29.5.07

Fungsi Ekonomis Mangrove, Bisakah Dioptimalkan?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Tadi malam, saya membeli sebuah minuman bercita rasa manis dan kenyal (seperti jelly/agar-agar) dalam kemasan (kemasan air mineral) seharga Rp. 1.200,- Minuman itu bukan sembarang minuman, melainkan hasil ekstraksi dari rumput laut, tumbuhan pesisir yang masih saudara dengan mangrove (lihat gambar, foto diambil dari www.coopershill.com/seaweed.html). Minuman yang bernama Seaweed Drink ini, diproduksi oleh sebuah Vocational School Seaweed Center (VSSC) ITS Jepara, Jawa Tengah.

Minuman hasil ekstraksi rumput laut ini enak, lezat dan sempat bikin saya kecanduan! Rasanya yang manis, kenyal dan berserat, membuat lidah saya tak kuasa untuk terus ingin mencobanya. Padahal, bahan yang diracik untuk menghasilkan minuman ini sederhana saja, tidak ribet. Bahan yang digunakan hanya gula murni, rumput laut dan essence. Dengan kemasan yang menarik, minuman kesehatan Seaweed Drink sudah mulai dipasarkan di Jepara bahkan sampai ke Semarang.

Saya sempat iri, kenapa saudaranya mangrove ini bisa dengan cepat terkenal dan produknya juga bisa dengan cepat bisa dinikmati masyarakat dan masuk ke industri. Hipotesa sementara saya adalah karena rumput laut tak memiliki kadar racun, maka dia bisa dengan cepat diolah dan dipasarkan.

Mangrove, seperti yang telah saya ulas di tulisan terdahulu, sebenarnya juga sudah diolah menjadi makanan dan minuman. Namun belum bisa dipasarkan secara luas karena banyaknya kendala teknis dan non teknis seperti adanya kadar racun dalam buah mangrove. Racun ini, apabila tidak diolah dengan baik dan benar bisa berbahaya bagi manusia, saat mengkonsumsinya.

Memang, untuk mengolah mangrove dibutuhkan perlakuan khusus. Pemberian perlakuan khusus inilah yang membuat sebagian orang enggan dan malas untuk mengolahnya sehingga makanan dan minuman dari mangrove susah berkembang, pun dipasarkan. Padahal, kandungan gizi yang terdapat di setiap buah mangrove sangatlah tinggi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sebtianus Rumaseuw (1990), buah-buah mangrove memiliki kadar karbohidrat sebesar 76, 56 gram, lemak (gliserol) 0,9 gram/buah, protein 4,83 gram dan kadar abu yang menjaga kebersihan buah mangrove itu sendiri. Mengingat kandungan gizi yang terdapat pada buah mangrove tergolong tinggi dan lengkap, tak ada alasan lagi untuk tidak mengembangkan makanan dan minuman berbahan dasar dari buah mangrove.

Semoga saja, di waktu yang tidak lama lagi, akan mudah dijumpai produk-produk makanan dan minuman dari buah mangrove di supermarket-supermarket Indonesia bahkan dunia. Amin. (Oleh : IKAMaT).