10.10.07

Kurikulum Mangrove di SMA Pesisir, Mungkinkah?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Usaha untuk memperkenalkan mangrove kepada generasi muda, tak pernah putus dilakukan KeSEMaT dalam rangka program pengabdiannya terhadap lingkungan yang telah memberikan ruangnya akan kehidupan KeSEMaT. Berbagai seminar, pelatihan, penyuluhan, workshop, pameran dan penelitian mangrove telah diikuti dan dilakukan oleh KeSEMaT dari tahun 2001 sampai dengan sekarang, dengan satu tujuan mulia untuk dibagi dan disampaikan ke masyarakat Indonesia (dan dunia) demi menjaga keberlangsungan tongkat estafet informasi mangrove, dari generasi terdahulu ke generasi sekarang dan akan datang.

Foto di atas ini diambil pada saat Anak-anak KeSEMaT menggelar pameran mangrove-nya di Kampus Ilmu Kelautan UNDIP Semarang di saat penerimaan mahasiswa baru 2007/2008. Nampak wajah-wajah Pemuda-Pemudi Generasi Baru, (PPGB) yang antusias menanyakan segala sesuatu tentang mangrove. Penuh kesabaran dan ketelatenan, KeSEMaT menjawab berbagai pertanyaan mangrove yang mereka ajukan sembari membagikan brosur dan pamflet agar mereka selalu menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove.

Walaupun masih dalam ruang lingkup yang terbatas, setidaknya usaha kecil KeSEMaT ini telah banyak membantu PPGB, khususnya di daerah Semarang, untuk lebih mengerti, mengetahui dan memahami apakah mangrove itu. Dengan demikian, tongkat estafet informasi mangrove tak akan pernah terputus dari generasi ke generasi.

Dari pertemuan singkat KeSEMaT selama dua hari dengan para PPGB, ternyata pengetahuan mangrove mereka sangat minim. Padahal mereka adalah remaja-remaja terpilih dari SMA-SMA di seluruh Indonesia yang berhasil masuk tes Ujian Masuk perguruan Tinggi Negeri. Tapi, bukan salah mereka juga, kalau ternyata mangrove belum banyak mereka kenal, pun kurikulum mangrove tak ada dalam pelajaran SMA mereka.

Dari wawancara dengan sebagian dari mereka mengenai fenomena ketidaktahuan mereka akan mangrove, mereka mengatakan bahwa ilmu mangrove selintas saja dibahas, karena dilebur menjadi satu dengan mata pelajaran Biologi. Hal ini menyebabkan pengetahuan mangrove yang cakupannya sangatlah luas, menjadi sangat kerdil dan sempit, di SMA. Dari fakta ini, adalah bijak apabila Departemen Pendidikan Nasional mulai menginisiasi untuk mulai memberlakukan mata pelajaran khusus mangrove di SMA-SMA, di seluruh Indonesia (bukan hanya SMA-SMA di wilayah pesisir).

Isyu kerusakan mangrove adalah isyu nasional bahkan isyu global yang sedang melanda dunia. Apabila didekati dengan pola pendidikan yang desentralistik (hanya diterapkan di SMA-SMA sekitar pesisir, saja) maka pola pemerataan pengetahuan mangrove hanya akan “menumpuk” di PPGB di sekitar wilayah pesisir saja. Akibatnya, tak terjadi pemerataan ilmu mangrove kepada PPGB di luar wilayah pesisir sehingga segala permasalahan yang ada di wilayah mangrove, sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang, pada saat mereka menggantikan kita memimpin negeri ini, tetap saja tidak akan bisa terselesaikan dengan baik. Apa pasal? Karena pengetahuan mangrove pemimpin masa datang kita sangatlah minim. Bagaimana bisa menyelesaikan permasalahan di mangrove, apabila mereka tak punya pengetahuan tentang itu?

Memang, butuh sebuah gerakan nasional untuk mulai menyemangati masyarakat Indonesia dalam usaha penyelamatan dan pelestarian eksoistem mangrove-nya dan bukan gerakan kecil-kecil yang bersifat kedaerahan.

Selanjutnya, tidak dimasukkannya ilmu mangrove kedalam kurikulum di SMA telah menyebabkan generasi muda kita mengalami missing link alias tak tahu menahu soal mangrove. Maka, dengan mulai dimasukkannya ekosistem mangrove ke dalam kurikulum SMA, sedikit banyak bisa mengurangi angka ketidaktahuan mereka tentang mangrove. Hasilnya, sepuluh sampai dua puluh tahun mendatang, PPGB Indonesia, Insya Allah selain akan terbebas dari Tiga Buta, juga akan terlepas dari Satu Buta tambahan, yaitu Buta Bakau!

Akhir kata, jangan putus tongkat estafet pengetahuan mangrove kami. Berlakukan kurikulum khusus mangrove di SMA, di seluruh Indonesia, sekarang!