24.8.07

Catatan kecil tentang MANGROVER, HEROES, X-MEN, SUPERMAN, dan FANTASTIC FOUR

Semarang - KeSEMaTBLOG. Suka tokoh-tokoh hero MARVEL komik? Pasti! Selama beberapa dekade, perusahaan komik made in Amerika itu, berhasil “menjajah” perkomikan dunia. Bukan hanya komiknya, lihat saja film-film-nya, sangat sukses di bioskop-bioskop dunia. Adalah X-Men, Superman, dan Fantastic Four, tiga dari banyak karakter “kuat” MARVEL. Setiap filmnya keluar, tak tanggung-tanggung, bioskop-bioskop dunia selalu ramai dikunjungi. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari mereka. Pahlawan-pahlawan fiksi itu begitu digilai karena menawarkan budaya pop yang sangat kental.

Budaya pop? Coba Anda cermati. Mulai dari kostum, karakter, konsep kekuatan-super, gaya hidup bahkan gaya bicara, semuanya diatur secara detail, sedemikian rupa sehingga sangat enak dipandang dan dinikmati manusia seperti kita.

Siapa juga yang tidak mau menjadi seorang manusia yang baik plus memiliki kekuatan-super (?). Konsep manusia-manusia super kuat yang mengabdikan kekuatannya untuk menolong sesamanya inilah, yang sebenarnya ingin dijual oleh MARVEL. Dan berhasil! Dibumbui dengan detail “alat-alat perang” dan senjata mereka yang unik, lengkap sudah karakter hero MARVEL. Satu yang menjadi catatan saya, walaupun ide kekuatan-supernya kadang sering di luar nalar, namun MARVEL selalu bisa membuat karakter masing-masing hero-nya menjadi sangat nyata dan humanis.

Kasus “penjualan” manusia-manusia super ke publik ini terus terjadi, dan sekarang sedang melanda mini seri televisi yang saat ini paling dicari yaitu HEROES. Tayang hampir setiap hari di TRANS TV, mini seri ini menawarkan “konsep lain” jika dibandingkan karakter hero MARVEL. Walaupun aroma penjiplakannya terhadap X-MEN sangat kentara, namun tokoh-tokohnya dibuat lebih membumi. Tokoh Claire misalnya, dia adalah seorang mahasiswi biasa, yang tubuhnya tak bisa terluka. Hampir mirip seperti Wolferine di X-MEN, yang memiliki kemampuan menyembuhkann luka di tubuhnya. Bedanya, Claire tak memiliki senjata aneh-aneh seperti kuku tajam dari besi layaknya Wolverine. Mahasiswi itu hanyalah manusia biasa, yang tak bisa mati karena regenerasi spontan.

Perbedaan paling mencolok antara HEROES dan X-MEN adalah cara pandangnya terhadap kekuatan-super. Di HEROES, manusia berkekuatan super, malah dianggap berpenyakit. Ini tidak terjadi di X-MEN. Selanjutnya, setiap karakter di HEROES, berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyembuhkan penyakitnya itu dan hidup normal lagi, layaknya manusia. Beda dengan di X-MEN, yang setiap manusia berpenyakit dikumpulkan menjadi satu di sebuah sekolah khusus manusia super (baca: MUTAN) untuk mengontrol kekuatannya demi menyelamatkan umat manusia. Selain itu, HEROES menganggap manusia super tetaplah manusia, di X-MEN tidak. Manusia yang memiliki kekuatan super dianggap sebagai MUTAN.

Baiknya HEROES adalah unsur moral dan edukasinya. Tokoh-tokoh HEROES tak memiliki seragam, senjata khusus dan kemampuan revolusionis yang tak masuk di akal seperti STORM (salah satu tokoh X-MEN) yang mampu mengendalikan badai, atau si “Manusia Melar” di FANTASTIC FOUR yang bisa memanjangkan tubuhnya sampai tak terbatas panjangnya. Semua tokoh HEROES adalah orang biasa yang (bahkan) ingin menghilangkan atau mengendalikan kekuatan supernya sehingga bisa menjadi manusia (biasa) lagi dan hidup dengan normal. Di sinilah keunggulam HEROES, konsep kepahlawanan diejawantahkan dengan cara yang halus, membumi, dan nyata terjadi di kehidupan kita sehari-hari.

