29.8.07

Bayi Mangrove Saya, Sakit Flu!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Saya sempat sedih, begitu menjumpai fakta bahwa bayi-bayi mangrove saya sakit flu. Hal ini saya ketahui dari informasi KeSEMaTers, yang baru saja datang memonitoring mereka, di lapangan. “Mas, bayi-bayi mangrove sakit flu!” begitu ujarnya, lesu. Esok harinya, saya dan beberapa orang KeSEMaTers, segera meluncur ke Kali Babon. Saya sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan bayi kecil saya, itu. Saya harus menyentuhnya, membelainya dan melakukan tindakan pengobatan untuk menyembuhkannya.

Setelah menyisir beberapa bagian di bantaran sungai sampai dengan muara, tahulah saya mengapa Sang Bayi saya, sakit flu. Sampah-sampah plastik, kertas, dan kain nampak berserakan dimana-mana. Ada yang bertengger di daun, ada yang nyungsep ke batang, bahkan sampah kain (maaf, berupa sebuah celana dalam) ada yang nyantol di akar-nafas bayi saya. Ini gawat, soalnya akar-nafas inilah yang merupakan alat pernafasan bayi-bayi kecil saya, itu. Kalau alat nafasnya tertutup seperti itu, tentu saja mereka tidak bisa bernafas dengan leluasa. “Pantas, saja sakit flu. Orang “sampahnya (baca: debunya)” banyak begini,” gumam saya.

Mangrove sama benar dengan manusia. Sebagai salah satu makhluk yang diciptakan dari tuhan yang sama, penyakitnya pun tak ada beda dengan kita. Contoh sederhana, sakit flu ini. Biasanya, saya akan terkena flu apabila kecapekan dan atau debu begitu banyak yang masuk ke hidung saya. Sakit flu atau infuenza, sebenarnya adalah salah satu mekanisme pembuangan debu-debu itu. Lendir yang dikeluarkan pada saat kita terkena flu, sebenarnya adalah alat transportasi buat debu-debu, untuk keluar dari tubuh kita. Begitu debu-debu itu keluar, kelar sudah sakit flu kita. Namun demikian, keberadaan lendir yang terlalu banyak, terkadang membuat kita tidak nyaman, menjadi mriang dan pusing bukan kepalang.

Dan begitulah yang terjadi dengan bayi-bayi mangrove saya, saat ini. Banyaknya sampah, menjadi semacam debu baginya, yang menyumbat dan menutupi hampir sebagian hidung-hidung mereka. Parahnya, mangrove tidak memiliki lendir untuk mengeluarkan debu-debu, itu. Maka, tangan-tangan saya dan KeSEMaTers-lah yang berfungsi sebagai lendir untuk mengambil dan membuang sampah-sampah jahat itu, agar bisa keluar dari tubuh mereka.

Segera saja, dengan berbekal ember hitam besar, saya dan para KeSEMaTers, mengumpulkan sampah-sampah itu. Kami mengambilnya satu persatu dan memasukkanya ke ember (lihat foto di atas). Jalan darat yang sulit, membuat pengangkutan sampah, kami alihkan ke jalur sungai. Beberapa jam berlalu, dan sampah kami nampak menggunung di ember. Sampai di darat, sampah-sampah itu segera kami bakar. Selain membakar sampah, saya dan KeSEMaTers juga melakukan perawatan spesial kepada mereka. Beberapa bayi yang nampak layu dan lesu, kami tegakkan kembali berdirinya dan kami beri minum air tawar yang segar.

Lega. Itulah perasaan saya setelah berhasil mengobati bayi-bayi mangrove, saya. Paling tidak, saya sekarang yakin, bahwa debu-debu yang menyumbat pernafasan mereka, kini sudah hilang, lenyap. Namun saya agak khawatir dengan pola kebiasaan oknum masyarakat sekitar sungai ini yang sering membuang sampah ke sungai. Saya hanya berdoa, semoga Sang Pencipta bisa menyadarkan hati orang-orang itu, untuk tidak membuang sampah di sungai nan indah ini.

Pesan saya, jikalau Anda ada niatan untuk mau membantu bayi-bayi mangrove tadi, maka berjanjilah pada diri Anda sendiri, untuk tidak akan membuang sampah dalam bentuk apapun di area mangrove, atau dimanapun Anda berada. Sampah itu, bagi mangrove adalah debu-debu jahat yang bisa membuat hidungnya kotor sehingga membuatnya sakit flu! (IKAMaT).