11.3.08

Laskar Pelangi dan Pasukan Lumpur

Semarang - KeSEMaTBLOG. Membaca sebuah buku laris berjudul “Laskar Pelangi” (LP), sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga. Sebuah novel non fiksi inspiratif yang menarik hati. Tak hanya gaya bahasanya yang mengesankan, bahkan makna cerita yang disuguhkan adalah sebuah inspirasi. LP mampu menggugah diri kita, untuk selalu menjadi seseorang yang baik, tak mudah menyerah, jujur, percaya diri, berusaha berdiri di atas kaki kita sendiri, demi menggapai sebuah idealisme dan cita-cita nan mulia.

Kalau LP bercerita tentang kisah perjalanan beberapa orang anak manusia yang akhirnya berhasil sehingga mampu menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama , semoga saja kehadiran MANGROVER alias Pasukan Lumpur (PL), seperti kami, juga begitu adanya. Foto KeSEMaTERS di atas ini adalah sebuah bukti perjuangan kami dalam menyelamatkan ekosistem mangrove di Kali Babon Semarang, yang semoga saja bisa juga menyentil “sisi kemanusiaan” Anda, untuk berbuat hal yang serupa kepada ekosistem mangrove kita, di setiap daerah Anda masing-masing.

Perlu kami jelaskan, tak sepeserpun kami dibayar, apalagi digaji. Pun, uang transport dan makan, kami tanggung sendiri alias “urunan” (baca: mengumpulkan uang sendiri, lalu digabungkan). Kami tak takut miskin! Kami sangat yakin, merogoh kantong kami dan menyisihkan beberapa rupiah untuk “bersodaqoh” demi mangrove, tak akan membuat kami bangkrut apalagi jatuh miskin. Sebaliknya, kami percaya bahwa rejeki kami akan dilipatgandakan olehNya, karena kami telah berbuat baik kepada mangrove. Lalu, uang yang kami gunakan untuk perjuangan kami, adalah juga beberapa dukungan yang kami dapatkan dari donatur yang baik, instansi yang mulia dan perorangan yang peduli dengan mangrove dan perjuangan kami. Semua yang kami lakukan, hanyalah sebuah bentuk kesadaran kami untuk mencoba mencintai dan menyayangi lingkungan pesisir kita.

Dari uang hasil “urunan” itu, kemudian kami membeli polibek untuk membibitkan bibit mangrove sendiri. Terkadang, kami juga membeli bibit (kalau persediaan bibit di Arboretum habis), untuk kami tanam di pesisir yang gundul. Dengan uang Rp. 1000,- setiap KeSEMaTERS, kami biasanya membeli bibit 100 sampai dengan 1000 buah, untuk satu kali penanaman/penyulaman. Begitu mudah dan tak terlalu “ribet”, jika dibandingkan dengan “proyek mangrove besar” milik “orang-orang atas” sana, yang (katanya) butuh rapat, workshop, seminar nasional, pelatihan dan TOT berbulan-bulan (mungkin juga menghabiskan banyak uang) untuk membuat satu konsep penyuluhan dan penanaman mangrove yang (katanya) benar-benar bagus dan matang, yang (katanya) bisa langsung menyentuh masyarakat lokal di pesisir, tapi tak berhasil.

Tidak! Kami tidak seperti itu. Kami tak terlalu banyak rapat yang tak perlu. Kami lebih memilih pergi ke pesisir setiap beberapa kali dalam sebulan untuk mencari benih, kemudian membibitkan dan menanamanya. Setelah selesai menanam, kami akan kembali lagi ke sana untuk mengecek kondisi mangrove kami. Jikalau mati, kami akan briefing sebentar, menganalisa, mengevaluasi dan menelaah kinerja kami, kemudian beberapa waktu kemudian langsung ke lapangan lagi, untuk mencari benih/bibit yang baru, sebagai penggantinya. Mudah bukan? Sangat tidak ribet. Kami percaya, bahwa monitoring dan program pemeliharaanlah yang lebih penting. Kalau ditanam secara seremonial, kemudian ditinggal begitu saja, bagaimana mungkin bibit-bibit mangrove kita bisa tumbuh dengan baik.

Asal tahu saja, setelah ditanam, bibit mangrove yang baru berusia 3 bulan sampai dengan 2 tahun itu, sangat rentan dengan penyakit dan ancaman alam seperti ombak dan sampah yang sewaktu-waktu bisa “membunuhnya.” Kalau hanya ditanam untuk “gagah-gagahan” dan prestise saja, lalu setelah itu dibiarkan bak pengemis, mangrove akan “terlunta-lunta” dan mati sia-sia. Tak usahlah memikirkan prestise segala, pun mangrove pasti tak akan mengenal arti kata itu. Yang dibutuhkannya sekarang adalah seorang individu yang mau bekerja dan berjuang secara lebih idealis, didasari rasa cinta dan sayangnya dengan alam dan lingkungan pesisirnya, dan bukanlah seorang manja yang hanya mau bekerja di pesisir apabia ada uanganya, saja. Kalau yang terakhir ini yang dipilih, maka “proyek-proyek mangrove besar” yang diinisiasi oleh “orang-orang besar,” itu, tak aneh, apabila seringkali mubazir dan memboroskan uang rakyat.

Tak ingin kalah dengan LP, PL seperti kami, yang deskripsi sepenggal pekerjaannya di pesisir telah dideskripsikan di atas, semoga saja bisa menginspirasi banyak hati manusia, layaknya LP yang begitu membiusnya sehingga berhasil menginspirasi batin dan relung hati Anda. Semoga.