3.3.09

Trimulyo Makin Hijau!

Semarang - KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping ini. Ini adalah foto kami pada saat melakukan Program Monitoring Mangrove (PMM) kami di Kelurahan Trimulyo Kecamatan Genuk Semarang. PMM hasil dari proyek Mangrove Conservation (MANGCON) 2007 dan Mangrove Restoration (MANGRES) 2008 telah kami lakukan di pertengahan Februari 2009 yang lalu. Hasil dari PMM adalah sebuah berita gembira karena kondisi Trimulyo yang di tahun 2007 di sepanjang area pertambakannya tak ada mangrovenya sama sekali, kini semuanya sudah tertutupi dengan bibit dan propagul mangrove secara rapi dan rapat.

Setelah Dinas Pertanian, KeSEMaT dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Kota Semarang mengadakan proyek rehabilitasi mangrovenya di sana, maka setahun kemudian disusul dengan proyek-proyek rehabilitasi mangrove lainnya sehingga memperapat rumpun mangrove yang ada di sana.

Cermatilah foto di atas, di depan kami itu adalah bibit-bibit mangrove jenis Rhizophora yang telah ditanam di bibir pantai, persis di belakang tambak ikan yang sudah mulai tidak produktif dan ditinggalkan pemiliknya. Di tahun 2007 yang lalu, pemandangan seperti ini tidak mungkin dilihat. Namun, setelah dua tahun kemudian dan sesudah KeSEMaT, Dinas Pertanian dan DKP Pemerintah Kota Semarang memberikan pengajaran, penyuluhan dan inisiasi akan pentingnya ekosistem mangrove sebagai penangkal abrasi kepada para pelajar dan masyarakat setempat, agaknya pola inisiasi kami berhasil sehingga masyarakat semakin sadar dengan peranan penting yang dimainkan mangrove untuk menyeimbangkan ekosistem pesisir.

Tiga bulan yang lalu, secara bahu membahu, masyarakat Trimulyo bersama dengan pemerintah kabupaten Semarang, telah menanam lebih dari 10.000 bibit mangrove baru untuk melengkapi kurang lebih 6000 bibit mangrove yang telah ditanam oleh Dinas Pertanian dan 6000 bibit mangrove yang telah KeSEMaT dan DKP Pemerintah Kota Semarang tanam di tahun 2004 dan 2007. Senang dan bangga, itulah yang kami rasakan setelah mengetahui bahwa Trimulyo yang memang menderita gejala abrasi-akut mulai tersembuhkan dengan banyaknya pihak yang menginisiasi program-program penanaman mangrove di wilayah pertambakan hingga beberapa kilometer, ini. Kini, sejauh mata memandang tak ada lagi pesisir Trimulyo yang kosong kecuali ditumbuhi dengan bayi-bayi mangrove kecil.

Tak hanya melihat kondisi pesisir dan inisiasi penanaman saja, tapi kami juga menghitung kelulushidupan bibit-bibit mangrove kami secara visual. Secara umum, bisa dikatakan bahwa tingkat kelulushidupan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam oleh Dinas Pertanian, KeSEMaT dan DKP Pemerintah Kota Semarang di sepanjang pesisir pantai Trimulyo mencapai angka 60%. Beberapa titik terlihat terjadinya kematian bibit karena terjangan arus dan lepasnya bibit/propagul mangrove dari ajir. Selain itu, banyaknya sampah plastik dan gangguan ganggang/lumut, juga menjadi masalah sehingga menyebabkan pertumbuhan bibit mangrove tidak maksimal.

Namun demikian, melihat semangat masyarakat setempat yang makin menggebu ditambah dengan tingkat kesadaran yang semakin tinggi dalam mengelola ekosistem mangrovenya, kami yakin bahwa di masa mendatang, Trimulyo akan semakin hijau-lagi apabila dibandingkan dengan sekarang. Bayi-bayi mangrove yang saat ini baru berumur tiga bulan sampai dengan tiga tahunan, jika bisa bertahan hidup (karena kami mengkhawatirkan kondisi bayi-bayi mangrove kami, mengingat bencana banjir di Semarang di awal tahun ini) sampai dengan puluhan tahun lagi, maka akan mampu melindungi pesisir pantai Trimulyo dari serangan abrasi yang ganas. Semoga. Salam MANGROVER!