3.3.09

Banjir dan Mangrove

Semarang - KeSEMaTBLOG. Musim hujan, tak kunjung reda. Seperti tahun sebelumnya, banjir kembali datang dan menggenangi hampir di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali Jawa. Semarang, yang notabene adalah ibukota Jawa Tengah, juga tak luput dari amukannya. Semarang-bawah yang merupakan jantung kota, tergenang air hingga lutut. Fasilitas umum seperti stasiun, terminal, bandara dan jalan-jalan kota, juga terkena banjir akibat tingginya curah hujan di awal-awal bulan tahun 2009. Masyarakat mulai resah, seraya berharap hujan segera berganti dengan kemarau.

Tak hanya masyarakat yang gundah, para pekerja mangrove seperti kami ini, sebenarnya juga sangat khawatir dengan daerah pesisir, tempat dimana kami bekerja menyelamatkan bayi-bayi mangrove kita. Apa pasal? Banjir telah menggenangi bayi-bayi mangrove yang telah kami tanam beberapa waktu yang lalu. Kalau sudah begini, tentu saja kehadiran banjir berpengaruh buruk bagi kelulushidupan bayi-bayi mangrove kita.

Di masa banjir seperti ini, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan ketika program-program rehabilitasi mangrove akan dijalankan. Hal pertama adalah para pekerja mangrove harus benar-benar mematok jadwal penanaman bibit mangrove secara tepat dan benar agar pada saat penanaman, lahan mangrove tidak hilang tertelan banjir. Hilangnya lahan mangrove karena banjir, tentu saja akan merugikan pekerjaan penanaman mangrove kita. Biaya yang sudah dikeluarkan pada tahap pra penanaman bisa jadi hilang tak berbekas karena kendala tak adanya lahan untuk penanaman mangrove.

Selanjutnya, hal kedua adalah pada saat paska penanaman, kita harus pandai-pandai mencegah kematian bibit-bibit mangrove akibat rendaman banjir. Memang, pada saat pra penanamn, bisa saja bibit-bibit mangrove kita aman dari banjir. Namun demikian, banjir yang datangnya tidak bisa diprediksi bisa menelan habis bayi-bayi mangrove kita, setelah program penanaman selesai dilaksanakan. Resiko pekerjaan seperti ini, tentulah harus dipikirkan dengan cermat.

Untuk mengatasi kedua hal ini, koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat, wajib dilakukan untuk memprediksi dan menentukan waktu yang tepat diadakannya program penanaman. Sangat tidak bijak apabila pekerja mangrove seperti kita ini, pada saat menentukan waktu penanaman mangrove (yang terkadang seremonial belaka), hanyalah berdasarkan ketepatan jadwal para “pejabat penting” belaka, dan melupakan masa datangnya banjir.

Sewaktu melakukan diskusi dengan para mitra kami di Kantor, sekarang ini banjir memang menjadi momok yang paling menakutkan. Ada banyak kasus program-program rehabilitasi mangrove yang “gagal” karena bencana banjir. Sebuah institusi di Semarang dan Jakarta bahkan sempat menunda program rehabilitasi mangrove-nya di Semarang karena takut terjadi kegagalan dalam proses pra dan paska penanaman. Penundaan program-program rehabilitasi mangrove ini kiranya sah-sah saja, tetapi jangan sampai menyurutkan apalagi mematikan niat kita untuk terus menerus dan secara kontinyu mengadakan kegiatan penanaman mangrove di pesisir kita.

Terlepas dari bencana banjir yang seringkali “merusak” bibit-bibit mangrove kita, kita tidak boleh menyalahkan alam apabila banjir benar-benar merendam lahan penanaman dan bibit-bibit mangrove, kita. Alam tidak pernah salah, justru kitalah yang tidak benar dalam memprediksi datangnya banjir. Sebuah kegagalan dalam program penanaman mangrove yang mengambinghitamkan alam sebagai penyebabnya, tentulah bukan hal yang bijak. Seharusnya, kesalahan memprediksi datangnya banjir, menjadi pelajaran yang berharga agar kita bisa lebih berhati-hati lagi di dalam menentukan waktu yang tepat dalam melakukan kegiatan penanaman bayi-bayi mangrove kita. Salam MANGROVER!