan materi mengenai Pengelolaan Pesisir untuk Adaptasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat.

Menyambung materi yang telah disampaikan oleh Dr. Rudhi Pribadi, Ibu Nana berpendapat bahwa masyarakat sebagai pemilik wilayah-lah yang harus berperan aktif dalam mengelola ekosistem pesisir. Sosialisasi berjalan sekitar 90 menit, kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel hingga pukul 13.00 WIB.

Kesimpulan dari diskusi panel dan sosialisasi tersebut adalah mangrove merupakan konsep pelestarian yang cocok di wilayah Semarang, dan dibutuhkan peran aktif dan sinergisitas antara hukum dan berbagai elemen masyarakat serta pemerintah dan pihak swasta untuk mengelola ekosistem mangrove dan pesisirnya.