1.9.09

Ayo Bersama, Terapkan Konsep Bottom Up Untuk Selamatkan Hutan Mangrove Indonesia!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Logo di samping ini adalah logo Causes SIMF – SAVE INDONESIAN MANGROVE FORESTS, yang ada di salah satu Jaringan KeSEMaTONLINE, yaitu KeSEMaTFACEBOOK. Causes dan logo SIMF ini, sengaja diciptakan oleh KeSEMaT, untuk menjaring aspirasi, menyuburkan dukungan dan menumbuhkan semangat kita bersama, dalam upaya turut serta membantu mangrove dalam menyelamatkan ekosistemnya di Indonesia, yang makin hari makin mengkhawatirkan, kondisinya.

Empat buah siluet pohon-mangrove-khas-KeSEMaT, yang tertera di dalam lambang palang merah, menandakan bahwa mangrove dalam kondisi yang sekarat dan butuh bantuan segera. Selanjutnya, akar-akar mangrove yang mencengkeram erat Bendera Indonesia, seolah ingin menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa mangrove membutuhkan uluran tangan mereka.

Selanjutnya, kiranya tak perlu kami informasikan lagi mengenai fungsi mangrove bagi wilayah pesisir, karena Anda bisa mencermatinya sendiri di Jaringan KeSEMaTONLINE. Di sana, ada bejibun artikel dan informasi yang bisa Anda pelajari, untuk mulai mengetahui apakah sebenarnya peranan penting mangrove bagi kehidupan manusia. Satu hal yang ingin kami sampaikan di sini, bagi Anda yang berdomisili jauh dari lingkungan pesisir, yaitu di daerah perkotaan dan pusat-pusat Ibukota di Indonesia, jangan kira bahwa mangrove tidak menolong kehidupan Anda.

Apakah Anda sadar, bahwa (1) asap motor dan mobil Anda yang beracun itu, telah diserap dengan baik oleh dedaunan mangrove sehingga udara di kota kita menjadi bersih dan sehat? Lalu, apakah Anda juga tidak ingat bahwa (2) daun-daun mangrove yang lebat, berguna sekali dalam menyerap karbon untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang saat ini menjadi ancaman serius bagi umat manusia, yaitu pemanasan global. Tak hanya itu, bahkan bagi Anda yang seringkali melancong ke daerah-daerah wisata lalu menginap di hotelnya, (3) air hotel yang tawar dan dingin itu, tak akan mungkin bisa seperti itu, apabila tidak dilindungi oleh akar-akar mangrove dari intrusi air laut yang asin. Satu hal lagi, (4) setiap kali Anda membuang sampah apapun bentuknya, maka saat sampah Anda mencapai pesisir, maka mangrove yang baik, telah menetralisirnya sehingga laut kita menjadi sangat bersih dan tak tercemar lagi. Intinya, (5) masih banyak lagi manfaat mangrove lainnya, bagi Anda yang tinggal jauh dari wilayah pesisir, yang “tentu saja” tak Anda sadari.

Jadi, mangrove sebenarnya tak hanya berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di dekat pesisir, saja. Lebih dari itu, mangrove juga berguna bagi Anda yang memiliki rumah sangat jauh dari pesisir pantai Indonesia. Untuk itu, apabila Anda ingin membantu menyelamatkannya, sehubungan dengan nasib habitat mangrove yang serasa “hidup segan mati tak mau,” silahkan Anda lakukan konsep bottom up, seperti di bawah ini:

1.Bentuklah organisasi. Dengan adanya sebuah organisasi, maka Anda akan bisa dengan leluasa untuk menciptakan program-program mangrove Anda. Namun demikian, apabila hal ini terlalu berat, maka Anda bisa langsung bergabung dengan organisasi-organisasi mangrove yang telah ada, yang berada di sekitar tempat tinggal Anda, seperti KeSEMaT misalnya, untuk menjadi sukarelawan dan atau anggotanya.

2.Apabila Anda tidak bisa melakukan poin pertama, maka ajaklah minimal 5 orang teman dan atau sahabat Anda untuk langsung membuat proposal kegiatan penanaman mangrove dan memasukkannya ke dinas lingkungan terkait, para donatur dan sponsorship, yang mengatasnamakan institusi Anda, seperti sekolah, universitas, karang taruna, atau kelompok pemuda dan masyarakat lainnya.

3.Pergilah ke dinas lingkungan dan tata kota setempat untuk mengetahui dimanakah seharusnya lokasi penanaman mangrove yang aman bisa dilakukan. Banyak kasus penanaman mangrove yang gagal, karena terganjal oleh dinas tata kota berkenaan dengan pengaturan lansekap kota setempat yang berganti setiap beberapa waktu. Pergantian konsep lansekap ini, pada akhirnya berakibat pada ditebangnya ribuan mangrove yang baru saja ditanam untuk pembangunan jalan, misalnya.

