27.3.09

Perang Lumpur MC 2009: Tak Ada Lagi Lumpur Phobia!

Semarang – KeSEMaTBLOG. “Perang Lumpur (RANGPUR)!” Dua buah kata yang begitu familier di telinga para Peserta MC 2009. Seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesi RANGPUR begitu diminati dan dinanti. Tak hanya MC, di setiap program konservasi KeSEMaT lainnya, permainan mengasyikkan ini selalu diadakan KeSEMaT dengan banyak tujuan antara lain untuk mendekatkan peserta dengan alam mangrove yang indah, dengan cara “menjamah” lumpurnya secara langsung, sehingga tak ada lagi orang yang phobia dengan lumpur mangrove.

Banyak pengaduan yang ditimpakan kepada KeSEMaT mengenai Lumpur Phobia (LP). Sebelum mendaftar menjadi KeSEMaT’s Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) di program-program konservasi mangrove KeSEMaT, beberapa individu sempat mencurahkan hatinya kepada kami, bahwa mereka agak takut dengan lumpur mangrove. Bukannya apa-apa, pola pikir sebagian dari mereka yang masih menganggap bahwa lumpur adalah sebuah benda kotor nan menjijikkan masih saja menggelayuti pikiran, mereka. Nah, dengan adanya RANGPUR ini, diharapkan mindset yang telah terbentuk seperti demikian, bisa segera dihilangkan. Sebenarnyalah, tak ada sesuatu hal yang harus ditakutkan di lingkungan mangrove. Justru, mangrove adalah ekosistem yang sangat indah, ramah, menawan, mempesona dan begitu menakjubkan!

RANGPUR ini diadakan sesaat setelah para agen-agen muda mangrove, selesai melakukan pembibitan bayi-bayi mangrove mereka. Tanpa komando, seolah mereka sudah mengetahui bahwa begitu benih terakhir Ceriops spp telah menancap secara sempurna di sedimen berpolybag, maka, sedetik kemudian lumpur-lumpur hitam mangrove langsung dilempar ke atas, ke samping, ke depan, ke belakang, ke kanan, ke kiri, ke utara, ke selatan, ke barat, ke timur dan ke mana-mana. Tak ada satu sudutpun yang tak terhindar dari lumpur.

Karuan saja, mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki para peserta MC 2009, otomatis langsung tertempeli dengan lumpur-lumpur mangrove. T-Shirt MC 2009 yang sebenarnya masih baru, dan baru saja dipakai oleh para peserta dalam hitungan jam, tak lepas dari “amukan” lumpur yang mengotorinya, hingga tak terlihat lagi seperti T-Shirt, kecuali hanyalah baju lumpur yang sangat kotor. Namun demikian, tak ada yang komplain, tak ada yang menolak, tak ada yang tidak mau untuk menerima lemparan lumpur. Semua peserta saling lempar dan saling menimpali. Bahkan, ada juga yang mandi lumpur sebagai perwujudan rasa cintanya kepada mangrove (lihat foto di atas).

Tak ada aturan khusus yang wajib dipatuhi oleh para pelaku RANGPUR, kecuali sebuah misi untuk mengotori seluruh bagian tubuh para Peserta MC 2009.

Maka, di saat sebuah pekerjaan gerakan moral untuk menyelamatkan ekosistem mangrove di Jepara telah selesai dilakukan, lahirnya prosesi RANGPUR dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa cinta dan sayang kita kepada mangrove, memang layak untuk dilakukan. Bukankah ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang (?).” Apabila kita tak kenal dengan mangrove dan lumpurnya, maka bagaimana mungkin, kita bisa sayang dan cinta dengannya (?). Salam MANGROVER!