18.8.09

Mangrove Belum Merdeka!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Di setiap peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia seperti ini, kami sebenarnya sedih. Mengapa demikian? Kami sedih karena di saat Indonesia telah merdeka dari penjajahan, tapi sebuah lingkungan yang terletak di pesisirnya, bernama mangrove, ternyata belum terlepas dari belenggu penjajahan dari kita. Ya, kita ini sebagai penjajah mangrove, masih saja tega membelenggunya dengan terus menerus melakukan serangan ke arahnya, berupa reklamasi lahan, penebangan pohon, pembuangan sampah dan kegiatan merusak lainnya di tempat tinggal mangrove.

Seolah tak mau kalah dengan Belanda yang menerapkan Rodi dan Jepang dengan Romusha-nya, kita ini memaksa mangrove untuk melakukan kerja paksa, demi kepentingan kehidupan kita yang lebih bahagia.

Tengoklah, sudah berapa hektar habitat mangrove yang sudah kita urug dengan tanah demi membangun tempat tinggal kita. Lalu, lihatlah pula, sudah berapa buah pabrik yang juga telah kita dirikan di kediaman mangrove, itu. Tak cukup disitu, luasan tambak-tambak ikan dan udang yang semakin hari semakin meningkat, juga tak ayal lagi kita letakkan di situ dengan cara menebangi ribuan pohon mangrove. Maka, dengan demikian apakah kita tidak sadar bahwa sebenarnya, kita telah menjajah mangrove dengan merampas hak-haknya untuk hidup layak di tempat tinggalnya sendiri (?).

Untuk itulah, di 17 Agustus seperti ini, walaupun memang kami tak bisa menyembunyikan rasa bahagia sekaligus rasa syukur kami atas kemerdekaan Indonesia yang sudah terlepas dari penjajahan, namun terkadang kami juga tak habis pikir, mengapa kita seolah tak sadar bahwa mangrove belum merdeka. Segala gelak tawa, bermacam permainan, berbagai bentuk perayaan, upacara dan seremonial lainnya untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, rasanya tak berarti lagi, apabila kami memikirkan nasib sedih mangrove, di bumi yang sudah merdeka, ini.

Selanjutnya, apabila kami melihat perayaan tujuh belasan yang berlebihan bahkan tidak pro lingkungan pesisir terutama mangrove, maka rasa sedih kami semakin menjadi-jadi. Seharusnya, perayaan kemerdekaan itu, tak hanya dirayakan dengan hura-hura dan upacara bahkan pemecahan rekor, segala. Akan tetapi, akan jauh lebih baik, apabila juga dilakukan sebuah aksi massal untuk melakukan kegiatan yang bertujuan untuk pelestarian ekosistem pesisir, tersebut (lihat foto di atas. KeSEMaTERS sedang melakukan penanaman mangrove di Desa Tanggul Tlare – Jepara, dalam program KGTC 2009).

Sebuah upacara dan segala bentuk seremonial dalam merayakan hari jadi Indonesia tentulah sebuah kewajiban. Namun, setelah seremonial ini berakhir, kiranya tak ada timbal balik apapun yang kita berikan kepada lingkungan yang telah memberikan tempatnya kepada kita, untuk melaksanakan upacara tersebut. Apakah hal ini tak kita sadari (?).

Selesai upacara di daerah mangrove, misalnya, selain sampah bekal-makanan dan minuman kita, maka tak ada lagi yang ditinggalkan. Sampah plastik dan kardus ini, menumpuk di lumpur-lumpur mangrove dan sekeliling akar Rhizophora. Tidak itu saja, asap pembakaran motor dan mobil, kiranya juga memenuhi hutan mangrove sehingga membuat bibit-bibit mangrove yang baru ditanam keracunan. Sungguh, kita ini tak tahu balas budi. Kenyataan ini, terjadi di mangrove, entah apakah kebiasaan perayaan HUT Indonesia ini juga terjadi di ekosistem pesisir lainnya, seperti (1) padang lamun, (2) terumbu karang dan (3) daerah rumput laut, dan ekosistem pegunungan. Jika benar terjadi, maka kita ini memang tak tahu diri. Kita merayakan kemerdekaan diatas penderitaan lingkungan kita. Astaghfirullah!

Maka, sungguh, apabila sebuah upacara kemerdekaan dilakukan di daerah mangrove, akan lebih baik lagi, apabila setelah upacara di mangrove - yang hanya diperuntukkan demi pemecahan rekor semata sebagai peserta upacara di mangrove dengan jumlah peserta terbanyak - selesai, kita juga melakukan aksi langsung penanaman mangrove dengan mengajak semua peserta upacara.

Kegiatan penanaman mangrove seperti ini, selain untuk merayakan HUT Indonesia, juga akan memperbesar hak mangrove dalam mendapatkan haknya kembali. Hal ini, sekaligus juga akan semakin memperkecil ruang gerak penjajahan kita terhadap tumbuhan pesisir yang terancam punah, ini. Semoga, di tahun-tahun berikutnya, tak ada lagi euforia yang berlebihan dalam merayakan hari jadi Indonesia tanpa dibarengi dengan sebuah aksi kepedulian terhadap mangrove dan lingkungan pesisir lainnya. Salam MANGROVER!