Walaupun saya tahu, ada perbedaan konsep mendasar di HEROES dan X-MEN, namun saya rasa akan sangat bijak seandainya MARVEL agak sedikit mencontoh HEROES untuk mendidik masyarakat tentang arti sebuah kepahlawanan. Satu contoh kecil, MARVEL selalu mengajarkan kepada pemirsanya bahwa untuk menjadi seorang pahlawan, kita harus selalu memakai seragam alias baju dinas kebesaran. Sebenarnya, tak diperlukan seragam khusus untuk menolong sesama. Cukup dengan niat yang tulus dan kesungguhan menolong, semua itu bisa dilakukan.

Pesan terakhir inilah, yang nampaknya sengaja ingin disampaikan oleh Tim Kring, selaku produser HEROES. Kita tak perlu repot-repot menjahit baju hitam ala kucing seperti Cat Women, misalnya. Atau kita juga tak usah bersusah payah membuat baju terbang latex seperti yang dilakukan Batman atau Superman. Terlalu mahal, membuang waktu, tak efisien dan sangat ribet. Kalau ingin menolong sesama harus mengenakan seragam dulu, ya akan berabe dan memakan waktu. Seragam belum selesai dipakai, orangnya sudah mati duluan.

Tanpa embel-embel seragam dan peralatan khusus, kitapun bisa menjadi pahlawan bagi sesama kita dan lingkungan. Dengan ilmu yang kita miliki, walaupun sedikit, kita bisa menyumbangkannya untuk menolong manusia dan lingkungan. Inilah pesan moral yang mungkin tidak banyak disadari oleh pencipta-pencipta tokoh hero MARVEL.

Dan begitulah KeSEMaT mengonsep para MANGROVER. Lihatlah foto di atas sana. Komunitas pecinta mangrove itu tak perlu dan sengaja tak dibekali seragam khusus untuk menyelamatkan mangrove di pesisir pantai. Cukup dengan topi, kaos lengan panjang, celana panjang pelindung lumpur, beberapa oles lotion alias sun block sebagai pelindung tubuh dari sengatan matahari, ajir, rafia dan tekad konservasi yang kuat, mereka sudah bisa menjadi pahlawan bagi manusia dan lingkungannya (pesisir). Satu persatu, enam ribu buah lebih, bayi-bayi mangrove mereka tanam, dari pagi hingga senja, demi menyelamatkan kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Mereka mengerjakannya tanpa pamrih apapun, tulus, ikhlas dari lubuk hati mereka terdalam. Sungguh mulia hati mereka. They are the real of mangrove HEROES!

Namun demikian, manusia akan tetap memiliki dua sisi kepahlawanan yang saling bertolak belakang. Sisi yang satu akan tetap berpendirian untuk menonjolkan dan memamerkan kekuatannya di depan publik. “Kita menonjolkan dan memamerkan kelebihan kita, agar orang lain bisa tahu dan kita bisa memotivasi mereka. Dengan memakai seragam, kami lebih percaya diri untuk menolong mereka,” begitu cakapnya.

Namun tak sedikit juga manusia ogah bertindak demikian dan cenderung menyembunyikan kemampuannya. “Tanpa seragampun, kita tetap harus siap sedia menolong sesama setiap saat setiap waktu. Tak pantas juga, memamerkan kekuatan kita di depan publik, nanti dikira menyombongkan diri. Itu tidak bagus. Yang berhak sombong hanyalah Yang Di Atas Sana. Lebih baik di belakang layar, memotivasi dan menginspirasi dari belakang. Hati kita menjadi lebih tulus dan ikhlas!,” begitu katanya.

Akhirnya, sisi kepahlawanan mana yang ingin Anda pilih dan (coba) praktekkan? Semuanya terserah Anda. Saya hanya mencoba mengingatkan bahwa ketulusan, keikhlasan, tanpa pamrih, dan sikap membumi, akan jauh lebih baik untuk bisa berguna lebih maksimal bagi manusia dan alam sekitar kita.

Sebagai intermezo, kalau Batman adalah pahlawan di Gotham City, jika Superman adalah pahlawan di Daily Planet, maka Mangrover adalah pahlawan di Pesisir Pantai kita. Setuju?