11.10.15

Cegah Pemanasan Global Lewat Mangrove REpLaNT 2015

Kendal - KeSEMaTBLOG. Ada event keren yang diselenggarakan oleh KeSEMaT, bertajuk Mangrove REpLaNT (MR) 2015: Mangrove For Climate Change Mitigation (2-4/10). Selama tiga hari pelaksanaan, peserta dari seluruh Indonesia dibekali dengan pengetahuan mangrove yang dikonsep pelatihan dan seminar nasional bertema fungsi mangrove dalam membentengi bumi dari dampak pemanasan global.

Di hari pertama, peserta diajak berkenalan satu sama lain dengan konsep game yang menarik, dimana masing-masing peserta dipakaikan topi bertuliskan segala hal yang berhubungan dengan mangrove dan saat moderator membacakan kalimat yang ada di topi, peserta diwajibkan menjelaskan mengenai hal yang diketahuinya mengenai tulisan tersebut.

"Kami ingin mengajak para peserta untuk mendalami mangrove. Kami tahu bahwa mereka memiliki latar belakang mangrove yang berbeda, maka dari itu kami mengajak mereka berdiskusi dengan cara yang santai tapi tetap serius," jelas Aktia, sang Ketua Panitia saat ditemui di Asrama Balatkop dan UMKM Jawa Tengah di Semarang.

Di hari kedua, KeSEMaT mendesain MR 2015 dengan banyak pelatihan, mulai dari pelatihan pengenalan mangrove, pembibitan mangrove, penanaman dan penyulaman mangrove, batik mangrove, yang ditengah-tengahnya disisipi dengan seminar nasional.

"Kali ini kami menghadirkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wetlands International Indonesia (WII) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai pembicara semnas. Untuk pelatihannya, kami bekerjasama dengan Yayasan IKAMaT, untuk melatih para peserta dengan beragam pelatihan," ungkap Fahmi, Presiden KeSEMaT.

Peserta MR 2015 berjumlah 26 orang yang merupakan peserta terpilih, didominasi oleh peserta dari luar kota Semarang, seperti Bali, Yogyakarta, Malang, Jakarta, Cilacap, Bogor, Malang, Surakarta, Rembang, Blora dan lain-lain.

"Senang sekali akan ada pelatihan batik mangrove. Sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu bahwa propagul mangrove yang jatuh dan membusuk bisa dimanfaatkan menjadi batik yang bernilai tinggi," kesan salah seorang peserta.

Selain beragam pelatihan, di semnas dijelaskan juga mengenai mangrove yang semua bagiannya mampu menyerap karbon sehingga dapat meredam pemanasan global. Dijelaskan juga bahwa apabila mangrove ditebang, maka fungsinya sebagai penahan abrasi dan peredam gelombang tsunami juga akan hilang.

Tampilan band mangrove besutan KeSEMaT, yaitu KeSEMaTUSTIK mampu memeriahkan acara. Semnas yang dibuka langsung oleh BLH Jawa Tengah ini, memang mengangkat tema yang lumayan berat, namun peserta nampak antusias menyimak.

Pelatihan mangrove dimulai dengan penjelasan mengenai ekosistem mangrove. Aditya selaku pembicara menjelaskan mengenai ekologi mangrove secara umum, seperti ciri-ciri, tempat hidup, komponen, dan lain-lain.

"Saya menjelaskan mengenai prinsip-prinsip mangrove secara umum. Saya lihat para peserta sudah memiliki pengetahuan mangrove yang cukup karena beberapa ada yang S2 dan S3, jadi saya ingin banyak berdiskusi saja dengan mereka," jelas surveyor dari Yayasan IKAMaT yang sudah melanglang buana ke beberapa pulau terluar di Indonesia.

Pelatihan batik mangrove juga banyak diminati, terbukt dari banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta. Rata-rata mereka penasaran dengan proses pembuatan buah mangrove yang busuk menjadi pewarna batik.

"Masing-masing peserta saya minta untuk menuliskan namanya ke sample kain batik, kemudian dicelup dan diikat warnanya dengan pewarna batik mangrove jenis Rhizophora. Sample mangrovenya bisa dibawa pulang, untuk oleh-oleh peserta," ujar Defriza, trainer dari Batik Bakau.

Pelatihan pembibitan mangrove juga tak kalah seru. Kamto Wahyono dari Yayasan IKAMaT memberikan informasi mengenai teknik membibitkan mangrove berbagai jenis mangrove, diantaranya Bakau (Rhizophora), Brayo (Api-api) dan Bogem (Sonneratia). Owner Mas Jamang, label jajanan mangrove asli Semarang ini juga menjelaskan mengenai teknik pembibitan mangrove yang umum diimplementasikan oleh warga pesisir di Indonesia.

