22.8.07

Lezatnya, Kelepon Mangrove!

Jepara - KeSEMaTBLOG. Apakah Anda pernah mencicipi panganan bernama kelepon? Kalau belum, lihatlah foto disamping ini. Inilah kelepon. Kue isi gula aren/jawa berbentuk bulat-kenyal, berbalut parutan kelapa yang bercita rasa manis dan gurih, yang umumnya dibuat dari tepung sagu, ternyata bisa juga dibuat dari tepung buah mangrove. Adalah Ibu-ibu dari LPP Mangrove Bogor, yang memperkenalkan cara pembuatannya pada saat Kuliner Mangrove di Jepara saat Mangrove REpLaNT 2007 pada tanggal 20 – 22 Juli 2007, yang lalu. Bukan kelepon saja, bahkan permen, dodol, resoles, kolak, bubur, sirup dan panganan lezat lainnya, ternyata bisa juga diolah dari buah-buah mangrove.

Saya sempat mencicipi beberapa buah makanan. Makanan pertama adalah kelepon. Rasanya enak. Walaupun rasa tepungnya (dibuat dari daging buah mangrove jenis Avicennia atau Api-api/Brayo) memang agak “dingin” dan “pecah” begitu digigit, namun tak begitu berpengaruh terhadap kelezatannya. Sensasi dingin dan pecah ini malah menimbulkan ciri khas dari kelepon mangrove nan legit ini. Selanjutnya sirup mangrove yang dibuat dari bahan yang sama. Rasanya seperti jeruk, manis, persis sirup-sirup kebanyakan. Cita rasa dingin dan pecahnya, tak lupa tetap ada. Kemudian bubur mangrove. Yang satu ini sangat lezat, gurih sekali. Bahkan saya harus menambah sampai dengan 3 porsi, demi memuaskan nafsu makan saya.

Masih banyak makanan lain yang disajikan oleh Ibu Eny Naryanti, seperti permen dan dodol mangrove. Namun sayang, karena keterbatasan waktu, tidak semua resep bisa dipraktekkan. Walaupun sudah terbukti enak sekali dinikmati, namun kandungan gizinya ternyata belum diteliti. Ibu Eny mengatakan bahwa pembuatan panganan berbahan dasar buah mangrove hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, saat buah mangrove melimpah. “Jadi, semacam mendaur ulang buah-lah, daripada terlalu banyak dan tak ada yang memanfaatkan,” begitu kata beliau.

Panganan-panganan mangrove ini, juga belum bisa beredar luas, karena banyaknya kendala. Di Muara Gembong Jakarta, yang merupakan sentra dari jajanan mangrove ini, produksi massalnya hanya dibuat rata-rata satu tahun sekali, pada saat buah mangrove melimpah. Peredaran dan distribusinya pun hanya sampai ke masyarakat sekitar saja, tidak ke luar daerah. Kondisi panganan mangrove yang mudah rusak, agaknya menjadi kendala yang sangat serius. Selain sirup, dodol dan permen, jajanan mangrove lainnya, tak begitu tahan lama.

Penemuan pemanfaatan buah-buah mangrove menjadi aneka resep makanan dan minuman, tentunya adalah hal yang sangat menggembirakan. Dengan sedikit kreasi dan inovasi, mangrove yang dulunya dikatakan sampah dan tak memiliki nilai ekonomis, kini (bisa) dipandang sebagai tumbuhan yang berdaya jual tinggi. Akhirnya, perlu dipikirkan (baca: dibuat) sebuah peraturan yang tegas dan bijaksana, agar antara sisi ekonomis dan ekologis mangrove, bisa terus berjalan secara sinergis (IKAMaT).