27.8.07

Cermang : Bisikan Mangrove

Semarang - KeSEMaTBLOG. Setelah menanam beberapa puluh bayi mangrove, ijinkanlah saya, untuk jeda sejenak. Berilah kesempatan kepada saya untuk mengatur nafas, mengistirahatkan kedua kaki saya yang tak kunjung bisa dikeluarkan dari lumpur mangrove yang dalam, sembari menyeka lelehan keringat yang mengucur deras dari kening. Lihatlah foto di samping ini, saya akhirnya duduk diantara bayi-bayi mangrove saya, yang baru saja saya tanam. Gigitan Metaplax, Kepiting Mangrove Oranye, tak sedikitpun saya rasakan. Kulit saya, sudah sangat tebal sehingga sangat kebal dengan gigitan ini.

Saya sadar, capit oranyenya yang besar dan kuat, sedang mencengkeram kuat dan merobek kulit ari saya. Tapi tak apa, mungkin dia sedang rindu dengan saya. Biarlah, dia memuaskan rasa kangennya kepada saya. Panggilan teman-teman MANGROVER saya, yang meminta saya untuk bangkit dan memberikan hak hidup lagi buat Sang Bayi Mangrove, untuk sejenak, tak saya hiraukan. Saya terasa sangat letih. Badan saya juga serasa sangat lelah. Sesuatu, entah apa itu, seolah-olah membisikkan kepada saya, untuk berdiam diri, duduk sejenak, di lumpur-lumpur mangrove yang basah. “Dengarkanlah rintihan kami,” begitu bisikan itu, berhembus di telinga kanan, saya.

Bisikan aneh itu, (saya kira, itu bisikan mangrove) membaur dengan panggilan teman-teman, saya. Sayup-sayup, nada ejekan, saya dengar dari kejahuan, “Ayo, Mas. Jangan loyo begitu. Masa baru menanam dua puluh bibit mangrove, sudah capek. Ayo nanam lagi, di sebelah timur masih banyak, nih. Ayo, jangan loyo lagi, dong. Pekerjaan masih banyak. Semangat MANGROVER!” Mereka seolah ingin mengatakan bahwa kekuatan saya semakin hari semakin melemah saja. Saya tersenyum. Tak saya gubris. Saya tahu, mereka hanya bercanda saja. Tapi saya menyadari, dengan semakin tuanya usia saya, wajar sekali kalau saya hanya mampu menanam segitu, saja. Namun, dengan semangat MANGROVER, saya berkata, “Ya, sebentar. Sebentar lagi, saya menyusul. Pasti. No compromise for mangrove!” jawab saya semangat.

Saya tahu, dan saya juga sangat sadar. Pekerjaan konservasi mangrove ini memang sangat berat, sangat melelahkan. Wajar saja, kalau teman-teman saya, meminta dan menyemangati saya seperti itu. Mereka butuh tenaga saya. Bayangkan saja, dengan kekuatan kami yang tidak seberapa, enam ribu bayi mangrove harus kami tanam, demi menyelamatkan generasinya di masa mendatang. Bayi-bayi itu, kami letakkan secara rapi di sepanjang bantaran sungai Kali Babon, yang kurang lebih terbentang dua kilometer. Sudah dua minggu ini, saya dan KeSEMaTers berkonsentrasi menanam dan menjaga bayi-bayi mangrove itu, agar bisa tumbuh dengan baik hingga mereka dewasa nanti.

Setelah suara-suara MANGROVER itu hilang, saya kembali memfokuskan diri dengan suara pertama, sebuah suara mangrove, yang meminta saya untuk mendengarkan rintihannya. Tapi, agaknya suara itu menghilang. Aneh sekali, suara itu tak terdengar lagi. Hening. Beberapa menit kemudian, saya abaikan suara aneh itu. Untuk selanjutnya, saya begitu terbawa dengan suasana. Sembari duduk diantara bayi-bayi saya, saya melihat begitu indahnya senja. Warnanya jingga nan memerah. Semburat larik pelangi, sempat saya lihat di cakrawala. Tadi, gerimis kecil bersedia datang, membasahi sungai kecil yang indah ini. Subhanallah! Indah sekali.

