20.9.08

Siapa Bilang Jadi KeSEMaTER, Enak?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Minggu-minggu ini, beberapa rekan yang mengirimkan emailnya kepada kami, seolah-olah memiliki pendapat yang sama. Mereka menyetujui-bersama bahwa menjadi seorang KeSEMaTERS adalah enak. Bisa bergabung dengan Keluarga Besar KeSEMaT adalah keren. Bahkan, beberapa dari mereka sangat ngebet, ingin sekali segera mengikuti rangkaian KeSEMaTHUNT 2008, yang masih lima bulan lagi, digelar. Tak cukup di situ, ada juga rekan mahasiswa yang mengusulkan agar KeSEMaTHUNT diadakan dua kali dalam setahun, agar mereka mendapatkan lebih banyak kesempatan-lagi, menjadi KeSEMaTERS.

Sempat “shock,” mendapatkan email-email yang bernada seperti itu, jujur kami tak menyangka sebegitu hebatnya minat masyarakat terhadap komunitas mangrove mahasiswa, ini. Sebuah organisasi mangrove mahasiswa yang dibangun atas dasar konsep gerakan moral belaka, yang tak pernah menawarkan, pun menjanjikan apa-apa kecuali pengetahuan mangrove dan secuil pahala dari-Nya, kini begitu diperhatiani oleh banyak orang. Kami tak sadar, bahwa begitu banyak Rekan-rekan yang mencintai kami.

Seraya berucap terima kasih kepada mereka lewat email balasan kami, di perjalanan kami yang baru akan genap tujuh tahun pada tanggal 9 Oktober 2008 nanti, perlu kami sampaikan bahwa sebenarnya tidak enak menjadi KeSEMaTERS, itu. Mengapa? Karena banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi dalam berjuang melestarikan mangrove di pesisir yang penuh dengan intrik dan konflik kepentingan.

Buktinya, kami sendiri yang sudah enam tahun ini mendampingi KeSEMaT, seolah tak pernah cukup untuk terus menerus mengeluarkan cucuran keringat, tetesan darah dan linangan air mata, hanya demi mempertahankan “proyek-idealis-mangrove” kami.

Siang-malam, kami telah banyak bekerja memeras otak dan tenaga kami, hanya untuk mengonsep berbagai program dan kegiatan mangrove untuk diaplikasikan langsung ke masyarakat pesisir. Hal ini, tak ayal lagi, seringkali menyebabkan kuliah kami terlantar.

Namun, untunglah Yang Maha Baik di atas sana mengerti. Pertolongan dan kemudahan dari-Nya, tak henti-hentinya terus berdatangan. Walaupun jumlah kami sedikit, Rekan-rekan kami yang tergabung di dalam KeSEMaT’s Mangrove Volunteer (KeMANGTEER), tak segan-segan siap menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu kami, bekerja di pesisir. Inilah, salah satu bantuan terbesar yang telah diberikan oleh-Nya, kepada kami.

Selanjutnya, asal tahu saja, setelah Anda menjadi seorang KeSEMaTERS, Anda akan banyak bekerja seraya mencurahkan dan menghabiskan segenap pikiran dan tindakan Anda untuk mangrove. Jeleknya, KeSEMaT tak akan membayar sepeserpun atas hasil kinerja Anda terhadap mangrove, itu. Artinya, semua biaya-kerja pengelolaan mangrove-ini, Anda sendirilah yang harus menanggungnya.

KeSEMaT memang layaknya wadah yang berfungsi mengkoordinasi jiwa-konservasi-sukarela Anda. Organisasi mangrove mahasiswa ini, tak akan pernah memanjakan Anda dengan segepok uang gaji dan fasilitas lengkap nan mewah kecuali T-shirt, makan, minum, stiker dan sertifikat di setiap pekerjaan mangrove yang diadakannya.

Lihatlah foto di atas, dalam setiap kali melakukan Rapat Kabinet, saat itu pula kami seringkali “bertengkar.” Banyak sekali pendapat, ide, pemikiran dan usulan kami, yang saling bertentangan satu sama lain. Sebuah konsep “Penanaman Dua Kali” yang kemarin baru saja diimplementasikan di Mangrove Conservation (MANGCON) 2008 misalnya, keputusan akhirnya baru kami dapatkan setelah rapat dua kali waktu pertandingan sepakbola.

Saat implementasi program MANGCON 2007, tak jarang pula kami harus memeras banyak tenaga hanya demi mempertahankan kelulushidupan bayi-bayi mangrove, kami. Agustus 2007, kami “diwajibkan” oleh alam, untuk memonitoring perkembangan kehidupan bibit-bibit mangrove kami, di bulan puasa. Walaupun suhu sangat terik, sembari menahan haus dan lapar, naik motor tua tanpa dibayar, jarak Kantor KeSEMaT dengan lokasi penanaman yang lebih dari 10 KM, tak pernah ragu, kami lewati. Sesampai di lokasi, kami langsung terjun ke lumpur mangrove, bergulat dengan lumpur dan menegakkan kembali ajir-ajir yang mulai roboh tersapu gelombang ganas.

Anda lihat, betapa tidak enaknya menjadi seorang KeSEMaTERS. Sudah capek-capek bekerja untuk mangrove tapi kita tak akan dapat bayaran sepeserpun. Bahkan, kita “diharuskan” untuk rela membelanjakan uang kita, demi pekerjaan mangrove-kita, itu. Bagi Anda yang berminat menjadi KeSEMaTERS, coba deh dipikir ulang. Dimana enaknya menjadi KeSEMaTERS, itu?

Namun kami tidak tahu, bahwa justru konsep yang seperti inilah, kiranya konsep yang sangat diminati oleh masyarakat. Satu hal yang kiranya membuat masyarakat tertarik adalah konsep gerakan moral yang selalu dijunjung tinggi oleh KeSEMaT. Cermatilah sebuah email yang datang dari Mas Haris, seorang mahasiswa dari Lampung yang mengatakan “Tak peduli apa hambatan dan tantangan ke depannya, yang penting saya bisa bekerja untuk mangrove, biaya bisa diatur, yang penting, saya bisa menerapkan konsep gerakan moral dengan penuh keikhlasan dan semangat kesukarelawanan.”

Membaca email ini, jujur kami trenyuh. Untuk itulah, kami kira, kami tak usah berpanjang lebar lagi meneruskan artikel, ini. Email dari Mas Haris, kami kira sudah merupakan jawaban mengapa konsep gerakan moral ini, begitu diminati. Kalau memang demikian yang diinginkan oleh masyarakat, kami hanya bisa berkata, Alhamdulillah.

Terima kasih, bahwa semangat konservasi yang ingin Anda tunjukkan (kepada alam), tanpa ada pamrih sama sekali kecuali hanyalah sebuah niatan tulus untuk mencoba menyelamatkan dam meneruskan generasi mangrove di pesisir-pesisir Indonesia. Kalau begitu, selamat bergabung dengan KeSEMaT, menjadi seorang KeSEMaTERS! Mari menyelamatkan ekosistem mangrove kita. SEKARANG!

1 comment: