18.12.07

Bekerja Mandiri di Lahan Konflik

Semarang - KeSEMaTBLOG.  Minggu-minggu ini, beberapa email yang masuk ke KeSEMaT banyak yang memberikan ucapan selamat atas keberhasilan KeSEMaT mendapatkan ADHI BAKTI-nya, sembari menitipkan beberapa pertanyaan mengenai kunci rahasia dan tips bagaimana cara mendapatkan ADHI BAKTI, tersebut. Kami sempat tersenyum membaca pertanyaan ini. Di kantor, bahkan kami sempat mendiskusikan tentang bagaimana memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Demi menjawab pertanyaan terakhir itulah, maka tulisan berjudul “Bekerja mandiri di lahan konflik” ini, muncul.

Memang, dukungan dan apresiasi yang telah diberikan masyarakat kepada kami, membuat kami bangga tak terkira. Faktanya, siapapun itu, pasti ingin diakui, dihormati, diperhatikan dan dianggap penting oleh orang lain akan sebuah prestasi yang telah dicapainya. Setidaknya, begitulah yang saat ini sedang dirasakan oleh para KeSEMaTERS, setelah organisasinya bernama KeSEMaT, dinobatkan sebagai peraih ADHI BAKTI 2007, untuk kategori Mina Bahari.

Namun, tentu saja bukan penghargaan-itu yang dicari, melainkan sumbangsih dan tanggung jawab kita kepada alam. Apa yang bisa kita berikan kepada alam atas jasa-jasanya yang begitu besar kepada kita (karena telah memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup berdampingan dengan mereka) itulah, yang seharusnya selalu ditanamkan dalam benak kita. Jadi, tanpa penghargaan-pun, sudah semestinya kita terus mendukung alam kita, demi kelestariannya di masa mendatang.

Dengan pemikiran seperti ini, yakinlah, tanpa dicari, berbagai apresiasi dari masyarakat akan secara otomatis muncul. Jadi, kemenangan KeSEMaT dalam ADHI BAKTI 2007 ini (sebenarnya) tanpa tips dan kunci rahasia. Asalkan kita sayang dengan alam kita, dan mau secara kontinyu menjaganya, pastilah penghargaan-penghargaan (apapun namanya) Insya Allah, bisa diraih.

Selanjutnya, penobatan KeSEMaT sebagai pemenang Insan Peduli Lingkungan untuk kategori LSM ini, tak pernah sedikitpun jua terbayang dalam benak KeSEMaTERS. Terlebih lagi, apresiasi besar ini telah didapat KeSEMaT di tahun keenamnya. Namun demikian, mengingat perjalanan panjang kami dalam melakukan upaya konservasi, pendidikan, penelitian dan dokumentasi mangrove yang sangat tidak mudah, penuh duri, banyak pengorbanan, beragam liku yang disertai cucuran air mata dan darah, membuat KeSEMaTERS bangga dengan pencapaiannya kali ini.

Faktanya, ADHI BAKTI 2007 ini, seolah mengingatkan kembali tentang beraneka masalah dan konflik yang telah dialami oleh KeSEMaT, di masa-masa lalu. Ingatan tentang betapa sulitnya mendapatkan sebuah ijin untuk melakukan sebuah usaha penanaman mangrove di sebuah lokasi yang bernama Teluk Awur – Jepara, masih saja teringat dengan baik.

Selanjutnya, seringnya KeSEMaTERS ditolak dan dianggap sebagai organisasi mahasiswa yang tak kontinyu dalam menjaga alamnya, juga tak jarang dilontarkan oleh berbagai pihak di awal-awal berdirinya KeSEMaT. Tak hanya itu, bahkan gempuran birokrasi di negara ini yang begitu dahsyatnya menggempur di setiap pengajuan proposal kegiatan mangrove kami, juga adalah makanan sehari-hari kami.

