16.9.10

Bersama KeSEMaT, Mahasiswa dan Alumni Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Berhasil Kembangkan Konsep Rehabilitasi Mangrove Indonesia ke Tingkat Dunia!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Adalah sebuah kebanggaan tersendiri, diusianya yang baru akan genap 9 tahun, pada tanggal 9 Oktober 2010 nanti, KeSEMaT telah berhasil menghantarkan ratusan mahasiswa dan alumni Jurusan Ilmu Kelautan (JIK) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, didalam mengembangkan konsep rehabilitasi mangrove (asli) Indonesia ke tingkat dunia.

Disaat serbuan organisasi dan institusi lingkungan asing semakin menggila, yang beramai-ramai membuka cabang, berafiliasi dan menyerbu Indonesia, kemudian memuntahkan konsep-konsep “asingnya” yang belum tentu cocok dengan karakter dan budaya masyarakat kita, nyatanya KeSEMaT justru berhasil melawan arus dan menyerbu negara lain, untuk bermitra dengan organisasi dan institusi mangrove luar negeri, sembari mencoba menerapkan konsep-konsep rehabilitasi mangrove made in Indonesianya, untuk kemudian diadopsi di negara-negara asing, tersebut!

Indikasi gejala serbuan konsep rehabilitasi mangrove KeSEMaT ke dunia ini, setidaknya mulai terjadi di awal tahun 2005, disaat KeSEMaT berhasil bekerjasama dengan redaksi majalah lingkungan TUNZA, yaitu sebuah majalah-remaja-dunia multi bahasa yang pengelolaannya berada di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).


Saat itu, berita kegiatan penanaman ribuan mangrove KeSEMaT, MANGROVE REpLaNT (MR) 2005, berhasil ditulis oleh TUNZA dan disebarkan ke jaringan mereka ke berbagai negara. Setelah itu, mulailah secara bertubi-tubi, organisasi dan institusi asing lainnya mengajak KeSEMaT untuk bekerjasama, didalam melakukan kampanye pelestarian lingkungan bagi masyarakat dunia. Young People We Care (YPWC) Ghana, Greenpeace Asia Tenggara, PEMSEA Philipina dan Friends of Earth (FoE) Jepang adalah empat nama dari puluhan nama institusi asing lainnya, yang berhasil bekerjasama secara baik dengan KeSEMaT.

Tentu saja, kesempatan emas agar tidak menjadi institusi mangrove Indonesia yang hanya jago kandang saja - dengan hanya menyebarkan konsep pelestarian mangrove di Indonesia saja -, tidak disia-siakan oleh para KeSEMaTER, sebagai “pemain utama” di KeSEMaT.


Satu persatu bentuk kerjasama, pekerjaan dan tawaran kemitraan dengan para koleganya di luar negeri, berhasil dikerjakan dengan baik oleh KeSEMaTER, yang pada akhirnya mampu menciptakan ruang yang sangat lebar, bagi penyebaran konsep rehabilitasi mangrove asli Indonesia ke dunia, melalui Jaringan KeSEMaTONLINE dan buku-buku dan konsep kampanye mangrove yang berhasil ditulis oleh KeSEMaTER, yang akan segera diterbitkan dalam beberapa waktu dekat ini.

Adalah Mangrove For the Future (MFF) dan International Union for Conservation of Nature (IUCN), dua buah institusi mangrove internasional, yang saat ini sedang bekerjasama dengan KeSEMaT, yang kemudian berkenan menampung segala bentuk ide dan kreativitas para KeSEMaTER didalam mengemas setiap program dan proyek mangrovenya sekreatif mungkin, untuk kemudian menyebarkannya ke dunia, agar siap diadopsi oleh negara-negara yang memiliki kasus-kasus mangrove serupa dengan Indonesia! 


Hal terakhir inilah, yang kemudian menjadi bukti bahwa betapa diusianya yang masih belia ini, KeSEMaT (sekali lagi) telah berhasil menghantarkan ratusan mahasiswa dan alumni JIK FPIK UNDIP, didalam mengembangkan konsep rehabilitasi mangrove (asli) Indonesia ke tingkat dunia.

Ternyata, memang buah pikir anak-anak bangsa kita, tidak kalah briliannya dengan para pemikir lingkungan luar negeri, yang saat ini seakan “menjajah” Indonesia, dengan bermunculannya afiliasi organisasi dan institusi lingkungan mereka di Indonesia.


Semoga saja, ke depan, KeSEMaT terus bisa berkembang sehingga juga akan memiliki afiliasi mangrove di beberapa negara di dunia, agar bisa “menjajah” balik negara-negara asing tersebut, dengan konsep penyelamatan ekosistem mangrove asli Indonesia, demi kelestarian spesies mangrove dunia, di masa mendatang. Amin. Semangat MANGROVER!