Di depan saya, pemandangan hijau rumpun mangrove telah menanti. Hijaunya mangrove membuat mata saya menjadi teduh, pikiran saya sangat tenang, damai dan nyaman. Kenyataan bahwa lumpur-lumpur mangrove menempel dan mengotori seluruh baju dan badan saya, semakin membuat saya nyaman. Begitu hangat, menahan hawa dingin yang menusuk tulang-tulang saya. Kecipak air sungai, menandakan akan ada sesuatu yang muncul dari sana. Dan benar, sedetik kemudian, saya melihat anak-anak ikan berlompatan, bermain-main di sungai jernih itu. Saya tersenyum, pastilah mereka sangat senang bisa bermain-main secara leluasa. Saya yakin, para Ibu Ikan telah memberikan ijinnya. Beliau mengetahui bahwa mangrove, mampu menyerap zat-zat pencemar yang membahayakan putra-putrinya. Beliau tak takut lagi, melepas putra-putrinya bermain di luar rumah.

Melihat itu, saya sempat berpikir egois. Tiba-tiba saja, sense of egoism begitu kuatnya menyeruak dalam kalbu saya (jangan Anda tiru, ini benar-benar tidak baik!). Saya berpikir, sudah berapa banyak pahala yang sudah saya raih. Andaikan saja, pahala itu bisa berwujud, pastilah bumi nan fana ini tak mampu menampung pahala saya. Selama beberapa tahun belakangan ini, Insya Allah, saya sudah menanam hampir ratusan bahkan ribuan bayi-bayi mangrove, dan hidup!. Saya telah “memberikan” kesempatan hak hidup dan nyawa kepada bayi mangrove itu dan nyawa-nyawa baru yang hidup di sekitarnya, termasuk nyawa anak-anak ikan itu. Satu mangrove yang hidup saja, saya sudah memberi kesempatan bagi hidupnya jutaan nyawa baru, bagaimana jika ribuan mangrove yang hidup.

Namun sayang, agak nanar, di balik lebatnya rumpun mangrove, di bagian sebelah sana, saya melihat bangunan-bangunan baru yang mulai memakan populasi mangrove. Mangrove ditebang, tambak diurug dan direklamasi demi bangunan-bangunan industri. Selain itu, tanah juga mulai digali. Penggalian ini berguna untuk memperlebar jalur sungai. Seandainya saja, jalur penggalian ini sampai ke muara, yang notabene merupakan lokasi bayi-bayi mangrove kami (tapi untungnya tidak, karena saya ingat, sudah ada jaminan dari desa, bahwa penggalian tidak sampai muara), maka akan sia-sialah pengorbanan saya dan teman-teman MANGROVER, yang dengan sepenuh dan setulus hati menjaga dan menyelamatkan bayi-bayi mangrove ini. Melihat kenyataan ini, saya sedih. Sedih, sesedih-sedihnya.

Saya kadang marah (semarah-marahnya) dengan manusia, yang sampai detik ini, masih saja menganggap alam adalah benda tak hidup. Saudara-saudaraku, mereka makhluk hidup, mereka hidup dan bernafas layaknya kita. Cobalah, sempatkan waktu berbicara dengan mereka. Kalau Anda ke pesisir, cobalah ajak bicara lumpur mangrove itu, cobalah berdebat dengan mangrove, tanyakan pada mereka puaskah hidup berdampingan dengan manusia-manusia serakah seperti kita? Begitu teganya kita merampas tempat tinggal mereka. Memang, mangrove tak memiliki sertifikat tanah layaknya kita, tapi bukan berarti kita dengan seenaknya bisa merampas dan mengobrak-abrik tanah, yang adalah rumah, tempat dimana mereka meneruskan keturunannya. Ayolah, jangan jadi manusia seperti itu. Populasi kita ini, sudah banyak makan tempat-nya mangrove. Untuk itu, kita wajib mengembalikan haknya mangrove, dengan cara menyisakan tempat beberapa hektar, khusus buat tempat tinggal mereka.

“Sudah cukup rintihan kami, kau dengar. Terima kasih, Mas. Sudah kau sampaikan kepada manusia. Lanjutkan pekerjaan dan karyamu.” Tiba-tiba bisikan itu kembali terdengar di telinga kanan, saya. Tapi saya kurang tahu maksudnya. Saya kira itu adalah bisikan KeSEMTers, tapi ternyata bukan. Itu bukan bisikan mereka. Saya melihat ke kanan dan ke kiri. Satu orang KeSEMaTers terdekat dengan saya, berjarak 200 meter!