2.4.07

Waspada. NUKLIR di Jepara!

Malam hari, pukul 19.00 WIB, tanggal 30 Maret 2007 yang lalu, saya dan Anak-anak KeSEMaT, diundang untuk menghadiri diskusi lingkungan dan pemutaran film tentang rencana pembangunan Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara. Diskusi berlangsung di Kampus Politeknik Negeri Semarang (POLINES). Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara Pameran Lingkungan Hidup yang diadakan oleh Wahana Pecinta Lingkungan Hidup (WAPALHI), POLINES. Selain KeSEMaT, banyak rekan-rekan dari organisasi lingkungan se-Semarang yang hadir, diantaranya Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jateng dan LSM Marem.

Acaranya sangat menarik. Namun sayang, selesai menonton film itu, saya kok merasakan sesuatu yang tak menarik berkecamuk dalam diri saya. Terus terang, saya trenyuh, mendengar rencana pembangunan PLTN di Jepara. Mbok sebaiknya dipikir dan dikaji ulang, lagi.

Jika benar, letak PLTN berada di pesisir pantai, hingga pembebasan lahannya harus menebangi pohon mangrove, saya hanya takut, keanekaragaman hayati (terutama mangrove) di Jepara, akan hilang bahkan musnah.

Saudara-saudara, kelangsungan hidup mangrove Jepara, saat ini sangat sulit. Kembang kempis! Daya regenerasi mereka terancam, akibat penebangan yang terus menerus terjadi. Harus segera, segera, segera diselamatkan!

Mangrove di pesisir pantai Jepara hampir habis. Titik abrasi sudah mencapai tujuh buah bahkan lebih. Kalau dibabat habis (lagi) untuk PLTN, saya tak tahu lagi bagaimana cara memulihkan kembali keberadaannya.

Padahal, untuk memulihkan dan merehabilitasi lahan mangrove gundul, satu hektar saja, KeSEMaT dengan program-program-mangrovenya butuh waktu lebih dari lima tahun. Sampai dengan 2007 ini, belum semua lahan satu hektar itu, tertanami dengan baik.

Pencarian energi baru memang sah-sah saja dan merupakan satu kebutuhan di masa mendatang, dan saya memahami betul alasannya karena sudah dijelaskan secara jelas dan gamblang di film itu. Tapi, sebagai orang biologi, saya sangat berharap, kajian AMDAL-nya benar-benar diperhatikan (lagi).

Anda pasti tahu-lah. Di Indonesia ini, banyak sekali proyek-proyek yang tak memperhatikan AMDAL, tapi lebih kepada AMDUL alias Asal Mroyek Dapat Uang Lebih.

Terlepas dari banyaknya pro dan kontra dengan rencana ini, saya hanya mencoba mengingatkan, pembebasan tanah di sekitar lokasi tapak akan menebang ribuan pohon mangrove.

Asal tahu saja, satu pohon mangrove adalah tempat hidup bagi ribuan binatang mangrove yang hidup di atas dan tengah pohon, serta di lumpur mangrove. Satu saja, pohon mangrove ditebang, berarti (kita) telah merusak bahkan bisa membunuh ribuan binatang mangrove. Bagaimana jikalau ribuan pohon mangrove (kita) tebang. Berapa banyak binatang mangrove tak berdosa akan (kita) bunuh? (Oleh : IKAMaT).