3.7.07

Tebang Mangrove, Bangun Perumahan!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Judul di atas ini bukan main-main. Tapi inilah empat siklus utama penyebab hancurnya mangrove di Indonesia bahkan dunia. Tebang mangrove, buka tambak, urug dengan tanah, lalu bangun perumahan! Bahkan foto di samping ini adalah foto yang menunjukkan betapa “kejamnya” kita ini kepada makhluk yang bernama mangrove. Kita seolah tak mau lagi memberi kesempatan kepada tumbuhan pesisir ciptaan Tuhan yang bernama mangrove itu, untuk sekedar hidup, bernafas, apalagi mengembangbiakkan keturunannya, seperti kita, manusia.

Foto yang berlatar belakang “urugan tanah” ini, diambil ketika saya dan teman-teman KeSEMaT melakukan survei penelitian mangrove di muara Sungai Bondo - Demak, Semarang. Lihatlah, begitu luasnya urugan tanah di belakang kami. Itu dulu adalah hutan-hutan mangrove yang seharusnya bisa melindungi kita dari bahaya abrasi dan tsunami. Lihatlah, betapa kita ini, manusia, telah merampas habitat mereka, telah merebut hak hidup mereka, dan telah mencuri rumah tinggal mereka. Memang benar, kita ini seakan sudah tak takut lagi dengan yang namanya dosa.

Kita telah sewenang-wenang menebangnya, tanpa mau melakukan penanaman kembali. Kita bertindak demikian, hanya demi sebuah tambak yang apabila sudah tidak produktif lagi, tambak itu akan kita tinggalkan, kita telantarkan, lalu kita jual kepada manusia lainnya, untuk dibangun perumahan dan kawasan industri. Astagfirullah! Ya, itulah salah satu mata rantai berbahaya, yang saat ini benar-benar mengancam keberadaan mangrove di Indonesia, bahkan dunia.

Reklamasi pantai untuk kawasan industri sedang marak terjadi di Semarang dan Demak. Wilayah yang dulunya hutan mangrove yang sangat lebat, kini makin menipis dan hanya terlihat puluhan Rhizophora mucronata saja (cermati bagian belakang foto). Mereka seolah-olah ketakutan dan menangis perih, karena tahu beberapa hari lagi harus merelakan nyawanya “dicabut” oleh manusia.

Empat siklus buatan manusia ini memang sangat kejam. Sekali lagi saya tegaskan, 4T (tebang, tambak, tanah dan tempat tinggal) ini sangat berbahaya. Hutan mangrove telah ditebang menjadi tambak, begitu tambak sudah tak produktif lagi, akhirnya dia diurug dengan tanah. Setelah itu, perumahan dan kawasan industri akan berdiri kokoh menggusur habitat hutan-hutan mangrove. Mangrove hilang, proteksi terhadap abrasi dan tsunami pun hilang, lenyap, tanpa bekas.

Jangan tanya lagi akibat hilangnya mangrove. Panasnya temperatur udara di Semarang, adalah salah satu akibat yang dirasakan saat ini. Pada diskusi “Waspadai Bahaya Laten Global Warming” di Hotel Ciputra yang diinisiasi oleh SMART FM Semarang kemarin, berbagai wacana dan pandangan telah dilontarkan oleh praktisi lingkungan di Semarang. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah wacana tentang gerakan tanam seribu pohon yang harus dimulai dari diri kita sendiri, di setiap rumah kita masing-masing.

Namun kiranya perlu saya ingatkan, pengertian pohon disini bukan berarti hanya pohon darat saja, melainkan juga pohon pesisir bernama mangrove. Jadi kalau mau mulai menggalakkan program tanam seribu pohon, kita jangan hanya menanam pohon-pohon darat di samping pekarangan rumah kita saja melainkan juga harus berani pergi ke pesisir dan menanam bibit-bibit mangrove di sana.

Sebagai tambahan informasi, mangrove termasuk tumbuhan yang menyumbang oksigen terbesar sehingga mampu melindungi bumi dari karbondioksida dan metana penyebab pemanasan global yang mengancam kehidupan manusia.

Jadi, kalau ada program tanam seribu pohon (darat), tidak semestinya kita lupa dengan tanam seribu pohon (pesisir) yaitu mangrove. Jangan seperti sekarang, di darat ramai-ramai menggalakkan program tanam seribu pohon, di pesisir, malah berani menyelenggarakan program tebang seribu pohon. Jangan sampai terjadi.

Saya yakin seratus persen, pemerintah kita ini masih pemerintah yang baik hati dan berpihak kepada mangrove. Tapi pertanyaannya, benarkah keyakinan saya ini? Semoga saja.