7.9.08

Kabar Mangroving : Yang Muda yang Makin Manja!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping ini. Bapak yang di samping KeSEMaTERS ini adalah Bapak Suluri, seorang Ketua Kelompok Tani Mangrove di Mangkang Semarang. Walaupun usianya sudah berkepala enam, namun beliau tetap setia memimpin kelompoknya dalam mengelola mangrove di sekitar tempat tinggalnya. Foto diambil pada saat KeSEMaT mengadakan program penanaman mangrove di Mangkang, Agustus 2008. Terlihat KeSEMaTERS sedang berdiskusi dengan beliau, mengenai teknik-teknik penanaman mangrove.

Pada saat kami bekerjasama dengan beliau, kami perhatikan bahwa Bapak yang seharusnya sudah pensiun dan tinggal menikmati hasil kerjanya di rumah, tetap “ngotot” turun ke lapangan ke lumpur-lumpur mangrove yang becek untuk mengelola daerah mangrovenya. Padahal, anak buahnya sangat banyak. Kalau mau, Bapak yang tetap semangat di usia tuanya ini, tinggal main suruh saja ke para bawahannya. Ditanggung, semua pekerjaan lapangan akan beres semua karena para generasi penerusnya adalah para muda yang kuat dan cekatan.

Tapi tidak! Bapak Suluri bukan tipe orang yang seperti itu. Beliau bukan orang yang sukanya mau enaknya sendiri tanpa memberikan contoh yang baik kepada penerusnya. Setiap pagi, beliau tetap rajin pergi ke tambak, terjun langsung ke lapangan, untuk membibitkan propagul menjadi bibit mangrove yang siap tanam di kebun bibitnya. Bahkan, beliau sendirilah yang juga masih menanami lahan tambaknya dengan ribuan bibit mangrove dan membersihkan rumah mangrovenya dari sampah dan tanaman pengganggu.

Bandingkan sikap beliau dengan ulah kita, para generasi muda, ini. Bila diajak ke lapangan untuk survei, menanam dan memelihara mangrove, bertrilyun-trilyun alasan selalu saja kita sampaikan. Berbagai alasan tak berdasar itu, apalagi kalau bukan untuk membentengi diri kita dari segala bentuk sikap kemalasan, egoisme, kekanak-kanakan, mau menang sendiri, tak mau peduli dengan mangrove, bebal, tak mau bersusah payah, dan sikap buruk lainnya yang kita miliki. Astagfirullah!

Kalaupun mau terjun langsung ke lapangan, paling-paling hanya mengharapkan gaji dan honorarium yang besar, saja, tanpa ada sedikitpun rasa ikhlas tak berpamrih apa-apa. Sedikit sekali, generasi muda kita yang mau bekerja untuk mangrove, dengan cara menerapkan sikap yang tersebut terakhir ini. Kami ingatkan, sejatinya mangrove itu tidak butuh uang kita. Mereka akan lebih bergembira apabila kita mau menyapa mereka dengan cara menyentuhnya secara langsung lewat penanaman mangrove yang kita lakukan dengan tangan-tangan kecil kita.

Tolong, janganlah hanya membagi-bagikan uang kita kepada para pekerja penanaman mangrove, untuk kemudian tak mau terjun langsung ke pesisir, tetapi malahan hanya bersembunyi di balik meja kantor kita! Ini sikap buruk yang sangat tidak pantas untuk kita lakukan. Sebagai generasi penerus, sudah seharusnya kita bisa meneladani sikap luhur Bapak Suluri di atas.

Selanjutnya, sebuah paradigma “Kalau tua sedikit saja, limpahkan pekerjaan kita kepada yang lebih muda dari kita!” kiranya tak berlaku di dunia-pekerjaan-mangrove. Kalau masih saja ada anggapan bahwa program penanaman mangrove hanya diperuntukkan bagi orang muda, saja. Anda pasti salah!

Sekali lagi, kami utarakan kepada Anda bahwa penanaman mangrove tak ada sangkut pautnya dengan usia manusia. Siapapun, umur berapapun, dari anak-anak sampai dengan kakek-kakek, semuanya wajib melakukan penanaman mangrove. Apa pasal? Karena tanpa terkecuali, kita ini manusia, di semua tingkatan umur kita, telah banyak berdosa kepada mangrove dan kita wajib “menebus dosa kita” dengan memperbanyak program-program penanaman mangrove.

Ingatlah, bekerja dengan mangrove berarti bekerja dengan konsep gerakan moral kita. Kesampingkan konsep pendekatan proyek-mangrove: “Tak ada uang tak ada kerja,” yang milyaran uangnya banyak dikorupsi itu! Sebaliknya, kumpulkanlah uang kita secara bersama-sama, lalu belanjakanlah untuk membeli propagul dan atau bibit mangrove, serta sedikit fasilitas berupa makanan dan minuman untuk kita konsumsi pada saat kita melakukan kerja bakti penanaman bayi-bayi mangrove kita.

Akhir kata, tanpa memandang usia, kita semua wajib terjun ke lapangan dan melaksanakan “penebusan dosa” kita dengan cara melakukan penanaman mangrove dengan konsep pendekatan moral, secara bersama-sama.

Dan, kita yang muda-muda ini, janganlah menjadi generasi muda yang makin manja yang tak mau turun langsung ke pesisir untuk menanam mangrove. Tolonglah, jangan hanya menjadi generasi penerus yang kerjaannya hanya sembunyi di balik meja kerja kita, saja. Salam MANGROVER!