18.5.07

KeSEMaT, (Terus) Bertahan di Tengah Kritikan

Semarang - KeSEMaTBLOG. Puluhan surat yang masuk ke email KeSEMaT, seolah sepakat menanyakan hal yang sama, “Kalau membaca dan mencermati pesan yang tertulis di KeSEMaTBOX, sepertinya banyak sekali yang memuji dan menyanjung KeSEMaT. Memangnya, apa KeSEMaT tak pernah dikritik?” Saya sempat tersenyum, begitu membaca puluhan email bernada hampir sama, tersebut. Sekaligus saya juga trenyuh, karena dibalik segala keterbatasan yang dimiliki KeSEMaT dalam mengelola mangrove, ternyata masih ada puluhan orang yang peduli dan perhatian dengan kelompok mahasiswa peduli mangrove ini. Amin.

Saudara-saudara sekalian. Di dunia ini, sampai kapanpun akan selalu berlaku “hukum keseimbangan” (saya senang menyebutnya demikian), yaitu sebuah hukum yang dimana ada Yin pasti akan ada Yang. Kalau ada hitam pasti juga akan ada putih. Di situ ada baik, di situ juga ditemukan buruk. Di balik rasa manis dijumpai pula rasa pahit. Ada anak laki-laki, tapi pasti juga ada anak perempuan.

Begitu juga dengan KeSEMaT. Jadi jangan salah, ya. KeSEMaT ini banyak dipuji namun tak sedikit pula yang mencaci maki (baca: mengkritik) kami. Saya pikir, itu mah sudah lumrah. Sudah biasa. Sampai kapanpun, sanjungan dan kritikan akan selalu berjalan berdampingan. Untuk mencoba menjawab puluhan pertanyaan di atas, saya akan mencoba mendeskripsikan pujian dan kritikan yang dilontarkan kepada KeSEMaT, dengan sekilas cerita di bawah ini. Silahkan disimak, ya.

Pantai Teluk Awur, suatu lokasi di ujung utara Jepara itu, (sebenarnya) indah. Kondisi vegetasi mangrovenya yang memang agak mengkhawatirkan, tak mengurangi kecantikan pantai-landainya, yang terletak persis di belakang kampus Ilmu Kelautan milik Universitas Diponegoro (UNDIP), Jepara. Menurut penelitian yang dilakukan oleh KeSEMaT (2007) Mangrove mayor, Minor dan Asosiasi yang ditemukan antara lain: (1) Avicennia marina, (2) Bruguiera gymnorrhiza (3) Lumnitzera racemosa (4) Excoecaria agallocha (5) Ceriops tagal (6) Ceriops decandra (7) Calotropis gigantea (8) Rhizophora apiculata (9) R. mucronata (10) Spinifex littoreus (11) Acanthus ilicifolius (12) Pandanus tectorius (13) Vitex ovata (14) Aegiceras corniculatum (15) Pemphis acidula (16) Thespesia populnea dan beberapa spesies lainnya.

Selain itu, ada juga binatang-binatang mangrove yang mendiami vegetasi mangrove ini. Binatang-binatang mangrove itu antara lain Udang Pistol (Alpheus sp), Mudskipper (Periophthalmus sp), Kepiting Mangrove (Episesarma sp, Metaplax sp, Uca sp, Ilyoplax sp, Metopograpsus sp, Coenobita sp, dan Clibanarius sp), burung, kupu-kupu dan masih banyak lagi. Kabar menggembirakan datang di tahun 2007 ini, bahwa mulai ditemukan kerang bernama Polymesoda erosa.

Vegetasi mangrove yang sejak tahun 90-an menipis, kini memang mulai tebal dan pulih kembali, berkat reforestasi yang dilakukan oleh KeSEMaT. Namun sayang, usaha konservasi yang tak pernah putus dan selalu dilakukan oleh anak-anak muda ini setiap tahunnya, setelah enam tahun berjalan, mulai menuai banyak kritikan.

Usaha untuk menjalankan proyek idealis mereka, yang (menurut mereka) mulia dan tak berpamrih, yang sudah mereka rintis, mereka tunjukkan dan mereka buktikan, kiranya masih kurang mendapatkan perhatian yang maksimal dari berbagai pihak. Setelah enam tahun berlalu, masih ada (saja) oknum masyarakat, yang menebangi pohon mangrove, mengambil papan nama arboretum (yang terbuat dari besi dan menjualnya secara kiloan), menebangi Pemphis acidula (Setigi) untuk dikomersilkan menjadi bonsai, mencuri pasir dan menjualnya untuk lapangan voli, dan masih banyak lagi. Akibatnya, vegetasi mangrove yang baru saja pulih, kini rusak lagi. Padahal bibit-bibit mangrove itu, mereka rawat dari tahun 2003 sampai dengan sekarang, dengan segenap jiwa, raga dan uraian air mata.

Selanjutnya, beberapa orang, tanpa mengetahui latar belakang dan konsep kegiatan yang telah dibuat selama berbulan-bulan, juga masih saja sering menyudutkan KeSEMaT. Mereka menganggap bahwa kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan dan dokumentasi mangrove yang dirintis, adalah tidak tulus, berpamrih dan sering salah sasaran. Celakanya lagi, kini mulai ada beberapa oknum yang mengklaim bahwa usaha reforestasi mangrove di Teluk Awur adalah dari usaha dari oknum itu (sendiri) dan bukanlah semata (baca: rintisan) dari KeSEMaT.

Dikritik seperti itu, tak lantas membuat semangat Anak-anak KeSEMaT jadi down dan kendor. Dengan semangat mangrover, mereka terus berdiri dan berjuang di atas garis konsistensi. Bagi para mahasiswa pecinta mangrove itu, setiap pujian adalah berkah dan setiap kritikan adalah rahmat. Pujian adalah pendorong semangat mereka, untuk bisa terus bekerja mengurusi mangrove dengan lebih baik lagi. Sementara itu, kritikan dijadikan pedoman dan pijakan agar lebih berhati-hati (lagi) dalam melangkah. Ada maupun tiada, pujian dan kritikan yang ditujukan kepada KeSEMaT, saya yakin tak akan mampu untuk merubah apalagi menggoyahkan tekad mereka untuk terus dan terus dan terus mencoba membenahi kebijakan peraturan pesisir demi pelestarian ekosistem mangrove yang mereka cintai ini di masa mendatang.

Begitu banyak kritikan yang diterima KeSEMaT. Tapi semoga saja, kelompok studi berbasis mahasiswa pecinta mangrove ini tetap kuat, tabah dan teguh menghadapi segala kritikan itu. Tak bijak rasanya, hanya karena kritikan (kecil) seperti itu, semangat mereka menjadi kendur sehingga mengalahkan tujuan mulia mereka untuk mencoba merehabilitasi kawasan pesisir Teluk Awur Jepara. Memang, makin tinggi pohon, maka akan makin keras pula angin yang menghempasnya. Namun, biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Inti dari cerita di atas adalah sukses bukanlah sesuatu yang mudah bagi KeSEMaT. KeSEMaT harus (baca: wajib) melalui beragam kritikan dari awal berdirinya (2001) sampai dengan sekarang. Bagi KeSEMaT, sukses adalah berani terus berjuang, berjalan dan tetap konsisten di jalurnya, ditengah badai gelombang pujian dan kritikan. Kalau sekarang KeSEMaT banyak dipuji, itu semua tak lain dan tak bukan, adalah buah manis dari hasil konsistensinya selama ini. Bravo Mangover!