12.3.08

Kritisi Seminar Mangrove

Semarang - KeSEMaTBLOG. Beberapa kali, KeSEMaT diminta partisipasinya untuk mengikuti seminar, pelatihan dan workshop mangrove yang berlevel regional, nasional dan internasional, baik sebagai peserta, pembicara dan tim perumus (lihat foto di samping). Pada awalnya, kami merasa sangat bangga, terhormat bahkan tersanjung. Namun, setelah enam tahun ini banyak mengikutinya, dan sedikit mengetahui tentang konsep dan pelaksanaannya di lapangan, kami kini sedih dan tak merasa bangga, lagi. Apa pasal?

Karena hasil-hasil seminar yang kami ikuti, terasa tak menyentuh langsung obyek yang kami seminarkan, yang umumnya adalah mangrove dan masyarakat pesisirnya. Padahal, bukankah penerapan itulah yang ingin dicapai dalam setiap seminar? Berusaha untuk mengaplikasikan secara langsung, setiap hasil-hasil yang diseminarkan.

Salah satu contoh hasil seminar yang kami ikuti adalah Seminar Nasional (SEMNAS) tentang pengelolaan mangrove, yang sampai saat ini-pun, kami tak tahu bagaimana kelanjutannya. Selesai SEMNAS, seharusnya, setiap peserta dihimbau untuk berkumpul lagi di daerahnya masing-masing untuk merealisasikan kesepakatan SEMNAS, tersebut. Namun, sampai dengan tulisan ini disusun, himbauan itu belum juga terwujud. Mungkin salah kami sendiri, yang kurang tanggap dalam merealisasikan hasil SEMNAS tersebut, atau mungkin juga salahnya panitia yang kurang bereaksi secara aktif dalam menyosialisasikan hasil dari SEMNAS ke pesertanya(?).

Tak ingin mencoba saling menyalahkan, inti dari artikel ini sebenarnya adalah untuk mencoba menyeimbangkan antara hasil seminar dengan prakteknya di lapangan. Jangan sampai, SEMNAS-SEMNAS yang sudah begitu banyak menghabiskan ”uang rakyat,” menjadi tak berarti sama sekali karena alasan tak adanya realisasi. Seperti diketahui, untuk mengadakan satu kali SEMNAS saja, kita harus merogoh kocek ”uang negara” untuk membayar pembicara, akomodasi peserta, konsumsi panitia, mempersiapkan seminar kit, dan lain sebagainya. Sayang sekali, sangat sayang sekali, kalau uang-uang ini akhirnya terbuang percuma hanya karena hasil seminar yang tak menyentuh obyeknya secara langsung: mangrove dan masyarakat pesisirnya.

Sepertinya, seminar mangrove itu, dilaksanakan hanyalah sebagai sebuah seremonial belaka. Asalkan seminarnya terlaksana, selesai sudah tugas panitia sebagai bentuk tanggung jawab atas institusinya. Urusan keberlanjutan, agaknya adalah nomor kesekian. Bahkan, di seminar yang seharusnya mewajibkan kita untuk berpikir keras dalam memikirkan konsep dan kegiatan mangrove yang harus diaplikasikan ke masyarakat, seringkali kita sepelekan dengan hanya duduk diam, tak berbicara apalagi memberikan wacana, terus saja mendengarkan konsep dan terkadang terkantuk-kantuk karena kursinya yang empuk. Begitu kembali ke hotel mewah, kita seolah tak tahu, apa arti dan tugas kita di seminar itu. Parahnya lagi, terkadang seminar hanya kita jadikan sebagai sebuah alasan prestise atas pekerjaan dan pencapaian hidup kita, padahal secara kualitas, kita tak melakukan apa-apa dalam seminar tersebut!

Semoga saja, kita bisa lebih dewasa lagi dalam memaknai dan menyikapi sebuah seminar. Jangan sampai, kita ini menjadi sangat bangga mengikuti sebuah seminar mangrove, tapi tak pernah mau memberikan sumbangan pemikiran kita ke dalam seminar tersebut, apalagi mengaplikasikan materi yang kita terima dalam seminar tersebut, pun mengaplikasikannya secara langsung kepada masyarakat pesisir kita. Semoga!