24.11.07

Global warming dan Rasa Adil

Semarang - KeSEMaTBLOG. Foto ini adalah para KeSEMaTERS yang sedang melakukan sebuah usaha penyelamatan pantai terabrasi, dengan cara melakukan penanaman mangrove di daerah pesisir Rembang, Jawa Tengah. Dari usaha kecil seperti ini, beberapa tahun ke depan, bayi-bayi mangrove ini, selain bisa menanggulangi abrasi, juga akan mampu menyerap zat-zat berbahaya yang menyebabkan pemanasan global. Berbicara mengenai pemanasan global, minggu-minggu ini, memang santer sekali pemberitaan mengenai perubahan iklim dan pemanasan global atau yang lebih dikenal sebagai Climate Change and Global Warming (CCAGW), di berbagai media massa.

Tak hanya di televisi, koran dan majalah bahkan di radio-radio lokal di masing-masing daerahpun, saya rasa ikut juga mempromosikan kampanye pencegahan CCAGW ini. Seakan ikut menyemarakkan pemberitaan CCAGW yang lagi rame di Indonesia, dalam waktu dekat, sebuah perhelatan akbar, konferensi iklim bertaraf internasional bertema CCAGW yang diinisiasi oleh PBB, juga akan diadakan di Bali, di awal Desember 2007. Pertemuan ini tentu saja bertujuan untuk memperbincangkan, merundingkan, menelaah dan mencari solusi atas segala permasalahan dan isyu terbaru yang berkembang, seputar CCAGW.

Mengapa CCAGW begitu mengemuka akhir-akhir ini? Salah satu jawaban yang bisa dilontarkan adalah karena temperatur bumi kita ini semakin hari semakin naik saja. Bumi semakin panas! Inilah yang membuat manusia menjadi panik. Sebuah tulisan saya terdahulu yang berjudul Mangrove dan Global Warming, telah mengisahkan bahwa betapa sebuah kota kecil bernama Tembalang, yang merupakan sebuah “kota pegunungan” Semarang – Jawa Tengah, menjadi sangat panas akhir-akhir ini. Padahal delapan tahun yang lalu, temperatur kota Semarang atas ini, masih “dingin” layaknya Puncak di Jawa Barat.

Selanjutnya, suhu bumi yang makin panas, lambat laun akan menghancurkan gunung es di kutub utara. Hancurnya gumpalan-gumpalan es tersebut, akan mendatangkan banjir besar yang mengakibatkan tertutupnya daratan-daratan di permukaan bumi ini oleh air laut. Kalau hal ini sampai terjadi, kelangsungan hidup umat manusia di masa mendatang, benar-benar sangat terancam.

Untuk menanggulangi segala permasalahan CCAGW, dengan sekuat tenaga, manusia dari seluruh penjuru dunia, berupaya untuk mencegah terjadinya efek buruk CCAGW dengan cara bersatu padu, bekerja bersama dan menyatukan pendapat demi mendapatkan sebuah jalan keluar yang disepakati bersama. Namun agaknya, sampai dengan akan diselenggarakannya konferensi di Bali, konsep kesepahaman bersama tersebut, belum juga bisa disepakati.

Hal ini bisa terjadi karena terjadi sedikit “perselisihan” antara Negara Berkembang (NB) dengan Negara Maju (NM), sebagai “pelaku utama” CCAGW. NB sering diklaim oleh NM sebagai pihak yang bersalah dan harus bertanggung jawab terhadap naiknya temperatur di bumi. Apa pasal? Karena NB dinilai tidak becus mengurus hutan-hutannya sehingga tak mampu lagi menyerap zat-zat racun penyebab pemanasan global. Akan tetapi, NB tak mau disalahkan. Mereka beranggapan bahwa usaha semaksimal apapun untuk menanam pohon di NB, tak akan ada gunanya apabila NM juga tak mau mengurangi perkembangan industri di negaranya.

Menurut NB, NM tidak seharusnya membantu pendanaan saja, melainkan juga harus mengatur (baca: mengurangi) industrialisasi di negaranya agar zat-zat beracun tak terus bertambah di udara. Celakanya, tuntutan NB kepada NM, seakan tak digubris. NM bahka juga tak mau disalahkan. Dengan dalih sudah membantu pendanaan yang sangat besar demi kelestarian hutan-hutan di NB, tak seharusnya NB malah balik menuntut mereka. NM beranggapan seharusnya merekalah yang berhak menuntut hasil kerja NB dalam mengelola hutannya untuk menyelamatkan dunia dari CCAGW.

Apabila kedua belah pihak saling tuding seperti ini, semuanya menjadi serba sulit. Tidak hanya NB, NM-pun tak mau disalahkan atas semakin tingginya temperatur di permukaan bumi. Kalau sudah begini, lalu siapa yang layak dipersalahkan? Siapa pula yang patut bertanggung jawab? Kasihan bumi kita ini.

Ada baiknya kedua belah pihak tak lagi saling menggugat, mengolok dan menyalahkan. NB dan NM harus duduk bersama dengan kepala dingin, agar bisa memecahkan silang pendapat di atas, secara adil. Kita hanya berharap, konferensi iklim di Bali nanti, bisa menjadi tonggak awal bagi hadirnya nota kesepahaman bersama antara NB dan NM, untuk menyatukan suara mereka, demi mencegah datangnya efek buruk CCAGW. Semoga saja.