25.8.11

Reportase Kondisi Mangrove di Karang Talun, Tritih Kulon, Cilacap

Tritih Kulon – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 23 Agustus 2011, Sdr. Kamto Wahyono (staf MENDIKTAN) telah melakukan peninjauan kondisi ekosistem mangrove sekaligus berwisata mangrove di hutan kota, hutan wisata payau yang berada di desa Karang Talun kecamatan Tritih Kulon kabupaten Cilacap. Hutan payau didirikan pada tahun 1978 dan baru dijadikan hutan kota berdasarkan keputusan Bupati Cilacap pada tanggal 2 Maret 2009, dengan luas 10 hektar. Lokasi hutan langsung berbatasan dengan area pesawahan warga dan hanya dibatasi oleh pematang saja (unik bukan?).

Menurut penuturan warga, mangrove yang berada di lokasi ini, mendapat suplai air payau dari sungai Lester yang langsung terhubung dengan laut. Sementara itu, lokasi hutan payau sedang dalam perbaikan karena banyak fasilitas umum yang rusak sehingga jarang ada pengunjung yang datang (lihat foto di atas).

Hasil monitoring dan peninjauan menunjukkan bahwa kondisi mangrove di tempat tersebut cukup bagus. Berdasarkan papan informasi yang telah dipasang oleh Perum Perhutani KPH Banyumas Barat dan DISHUTBUN kabupaten Cilacap, di lokasi ini terdapat 15000 pohon mangrove yang terdiri dari Tancang (Bruguiera gymnorrhiza), Api-api (Avicennia sp), Bakau Bandul (Rhizophora mucronata) dan Bakau Kacangan (Rhizophora apiculata).

Sementara itu, di hutan payau ini juga terdapat mangrove asosiasi seperti Jeruju (Acanthus ilicifolius), Waru dan Ketapang (Terminalia catappa). Sebagian besar mangrove tersebut merupakan hasil penanaman yang dilakukan sejak tahun 1978. Dengan kerapatan yang cukup tinggi, mangrove-mangrove ini terlihat sangat lebat di sepanjang walking track yang dilalui, walaupun di bagian belakang ujung jalan terdapat mangrove yang rusak karena ditebangi oleh warga sekitar untuk dijadikan kayu bakar.

Kami sempat bertanya kepada warga yang sedang melakukan penebangan mangrove. Menurut mereka, alasan memilih kayu mangrove untuk dijadikan kayu bakar adalah karena kayu mangrove lebih kuat dan tahan lama. Mendengar penuturan mereka, kami sedih karena penebangan ini tidak dilanjutkan dengan program penanaman apalagi pemeliharaan.

Ekosistem mangrove di sini dihuni oleh banyak sekali biota mangrove, yang bisa teramati secara kasat mata, seperti ikan Gelodok, Uca, Udang Pistol, Tanggal, burung, berbagai jenis ikan dan lain-lain. Mereka terlihat sedang beraktivitas mencari makan di area mangrove. 

Warga sekitar banyak juga yang mengais rejeki di hutan mangrove seperti mencari ikan dan mencari Tanggal untuk dijual ke pasar dengan harga 4000/kg-nya, tetapi (anehnya) masih saja ada oknum warga yang suka merusak mangrove dengan sengaja.

Andaikata mangrove bisa berbicara, pasti warga sekitar akan mendengarkan jeritan mangrove yang mengatakan bahwa mereka sangat bermanfaat bagi manusia dan generasi penerusnya. Untuk itulah, mari kita jaga dan lestarikan mangrove kita mulai dari sekarang! Semangat MANGROVER!