18.8.11

KeSEMaTER Tanam Mangrove di Nusakambangan

Solok Jero – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 16 Agustus 2011, Sdr. Kamto Wahyono (staf MENDIKTAN) telah menghadiri dan ikut berpartisipasi dalam acara penanaman 6000 bibit mamgrove jenis Bruguiera sp yang disebut Tancang atau Tanjang di Solok Jero, Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat sekitar yang tergabung dalam kelompok pemerhati lingkungan KNPI kecamatan Kampung Laut, Taruna Merah Putih, Ibu-ibu PKK, LSM dan siswa-siswi SMA Kampung Laut. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66 dan untuk mengkonservasi mangrove yang ada di Nusakambangan, dimana wilayah ini memiliki area konservasi mangrove seluas 250 hektar yang merupakan tanah timbul, yang ditumbuhi mangrove hasil penanaman dan yang tumbuh secara alami.

Sebagai informasi, di daerah Solok Jero, mangrovenya banyak didominasi oleh jenis Bruguiera, Acanthus dan Nypa dengan kerapatan yang sangat jarang. Keadaan ini, diperparah dengan kurangnya kesadaran akan arti pentingnya mangrove dari masyarakat sekitar, sehingga masih banyak oknum yang melakukan penebangan mangrove. Di Solok Jero, hanya kelompok tertentu saja yang memperhatikan mangrove, padahal daerah ini terkenal dengan tempatnya yang bagus untuk pemijahan ikan, udang dan rajungan.

Jalur masuk dari Segara Anakan menuju ke tempat penanaman, banyak yang telah mengalami pendangkalan, hal ini disebabkan karena buruknya flora mangrove dan lokasinya yang langsung terhubung dengan sungai besar sehingga proses sedimentasi terjadi tidak beraturan. Untuk itulah, maka kelompok pemerhati lingkungan Kampung Laut mencoba melakukan upaya rehabilitasi mangrove-nya kembali. Beberapa hal yang menjadi kendala mereka dalam melakukan program rehabilitasi mangrove di Nusakambangan ini, diantaranya adalah permasalahan dana dan kurangnya perhatian dari pemerintah dan stakeholder terkait.

Setelah acara penanaman mangrove selesai, diadakan sarasehan dan evaluasi hasil penanaman. Dalam sarasehan tersebut, banyak masyarakat yang mengeluh karena minimnya pengetahuan mangrove yang mereka miliki, sehingga banyak dari mereka yang masih tidak peduli dengan nasib mangrovenya. Selain itu, minimnya bantuan dari stakeholder terkait dan pemerintah setempat maupun pusat, juga seringkali dilontarkan. Ke depan, semoga saja perjuangan kelompok masyarakat pemerhati lingkungan Kampung Laut tidak sia-sia dalam merehabilitasi ekosistem mangrove di Nusakambangan. Amin. Semangat MANGROVER!