Penolakan berkali-kali oleh berbagai instansi dan media masa yang tak mau mendukung dan meliput kegiatan mangrove kami, karena dianggap sangat tidak komersil dan tak banyak mengeruk keuntungan bagi mereka, adalah hal yang sangat biasa kami terima.

Namun untunglah, walaupun awalnya banyak dimaki, sering ditolak, tak jarang dikritik, berkali-kali tak pernah diliput dan tak tersentuh oleh media massa, toh pada akhirnya Tuhan Yang Maha Adil membukakan mata dan hati masyarakat, untuk mulai melirik KeSEMaT sebagai sebuah mutiara yang terpendam. Sebuah mutiara yang walaupun awal kilauannya tertutupi cangkang kerang, setelah dipoles, keindahannya bisa begitu mempesona banyak orang.

Setelah bekerja keras selama beberapa tahun, akhirnya KeSEMaT bisa membuktikan dan meyakinkan banyak kalangan bahwa kami adalah organisasi mahasiswa yang “tak biasa” yang banyak menelurkan program-program kerja dalam koridor konservasi, pendidikan, penelitian dan dokumentasi mangrove yang bersifat breakthrough dan bukan mainstream. Setiap program kami, juga bukan dirancang untuk satu periode/waktu saja, melainkan juga dipikirkan adanya sebuah keberlanjutannya dalam jangka panjang yang dibalut dengan semangat konservasi nan tulus untuk mau secara ikhlas bekerja demi mangrove, walaupun tanpa upah (baca: gaji).

Kini, setelah mencapai ADHI BAKTI 2007, semuanya berubah. Banyak pihak telah mengakui keberadaan kami. Berbondong-bondong media masa, perorangan, instansi, akademisi, kelompok mahasiswa, LSM dan organisasi lainnya yang dulunya tak mau bekerjasama, kini mulai membuka diri untuk bekerja bersama-sama dengan kami, demi menyelamatkan kawasan pesisir.

Tentu saja ini membuat kami bangga, karena kami merasa telah berhasil menginspirasi dan menginisiasi berbagai pihak dengan beraneka ragam latar belakang untuk mau membangun kembali alam pesisirnya. Semua perubahan ini, tentu saja kami persembahkan untuk ekosistem mangrove kami tercinta.

Dari pengalaman KeSEMaT ini, terkandung banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik bersama. Sebuah pelajaran terpenting yang bisa diambil adalah perlunya inisiatif dan usaha mandiri dari diri kita sendiri, tanpa perlu banyak menggantungkan kepada pihak lain. Tanpa adanya inisiatif dari dalam diri kita sendiri, sebuah pekerjaan penyelamatan pesisir di Indonesia yang penuh dengan birokrasi ini, tak akan mungkin bisa terwujud. Mangrove, lebih membutuhkan sebuah praktek langsung dari insan-insan peduli lingkungan untuk menyelamatkannya dari kehancuran dan kepunahan, dan bukanlah hanya rencana-rencana yang kadangkala tak jua terlaksana.

Lihatlah foto di atas, hanya berbekal makan siang dan minum seadanya (tanpa upah), KeSEMaTERS berinisiatif mengumpulkan dana secara swadaya demi membangun bedeng persemaian untuk membibitkan bayi-bayi mangrove. Kegiatan seperti ini tak usah dikomando dan mandiri dilakukan atas inisiatif KeSEMaT sendiri.

Satu pesan dari kami. Jangan pernah takut dan pantang menyerah-lah apabila Anda berniat untuk mulai bekerja membangun pesisir kita. Tetap-lah bekerja mandiri yang dilandasi dengan jiwa konservasi nan tulus dan ikhlas. Tak usah pikirkan beraneka ragam konflik dan birokrasi gila-gilaan yang kadang bisa membuat mata kita mendelik.

Semoga saja, tulisan ini bisa menjawab pertanyaan di atas dan bisa menginspirasi dan menginisiasi Anda semua. Ayo, siapa yang mau bekerja secara tulus untuk alam pesisir dan mangrove, seperti kami?