22.12.07

Peristiwa Lucu, Saat Mangroving!

Semarang - KeSEMaTBLOG.  Ada peristiwa lucu yang sama sekali tak lucu terjadi, sewaktu saya dan KeSEMaTERS diundang ke sebuah acara bertajuk Pencanangan Mitigasi Bencana dan Antisipasi Perubahan Iklim Global dan Gerakan Bersih Pantai dan Laut (PMBAPIG - GBPL) di Desa Morodadi Demak, pada tanggal 12 Desember 2007 yang lalu.

PMBAPIG – GBPL hanya menjadi sebuah acara sarasehan dan tanya jawab biasa, tanpa adanya gerakan turun langsung ke lapangan, untuk membersihkan pantai dan laut. Padahal, alat-alat bersih pantai sudah dibeli dan disiapkan oleh panitia. Tinggal dipakai saja untuk membersihkan laut di sekitarnya, tapi tidak jadi dilakukan.

Entahlah, mungkin karena waktunya yang sudah terlalu siang dan atau ada kendala teknis lainnya, sehingga panitia tidak mengkomando peserta agar terjun langsung ke lapangan. Yang jelas, mubazirnya alat-alat kebersihan yang sudah dibeli dan disiapkan di lapangan, sudah semestinya menjadi satu catatan penting yang harus bisa dievaluasi oleh panitia.

Kesimpulannya, PMBAPIG – GBPL ini hanyalah sebuah acara seremonial saja yang sama sekali tak mengikutsertakan peserta dan masyarakat setempat untuk langsung terjun membersihkan pantai agar mendidik mereka tentang betapa sulitnya merehabilitasi sebuah eksoistem pesisir yang telah rusak akibat ulah manusia.

Bukan itu saja, tak hanya alat-alat kebersihan yang dianggurkan (lihat foto di atas), bibit-bibit mangrove juga tidak ditanam dengan teknik dan metode yang benar. Penanaman mangrove yang ditanam di depan pemecah gelombang (break water), agaknya manjadi satu kesalahan mencolok yang tak bisa ditolerir.

Semua orang juga tahu, bahwa untuk penanggulangan abrasi pantai, bibit-bibit mangrove harus wajib ditanam di belakang pemecah gelombang agar terhindar dari gelombang untuk melindungi fisiknya yang masih rentan terhadap gelombang, dan bukan malah diletakkan di depannya.

Selanjutnya, walaupun ajir sudah ditanam dengan jarak tanam yang sesuai namun tak adanya tali rafia untuk mengikat bibit mangrove ke ajir, membuat penanaman mangrove di depan break water adalah sebuah penanaman mangrove yang sangat sia-sia dan terkesan hanyalah seremonial belaka.

Saya dan KeSEMaTERS sempat bertanya kepada panitia tentang kurang siapnya pencanangan ini, sembari menyarankan kepada mereka untuk memindahkan bibit-bibit mangrove ke lokasi penanaman yang benar. Dengan dalih acara seremonial, mereka menjelaskan bahwa setelah acara berakhir, masyarakat Desa Morodadi, akan membereskan kesalahletakkan penanaman mangrove tersebut, dan menanamnya kembali dengan metode yang benar.

Selanjutnya, kami juga yakin, bahwa “panitia” pasti akan menjaga bibit-bibit mangrove tadi, karena mereka pasti juga menginginkan bibit-bibit mangrove bisa tumbuh dengan baik. Peristiwa lucu ini, semoga saja hanyalah sedikit keteledoran mereka yang tak disengaja dan tak akan terjadi lagi di masa-masa mendatang.

Semoga, peristiwa lucu ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih bisa serius dan tidak main-main lagi dalam bekerja untuk alam. Mengapa demikian? Karena kalau sudah marah, alam-pun juga tak akan main-main dan tak ada segan-segannya untuk menghancurkan kita semua.

Setelah menyampaikan pesan kami, kami merasa agak lega. Namun demikian, di tengah perjalanan pulang, kami membawa sebuah pertanyaan yang sangat besar. Apabila di setiap acara pencanangan program di Indonesia “dikonsep” seperti ini, berapa banyak biaya-mubazir yang keluar? Wallahu alam. (IKAMaT).