26.10.07

Wisata Mangrove Semarang, Mungkinkah?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Image mangrove yang dulunya dikenal sebagai tempat sampah, kini sedang diupayakan oleh KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kota Semarang, untuk mulai dirubah menjadi image-baru mangrove, sebagai tempat wisata. Setidaknya hal inilah yang sedang direncanakan oleh kedua instansi tersebut, saat melakukan koordinasi dan diskusi bersama mengenai masa depan mangrove bantaran Sungai Kali Babon - Genuk di Gedung Pandanaran Semarang.

Usaha ini dilakukan, mengingat tingkat pencemaran sampah (plastik) yang sangat tinggi di sepanjang hulu sampai dengan muaranya yang dikhawatirkan mengancam keberadaan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam di sana. Gerakan bersih pantai, pendidikan, penyuluhan, penanaman, dan penyulaman mangrove, akan diadakan lagi untuk menanggulangi segala permasalahan lingkungan yang terjadi di pesisir pantai Semarang, tersebut. Inisiasi ini, adalah sebuah langkah yang sangat baik. Lima buah kegiatan yang sedang direncanakan ini merupakan kelanjutan dari gerakan Mangrove Conservation: Mari Selamatkan Mangrove di Pesisir Pantai Kita. Sekarang! yang akan berakhir pada tanggal 4 November 2007 mendatang. Memang, sebuah usaha konservasi mangrove, tak boleh dilakukan hanya dalam satu kurun waktu saja, melainkan harus diadakan secara terus menerus, tak pernah putus, sepanjang masa.

Selanjutnya, sampah (plastik) yang sebagian besar menutupi bantaran Sungai Kali Babon akan diangkat dan dibersihkan untuk memulihkan lahan mangrove yang berada disekitarnya. Usaha pembersihan ini dirasa sangat penting untuk memperbaiki kualitas sedimen dan akar-akar bibit mangrove yang tertutup sampah, sehingga bibit-bibit mangrove yang ditanam bisa mendapatkan sirkulasi udara yang cukup agar terhindar dari kematian massal.

Pola penyadaran masyarakat juga akan dilakukan untuk menggugah dan menumbuhkembangkan semangat konservasi masyarakat Kecamatan Genuk Semarang, dalam mengelola mangrove di pesisir pantainya. Berbagai kegiatan penyuluhan dan pendidikan mangrove-pun akan didesain sedemikian rupa sehingga semua elemen masyarakat bisa mengikutinya agar mereka menyadari bahwa daerah mangrovenya bukanlah sebuah tempat sampah yang tak berguna, melainkan aset wisata yang bisa menguntungkan segi finansial mereka.

Program Perubahan Image Mangrove (PPIM) di bantaran Sungai Kali Babon dari tempat sampah menjadi sebuah tempat wisata sangat penting untuk dilakukan mengingat potensi yang dimilikinya. Faktanya, berbagai spesies mangrove cantik seperti Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora mucronata, R. apiculata, Excoecaria agallocha, Acanthus ilicifolius, dan berbagai mangrove asosiasi lainnya yang berada di kanan-kiri sungainya, bisa dijadikan aset wisata mangrove yang sangat menarik. Perahu-perahu milik kelompok nelayan setempat, nantinya juga bisa didayagunakan sebagai armada untuk mengantar para wisatawan menyusuri indahnya mangrove di bantaran Sungai Kali Babon, dari hulu sampai dengan muara.

Namun demikian, PPIM belum bisa dilakukan sekarang. Setidaknya, dibutuhkan waktu kurang lebih sepuluh tahun lebih, untuk memberi kesempatan kepada mangrove tumbuh stabil, sesuai yang diinginkan. Setelah sepuluh tahun berlalu, barulah PPIM bisa mulai dilakukan. Memang, untuk merubah vegetasi mangrove di bantaran Sungai Kali Babon dari tempat sampah menjadi tempat wisata mangrove yang berkualitas, bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Sikap ulet, telaten, sabar dan terus kontinyu demi sebuah usaha konservasi mangrove, harus dimiliki oleh masyarakat dan para stake holder terkait untuk mewujudkan PPIM tersebut. Pertanyaannya sekarang, apakah masyarakat dan para stake holder terkait, memiliki sikap-sikap tersebut? Wallahu alam.

Sebagai penutup, usaha dan program-program konservasi mangrove wajib terus menerus dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem mangrove di Sungai Kali Babon, Genuk Semarang, demi mewujudkan sebuah perubahan image mangrove dari tempat sampah menjadi sebuah tempat wisata yang berkualitas.