4.Sisihkanlah uang saku, honor dan atau gaji Anda. Apabila tidak mendapatkan bantuan bibit dan propagul mangrove sehubungan dengan ditolaknya proposal penanaman mangrove Anda, maka Anda harus bersedia untuk menyisihkan sedikit uang Anda untuk membeli bibit dan propagul mangrove ke kelompok tani mangrove dan atau institusi yang menyediakannya. Atau, pergilah bertamasya ke pesisir, lalu carilah ratusan propagul mangrove yang telah matang yang dicirikan dengan telah keluarnya cincin kuning di bawah buahnya (biasanya sekitar bulan Agustus sampai dengan Desember di setiap tahunnya), lalu simpan sementara di ember-ember dengan cara merendamnya dengan air tawar.

5.Dua sampai dengan tiga hari kemudian, lakukanlah segera program penanaman mangrove dengan teknik yang benar, seperti (1) menggunakan ajir (potongan bambu), apabila lokasinya memiliki gelombang yang kuat, (2) mengajak masyarakat setempat dengan cara melakukan sarasehan mangrove bersama mereka, sehari sebelum kegiatan penanaman dimulai dengan tujuan untuk mengikutsertakan mereka secara aktif agar terlibat dalam kegiatan penamanan mangrove ini, dan (3) teknik-teknik rehabilitasi lainnya yang bisa Anda baca di Jaringan KeSEMaTONLINE www.kesemat.undip.ac.id.

6.Selepas melakukan penanaman bersama dengan masyarakat, peliharalah propagul dan bibit mangrove Anda. Jangan anut lagi konsep penanaman ribuan mangrove tanpa pemeliharaan yang jelas. Perlu diingat bahwa tahapan pemeliharaan adalah tahapan terpenting dari semua tahapan rehabilitasi mangrove yang ada. Ajaklah masyarakat dalam program pemeliharaan mangrove Anda, yang minimal dilakukan selama tiga bulan sampai dengan lima tahun ke depan, di lokasi yang sama. Apabila Anda tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tahapan ini, maka pada saat sarasehan sebelum tahapan penanaman, Anda bisa meminta tolong kepada kelompok tani dan warga sekitar tapak, untuk menjaga dan merawat propagul dan bibit mangrove, yang telah Anda sumbangkan kepada mereka.

7.Jangan lupa, lakukanlah keenam tahapan ini secara kontinyu setiap waktu (bisa setiap minggu sekali, setiap tiga bulan sekali dan atau setiap satu tahun sekali), di satu lokasi saja, sampai dengan kondisi ekologis mangrovenya bisa berfungsi seperti sediakala yang ditengarai dengan lebatnya vegetasi mangrove, setelah beberapa waktu kemudian.

Sebagai informasi, permasalahan mangrove di Indonesia, saat ini memang sangat pelik. Salah satu hal yang membuatnya demikian adalah konsep top down-nya yang masih saja dianut oleh sebagian besar pihak di Indonesia, ini. Konsep top down dan bukannya bottom up, saat ini memang masih begitu “menggurita” di Indonesia. Untuk itulah, nasib mangrove dari tahun ke tahun tak pernah baik, selalu buruk dan begitu menyedihkan.

Untuk melakukan penanaman mangrove saja, maka masyarakat kita ini masih saja harus “dipukul kepalanya” terlebih dahulu oleh pemerintah, baru kemudian mau menjalankannya. Sebaliknya, pemerintah yang punya kuasa, seolah tak pernah berdaya untuk melepas konsep top down mereka, karena terbukti konsep ini begitu menguntungkan untuk mempertebal kocek mereka.

Untuk itulah, program penanaman mangrove yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologis mangrove seperti yang telah disebutkan di atas, dari gempuran penebangan liar, pertambakan ikan dan udang, reklamasi lahan untuk pabrik dan peruntukan lainnya dan pengalihfungsian lahan mangrove lainnya, tak bisa dilakukan secara cepat dan tepat melainkan harus direncanakan dulu, dipertimbangkan dulu, dianggarkan dananya dulu, disetujui dulu, dan di di lainnya. Hal inilah yang menyebabkan penanganan kasus-kasus kerusakan mangrove di Indonesia ini, terasa begitu lambat dan sangat lama. Padahal, untuk menyelamatkan mangrove yang kini sudah sejengkal nafasnya, dibutuhkan tindakan yang cepat dan cermat.

Selanjutnya, apabila kita semua bisa melaksanakan konsep bottom up secara mandiri, tanpa mengandalkan program rehabilitasi mangrove dan kucuran dana dari pemerintah, seperti yang telah kami lakukan selama ini, dan juga telah kami sampaikan di atas, maka seluruh komponen masyarakat di Indonesia ini akan bisa bersatu padu menyelamatkan mangrove, layaknya Rekan-rekan yang ada di “Indonesia Unite,” yang memperjuangkan kembalinya rasa nasionalisme mereka kepada Indonesia. Jika saja hal seperti ini bisa terwujud, maka tentu saja akan menjadikan mangrove yang ada di Indonesia, menjadi lebih hijau dan lebih lestari lagi, hidupnya.

Semoga gerakan SIMF, yang logonya terpampang di atas, bisa menyemangati kita rakyat Indonesia, untuk secara mandiri turut serta dalam menyelamatkan ekosistem mangrove di pesisir-pesisir Indonesia. Ayo bersama, terapkan konsep bottom up untuk selamatkan hutan mangrove Indonesia. Salam MANGROVER!