22.8.07

Mari Memperlakukan Mangrove dengan Cinta

Semarang - KeSEMaTBLOG. Siang itu sangat terik, sekitar pukul 12.00 WIB. Minggu, 12 Agustus 2007 di Kali Babon, suatu sungai indah milik Desa Trimulyo – Genuk, Semarang (yang saat ini, hidupnya kembang kempis karena abrasi), dijejali oleh para MANGROVER dari KeSEMaT dan berbagai universitas seperti UNDIP, IPB, UNRI, ITS, kelompok nelayan, dinas, karang taruna dan kelompok masyarakat di sekitar Desa Trimulyo.

Para MANGROVER berjumlah sekitar 60-an orang. Mereka yang terlibat dalam Program Mangrove Conservation: Penyuluhan dan Penanaman Mangrove untuk Menyelamatkan Pesisir Pantai Kali Babon - Semarang dari Abrasi itu, seakan tak ambil pusing dengan panasnya temperatur udara yang menerpa. Mereka juga tak peduli lagi, dengan sengatan matahari yang begitu hebat membakar kulit ari mereka. MANGROVER tetap semangat, menanam bibit-bibit mangrove, satu persatu, sambil mengikatnya ke ajir dengan tali rafia. Mereka terus melakukan hal ini sampai bibit ke 6000, saat senja datang, sekitar pukul 17.00 WIB.

Tak bisa dipungkiri, kesadaran mereka dalam melakukan usaha konservasi (tanpa dibayar), patut diacungi jempol. Kesadaran yang timbul dari hati kecil para MANGROVER itu tak lebih dan tak bukan dipicu dari jiwa konservasi yang dalam dari diri mereka masing-masing. Sejak KeSEMaT membuka pendaftaran volunter untuk program Mangrove Conservation ini, peminatnya membludak. Dalam tiga hari saja, kuota 60 orang volunter telah terpenuhi. Dan, dengan sangat terpaksa, karena keterbatasan fasilitas yang akan diberikan kepada para volunter, KeSEMaT harus menolak beberapa partisipan.

Dari kenyataan ini bisa diambil kesimpulan bahwa di luar sana, individu yang memiliki jiwa konservasi untuk peduli dengan mangrove sangatlah banyak. Masalahnya sekarang, apakah kehausan mereka akan usaha konservasi ini bisa tertampung (?). Untuk manyalurkan jiwa-jiwa kehausan mereka akan konservasi mangrove, selain KeSEMaT, harus ada banyak pihak lagi yang menginisiasi kegiatan dan program-program konservasi mangrove, serupa.

Ada cinta dalam diri kita. Saya yakin, dengan sedikit kesadaran akan mangrove yang semakin mendalam, di masa mendatang, akan ada banyak lagi para volunter yang bisa dan bersedia memperlakukan mangrove kita ini, dengan cinta. Bagaimana dengan Anda?