14.9.07

Bayi Mangrove Kami Tidak Sakit Lagi

Semarang - KeSEMaTBLOG. Kali ini, bayi mangrove kami tidak sakit flu. Tapi hanya sedang rewel, saja. Mereka juga tidak berada di Trimulyo Semarang, melainkan di sebuah desa kecil bernama Teluk Awur Jepara, dua jam perjalanan dari Semarang. Setelah ditanam dua bulan yang lalu di program Mangrove REpLaNT (MR) 2007, sampai dengan 11 September 2007 (pada saat KeSEMaT melakukan program monitoring bibit KeSEMaT Goes To Arboretum (KGTA) untuk yang kesekian kalinya), ternyata di Lokasi I (samping Asrama Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP), hanya 20% saja bayi-bayi mangrove kami yang mau tumbuh dengan baik.

Tentu saja, hal ini membuat kami sedih. Lihatlah foto di samping ini, KeSEMaTers nampak membelai (baca: memperbaiki ajirnya yang roboh dan menanamnya kembali secara benar) satu buah bayi mangrove kami yang sedang rewel. Di belakangnya, terlihat hanya tinggal ajir-ajir kosong yang ditinggal bibit mangrove-nya.

Beda dengan di Trimulyo Semarang, plastik dan pencemaran bukan menjadi masalah yang berarti. Bahkan, di Teluk Awur Jepara, tingkat pencemarannya sangatlah kecil. Lalu mengapa bayi-bayi mangrove kami rewel, dan tak mau tumbuh besar? Setidaknya, ada beberapa penyebab mengapa bayi mangrove kami, rewel, diantaranya:

1. Pada tanggal 20 – 22 Juli 2007, penanaman mangrove mulai dilakukan di sebuah laguna yang memiliki substrat keras yaitu pasir-berkarang bercampur lumpur. Pada saat penanaman, laguna nampak tergenang sehingga meyakinkan kami bahwa pasang surut yang menjadi syarat utama hidupnya mangrove, bisa terpenuhi dengan baik. Pun, saluran air yang menyuplai air laut ke laguna, kami lihat juga berfungsi dengan baik. Namun, setelah beberapa hari, ternyata saluran air itu tertutup, sehingga bayi-bayi mangrove kami tak mendapatkan suplai air laut karena tidak terjadinya pasang surut. Bayi-bayi kami kekeringan, kehausan dan tak mendapatkan jatah air minumnya. Inilah salah satu penyebab mengapa bayi-bayi kami rewel, sehingga tak mau tumbuh dengan baik.

2. Sebab kedua adalah cara penanaman yang tidak sempurna. Memang, bibit sudah diikat secara benar di ajir, dan polybag-pun juga sudah dibuka dengan baik. Namun pada saat menanam bibit ke dalam tanah, agaknya banyak peserta MR yang menanam bibit mangrove secara asal-asalan alias kurang dalam. Mereka hanya menanam di permukaan tanah saja, tak sampai sepertiga bagian tinggi bibit. Pada saat penanaman, laguna dalam keadaan tergenang, hal ini diduga menyulitkan peserta MR, sehingga tidak bisa menentukan berapa dalam bibit mangrove harus ditanam, akibatnya hasil penanamannya tidak bisa maksimal. Walaupun KeSEMaT sudah menyuluh mengenai teknik penanaman mangrove yang benar, tergenangnya laguna nampaknya menjadi permasalahan yang serius. Banyak peserta yang tak bisa melihat dengan jelas kedalaman substrat bibit mangrove, yang telah mereka tanam. Akibatnya, banyak ditemukan bibit mangrove yang roboh dan mati.

Agaknya, dua hal inilah yang menjadi penyebab, mengapa bibit-bibit mangrove kami rewel. Penyebab lain seperti ketidaksesuaian substrat dengan jenis bibit mangrove yang ditanam, bisa jadi merupakan penyebab lainnya. Namun, sepertinya ini merupakan penyebab kecil saja, dan tak terlalu berpengaruh. Dua buah bibit mangrove yang ditanam yaitu Ceriops tagal dan Rhizophora mucronata adalah juga merupakan spesies yang bisa tumbuh baik di lokasi. Setidaknya ada empat buah spesies-dominan di lokasi penanaman bayi mangrove kami yang bisa tumbuh dengan baik, yaitu C. decandra, C. tagal, Rhizophora mucronata, R. apiculata, Avicennia marina, dan Bruguiera gymnorrhiza.

Rekomendasi ke depan, tentu saja penggalian saluran air dan penyulaman kembali bibit mangrove yang telah mati, akan segera dilakukan oleh KeSEMaT. Semoga saja, di beberapa hari ke depan, dengan penyulaman dan teknik penanaman yang benar, bayi-bayi mangrove kami tidak akan rewel lagi, dan bisa tumbuh dengan maksimal. Amin.

Kami berharap, pengalaman KeSEMaT ini, bisa membantu Anda yang memiliki program konservasi mangrove seperti kami. Mari bersama menyelamatkan ekosistem mangrove kita. Selamatkan mangrove kita. SEKARANG!