6.1.10

Teknik Penanaman Mangrove di Dalam Selongsong Bambu!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Bulan Januari 2010 ini, program pembangunan pemecah gelombang dan penanaman bibit mangrove dengan bantuan selongsong bambu dalam rangka pelaksanaan proyek rehabilitasi kawasan pesisir Tapak hasil kerjasama Yayasan BINTARI, KeSEMaT, FoE Jepang dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Semarang, mulai dilaksanakan di pesisir Dusun Tapak. Lihatlah foto di samping ini. Terlihat Bapak Eko, yang merupakan salah satu anggota dari kelompok tani nelayan setempat, melakukan penanaman bibit Rhizophora dengan bantuan selongsong bambu untuk memperkuat dan melindungi batang bibit mangrove dari terjangan ombak.

Penanaman mangrove dengan cara seperti ini, memang telah disetujui dan disepakati bersama dengan harapan mampu meminimalisir kematian bibit mangrove sehingga pertumbuhan bibit mangrove bisa berjalan lebih optimal. Selain itu, pemilihan bambu dan bukan pipa paralon dalam teknik penanaman ini, lebih ditujukan kepada pemberdayaan masyarakat agar masyarakat bisa merasa “memiliki” dan timbul kepeduliannya terhadap proyek rehabilitasi mangrove ini, karena bambu bisa dibeli dan diusahakan secara mandiri oleh warga setempat.

Berikut ini adalah sedikit ilustrasi mengenai teknik penanaman bibit mangrove menggunakan selongsong bambu yang dipraktekkan di dusun Tapak Kecamatan Tugu, Semarang:
1.Bibit mangrove diambil dari kebun bibit mangrove hasil pembibitan yang dilakukan secara mandiri dan swadaya oleh kelompok tani nelayan Tapak. Bibit mangrove yang diambil adalah bibit mangrove yang telah berumur kurang lebih tiga sampai dengan enam bulan.
2.Bibit mangrove diangkut dengan perahu, ke lokasi penanaman yang terletak di pesisir pantai.
3.Bibit mangrove ditanam di sekitar bangunan pemecah gelombang yang dibangun menggunakan ban-ban bekas yang diperoleh dari warga sekitar dengan tujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitar tapak dan menerapkan konsep kearifan lokal.
4.Bibit mangrove ditanam di dalam selongsong bambu untuk bibit mangrove yang ditanam di bagian depan pemecah gelombang dan ditanam secara normal menggunakan ajir dan tali rafia untuk bibit mangrove yang terletak di bagian belakang pemecah gelombang (di sepertiga bagian pematang tambak yang telah dilebarkan).
5.Penanaman dilakukan dengan dua teknik, disesuaikan dengan kondisi pesisirnya. Teknik pertama adalah dengan cara menanam selongsong bambu terlebih dahulu baru kemudian bibit mangrove dimasukkan ke selongsong bambu yang berlubang-sempurna dan telah terpenuhi dengan media lumpur, tersebut. Selanjutnya, cara yang kedua adalah bibit mangrove ditanam terlebih dahulu ke dalam substrat, baru kemudian selongsong bambu ditanam hingga keseluruhan bagian bibit tertutup kecuali batang dan daun bagian atas.
6.Selongsong bambu diletakkan secara zig zag (depan dan belakang) dengan tujuan untuk meminimalisir kekuatan gelombang. Jarak tanam yang dipergunakan adalah ½ m x ½ m karena tujuan penanaman lebih difungsikan sebagai penahan gelombang dan bukan sekedar penghijauan pantai.
7.Setelah kurang lebih tiga tahun, maka bambu akan lapuk dengan sendirinya, disaat sistem perakaran bibit mangrove telah kuat menopang tubuhnya. Bambu yang lapuk tidak akan mencemari perairan pesisir karena akan terurai secara alami.

Demikian, sedikit informasi mengenai teknik penanaman mempergunakan selongsong bambu. Semoga, konsep penanaman ini, apabila memungkinkan dari sisi anggaran, budaya dan adat setempat, bisa juga diadopsi di wilayah pesisir Anda, masing-masing. Salam MANGROVER!

No comments:

Post a Comment