22.4.16

Nyepi di Hari Bumi: Sebuah Renungan Kritis Seputar Perayaan Hari Bumi

Semarang - KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping ini, seorang KeSEMaTER nampak sedang mengamati proses penanaman mangrove yang dilakukan oleh peserta Mangrove REpLaNT (MR): Seminar, Pelatihan, Penyuluhan dan Penanaman Mangrove di Teluk Awur Jepara, Jawa Tengah. KeSEMaTER ini, nampak sedang menyepi. Kiranya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Apa itu? Entahlah.

MR dilakukan secara rutin setiap tahun oleh KeSEMaT, mulai dari tahun 2001 sampai dengan sekarang. Dari usaha kecil seperti inilah, bumi kita mampu terus bertahan hidup sampai dengan sekarang, karena masih mendapatkan suplai oksigen yang cukup dari para tumbuhan di bumi, yang salah satu penyumbangnya adalah tumbuhan pesisir bernama mangrove.

Untuk menyelamatkan bumi, sebenarnya bisa dilkukan dengan berbagai macam cara. Bagi kami yang bekerja di pesisir, mengadakan MR adalah salah satu dari sekian banyak upaya penyelamatan bumi. Hembusan oksigen yang dikeluarkan oleh bibit-bibit mangrove hasil penanaman para peserta MR, sedikit banyak telah mampu menyegarkan bumi kembali.

Lalu, bagi Anda yang jauh dari pesisir, tidak membuang sampah sembarangan adalah satu hal kecil yang bisa Anda lakukan demi memperpanjang umur bumi.

Sebenarnya masih sangat banyak tindakan yang bisa kita lakukan untuk melestarikan planet kita ini. Apa dan bagaimana tindakan itu, kiranya tidak perlu dipaparkan di sini. Kita bisa melihat dan membacanya di buku-buku dan mencarinya di internet. Atau, apabila kita ingin terjun langsung dan beraksi menyelamatkan bumi, kita bisa mengikuti kegiatan-kegiatan penyelamatan bumi dalam rangka peringatan Hari Bumi (HB) 22 April 2016.

Apalagi, hari ini adalah puncak HB, tentu saja event-event lingkungan mudah sekali dijumpai dan diikuti. Satu hal yang pasti, di tanggal 22 April ini, sebagian besar umat manusia (yang masih peduli dengan buminya), akan berkumpul bersama untuk merayakan, menyemarakkan, memperingati “Hari Jadi (HJ)-nya” bumi dengan berbagai acara, beraneka kegiatan pun aktivitas.

Walaupun cuma satu hari saja, tindakan ini adalah baik. Di tanggal sakral itu, bumi akan disayang-sayang dan dicinta-cinta. Manusia tak akan segan lagi memanjakannya pun tanpa sungkan menunjukkan kemesraannya kepada planet hijau ini.

Mereka akan berbondong-bondong menggelar spanduk, mengumpulkan tanda tangan dan petisi untuk bumi. Mereka juga akan banyak menyelenggarakan seminar Global Warming (GW), melakukan demo ke pemerintah, mengadakan lomba gambar, kompetisi esai tentang bumi, dan lomba-lomba lainnya.

Namun sayang, sekali lagi, semua itu hanya akan dilakukan dalam rentang waktu 1 hari, saja! Selanjutnya, untuk 364 hari lainnya, manusia sudah tak akan peduli lagi dengan buminya. Lagi-lagi, mereka akan membuat banyak kerusakan. Sepertinya, satu hari, kiranya sudah sangat cukup untuk menunjukkan rasa kepedulian mereka kepada bumi.

Selanjutnya, beragam kegiatan yang diadakan untuk memperingati HB, tentu saja baik. Namun yang perlu diingat dan dicermati adalah jangan sampai berbagai acara tersebut semakin membebani bumi. Dalam arti, boleh saja membuat spanduk dan mengumpulkan tanda tangan dan petisi untuk mengingatkan manusia lainnya supaya mencintai dan menjaga buminya, tapi setelah spanduk dibentangkan dan tanda tangan didapat, jangan sampai lupa untuk mendaur ulang spanduk-spanduk dari kain tersebut dan jangan pula membuangnya begitu saja.

Kalau yang terakhir ini terjadi, di HB, kita bukan memperingati bumi melainkan makin membebaninya dengan tumpukan sampah spanduk! Itu baru satu contoh saja.

Ternyata, kalau kita tidak cermat dan ceroboh, kita bisa membahayakan bumi di HJ-nya. Masih banyak kasus keteledoran kita seperti tumpukan sampah plastik tempat jajanan dan makan siang seminar GW, asap knalpot motor yang mematikan akibat aksi long march dan demo-demo pelestarian bumi yang sembrono, dan lain-lain.

Saudara-saudara, sadarkah Anda bahwa aksi-aksi peringatan HB kita ini, ternyata bisa semakin menyakiti bumi! Ironisnya lagi, kita sebagai penyelenggara aksi damai untuk bumi, terkadang tak memiliki kesadaran bahwa ternyata kita telah merusak bumi di HJ-nya.

Dengan tertawa-tawa sambil menenteng aneka spanduk, kita merasa bangga dan jumawa karena organisasi dan institusi kita telah berhasil mengumpulkan sekian banyak peserta aksi, tanpa sadar sama sekali bahwa plastik-plastik makan siang ratusan peserta, telah tercecer kemana-mana. Kalau seperti ini benar terjadi, tentunya sangat sayang sekali. Maksud hati ingin memperingati, apa daya semakin membebani bumi. Semoga saja, beberapa kasus di atas tidak akan terjadi.

Dalam koridor seperti inilah, kiranya sebuah pemikiran dan ajakan untuk melakukan nyepi dalam sehari, bisa dijadikan salah satu alternatif pilihan perayaan HB. Mari-mari menyepi. Itulah, (mungkin) satu tindakan yang paling tepat untuk kita lakukan bersama dalam memperingati HB.

Tak usah melakukan apapun, yang dibutuhkan hanyalah berhenti beraktivitas selama 24 jam saja, layaknya masyarakat Bali. Apabila ini dilakukan oleh seluruh umat manusia di bumi ini, bisa dibayangkan berapa banyak gas beracun yang bisa dihemat.

Jika saja, pabrik-pabrik tutup dari pagi sampai malam dan supermarket berkenan tak beroperasi seharian, berarti kita telah menyelamatkan bumi dari limbah beracun dan gas freon yang mematikan. Itu baru dua aktivitas saja, belum lagi apabila segudang aktivitas manusia lainnya berhasil dihentikan barang sehari. Pasti, bumi akan semakin muda dan tak sakit-sakit lagi.

Jadi, boleh saja kita merayakan HB semeriah mungkin. Tapi, kalau kita tidak bisa memperingatinya secara benar dan bertanggung jawab, lebih baik kita ini menyepi barang sehari. Terkadang, diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Justru, kalau kita mampu berpikir bijak, diam sebenarnya sebuah emas.

Dengan tak melakukan aktivitas apapun di HJ bumi, sebenarnya kita telah membantu menyelamatkan, memperpanjang umurnya sekaligus memberi kesempatan buatnya untuk menghirup udara bersih nan murni, yang sama sekali tak terkotori oleh aktivitas-aktivitas merusak kita.

Mungkinkah, KeSEMaTER di atas ini, sedang memikirkan nyepi di HB ini? (AP).

No comments:

Post a Comment