Malam harinya, setelah beberapa game interaktif untuk mengulang materi yang telah disampaikan, panitia menghadirkan Hary Prayogi, trainer dari IKAMaT yang memaparkan pengalamannya mangroving ke kota-kota pesisir di seluruh Indonesia, menjelaskan mengenai teknik penanaman dan pemeliharaan mangrove yang dilakukan oleh warga setempat.

"Teknik penanaman mangrove yang digunakan bermacam-macam, ada metode kubangan, banjar harian, selongsong bambu, dan lain-lain. Metodenya menyesuaikan adat dan budaya masing-masing daerah," jelasnya.

FGD menjadi ajang yang menarik, karena membahas mengenai reklamasi di Teluk Kendari yang melibatkan empat elemen, yaitu warga, LSM, investor dalam hal ini perusahaan dan pemerintah. Peserta dibagi menjadi empat kelompok dan memposisikan dirinya sebagai keempatnya.

Pro dan kontra selama FGD banyak terjadi, seputar setuju tidaknya alih fungsi hutan mangrove di sana menjadi perumahan dan pertokoan.

Di hari terakhir, dilakukan penanaman 5000 bibit mangrove jenis Rhizophora di Kendal. Peserta dan panitia bersama-sama menanam bakau di pantai Wonorejo yang memiliki tingkat abrasi yang cukup tinggi.

"Pantai-pantai di Kendal tercatat sebagai pantai dengan abrasi yang cukup tinggi. Diduga ini terjadi karena pembangunan kawasan industri di Semarang, yang pada akhirnya menyebabkan hantaman gelombang mengarah ke sini. Ini juga diperparah dengan penebangan mangrove," jelas Aktia. 

Sesampainya di Wonorejo, peserta ternyata harus menempuh jarak 2 km dengan berjalan kaki sambil membawa bibit mangrove, sebelum sampai di lokasi tanam. Meskipun harus menempuh jarak yang cukup jauh, namun peserta tetap antusias.

Selama perjalanan, peserta dan panitia melewati area pertambakan yang disetiap pematangnya ditumbuhi mangrove. Selain itu, angin sepoi-sepoi membuat suasana perjalanan makin asyik dan santai untuk dinikmati.

“Lokasi tanam ini kami pilih karena sebelumnya kami sudah melakukan survei lapangan, dan melihat kondisi substrat yang kami yakin cocok untuk kehidupan bibit dengan jenis Rhizophora sp. Selain itu, lokasi tanam ini juga rekomendasi dari kelompok tani mangrove setempat,” ujar Aktia.

Lokasi tanam berada di tepi saluran inlet - outlet dengan lebar 1 m. Siapa sangka, saluran yang memberikan suplai air pada mangrove ini memiliki kedalaman lumpur hingga paha orang dewasa. 

Meskipun peserta berjibaku dengan lumpur, namun salah satu peserta, Komang mahasiswi S2 UGM mengaku senang bisa mengikuti kegiatan penanaman ini. Ditemui sedang nyemplung di lumpur,

“Yang pasti seru banget bisa menanam langsung di Kendal. Ini bukan pengalaman pertama nanem mangrove, tapi ini pengalaman pertama saya nanem mangrove di Kendal,” ujarnya disela-sela nanem. "Semoga kegiatan seperti ini bisa berlanjut terus, ngga di satu tempat aja, tapi bisa di lokasi-lokasi lainnya dan terus berkelanjutan,” tambahnya.

Selama tiga hari, peserta MR 2015 disuguhi dengan berbagai macam materi mengenai mangrove, baik teori maupun praktek. Mulai dari pengenalan mangrove, pengembangan produk olahan mangrove, dan bagaimana cara merawat mangrove.

Diharapkan bagi seluruh peserta, setelah kembali ke asalnya masing-masing, dapat membagikan apa yang telah didapatkan dalam acara ini. Selain kegiatan penanaman, peserta juga berkunjung ke wisata sejarah di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang.

“Besar harapan saya, keberlanjutan acara ini dapat memberikan dampak positif, tidak hanya bagi peserta yang terlibat secara langsung, namun tiap peserta juga mampu membagikan dan mengkampanyekan mangrove di daerahnya masing-masing.” ujar Fahmi, Presiden KeSEMaT. (Sumber: MANGROVEMAGZ).