14.9.15

Mangroving ke Hawaii, Presiden KeSEMaT XII Bertemu Presiden Barack Obama

Washington, DC - KeSEMaTBLOG. Diluncurkan pada 2013, Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) adalah program yang dicanangkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk memperkuat pengembangan kepemimpinan dan jaringan di Asia Tenggara. Melalui berbagai program dan keterlibatan, termasuk pendidikan dan pertukaran budaya, pertukaran regional, dan bantuan dana pengembangan dari Amerika Serikat, YSEALI berusaha untuk membangun kemampuan kepemimpinan pemuda di wilayah tersebut, memperkuat hubungan antara Amerika Serikat dan Asia Tenggara, dan memelihara masyarakat ASEAN.

YSEALI memiliki fokus pada topik penting yang diikuti oleh pemuda di wilayah tersebut: keterlibatan sipil, lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam, dan kewirausahaan dan pembangunan ekonomi.

Sekitar 65% dari masyarakat ASEAN berada dibawah usia 35. YSEALI merupakan upaya untuk memanfaatkan potensi yang luar biasa dari pemuda di wilayah ASEAN untuk mengatasi tantangan kritis dan memperluas kesempatan.

Komunitas YSEALI terdiri dari pemimpin cerah muda, berusia 18-35 tahun, dari Brunei, Burma, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Laos, Singapura, Thailand dan Vietnam yang membuat perbedaan dalam komunitas mereka, negara, dan wilayah ASEAN itu sendiri.

Agenda rutin yang dilaksanakan oleh YSEALI adalah: YSEALI Professional Fellows, YSEALI Academic Fellows, YSEALI Regional Exchanges dan YSEALI Seeds for Future Competition.

Senang sekali, Presiden KeSEMaT XII, yaitu Sdr. Amrullah Rosadi (Amrul) terpilih menjadi bagian dari program YSEALI Institute of Environment berkunjung ke Amerika. Kegiatan berlangsung mulai 3 Mei 2015 hingga 6 Juni 2015 yang lalu, yang berlokasi di Amerika Serikat (Hawaii, Colorado, dan Washington DC).

Para peserta dalam kegiatan ini berjumlah 20 orang, yaitu:
1. Nurul Amalina Ariffin. Malaysia. Law. International Islamic University Malaysia.
2. Mohammad Khalid Khairullah. Brunei Darussalam. Civil Engineering. Institute Technology Brunei.
3. Kelly Chiali Cheng. Malaysia. Journalism. Taylors University Lakeside Campus.
4. Dk Nur Syazwina Yasmin. Brunei Darussalam. Computer Science. Universiti Brunei Darussalam.
5. Muchamad Dafip. Indonesia. Biology Medical Science. Universitas Diponegoro.
6. Amrullah Rosadi. Indonesia. Marine Science. Universitas Diponegoro.
7. Mac Edsel Truno Florendo. Filipina. Mass Communication. Silliman University.
8. Fadlan Satria. Indonesia. Agribusiness. Universitas Lampung.
9. Sheryl Hui Min Foo. Singapore. Environmental Studies Yale-NUS.
10. Thinesh Selvarajoo. Malaysia. Chemical Engineering. University of Nottingham Malaysia.
11. Christian Florendo Gino. Filipina. Marine Biology. Mindanao State University.
12. Shian Feen Ser. Malaysia. Environmental Science. University of Malaya.
13. Siti Nisrina Hasna Humaira. Indonesia. Soil Science. Padjajaran University.
14. Hendra Edison Simanullang. Indonesia. Agrotechnology. Sriwijaya University.
15. Cathrene Sanial Lagare. Filipina. Environmental Science. Ateneo de Davao University.
16. Anindita Rustandi. Indonesia. Marine Science. Padjajaran University.
17. Ferth Vandensteen Manaysay. Filipina. Political Science. University of the Philipines – Diliman.
18. Chee Ying Tong. Singapore. Environmental Studies. Yale - NUS.
19. Almira Banog Menson. Filipina. English. Mindanao State University.
20. Patricia Bi Yi Wong. Malaysia. International Economics. University Malaysia Sarawak.

"Sebelum berangkat ke Amerika, saya membuat video-pendek mengenai kegiatan mangroving saya di Indonesia, sebagai seorang Anggota KeSEMaT yang banyak menginisiasi program konservasi mangrove sebagai salah satu solusi permasalahan lingkungan di pesisir Semarang. Saya terlibat dalam beberapa proyek rehabilitasi mangrove KeSEMaT bersama mitra kerjanya dari dalam dan luar negeri. Dalam lingkup global, aksi-aksi ini menjadi penting, mengingat masa depan kelestarian pesisir Indonesia, juga akan menimbulkan dampak bagi negara lain di masa mendatang," ungkap Presiden KeSEMaT XII ini.

Program YSEALI Institute of Environment ini bermula dengan kegiatan di Negara Bagian Hawaii, Amerika Serikat selama 3 minggu. Selama di Hawaii peserta dibagi menjadi 4 kelompok yang beranggotakan 5 orang.

Setiap kelompok bertanggung jawab untuk melakukan studi mendalam terhadap perkembangan kebijakan lingkungan yang dialami oleh Amerika Serikat dalam era tertentu. Kemudian setiap kelompok diwajibkan untuk mengadakan workshop kepada anggota yang lain tentang era yang dipelajari, dan diiringi dengan kunjungan lokasi yang berhubungan dengan studi tersebut di Hawaii.

Lokasi yang dikunjungi antara lain, Kualoa Ranch, Pearl Harbour, Hanauma Bay, HPower, Iolani Palace, dan Hawaiian Foodbank.

Dalam setiap sesi workshop peserta diberi kesempatan untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi lingkungan Amerika Serikat pada masa tersebut, dan menyesuaikannya dengan kondisi di negeri masing-masing serta mengidentifikasi tindak tanduk pemimpin pada masa tersebut, untuk menentukan kebijakan lingkungan yang diambil dalam menyelesaikan suatu permasalahan lingkungan.

"Di Hawaii, saya menjumpai Rhizophora dan Bruguiera. Pengalaman yang menarik, mengingat dua jenis mangrove ini bisa saya lihat langsung di benua yang berbeda," kisah Sdr. Amrul.

Kegiatan dilanjutkan di Kota Boulder Negara Bagian Colorado, Amerika Serikat selama 1 minggu. Di Boulder, peserta masih berada di dalam kelompok yang sama dan untuk kali ini setiap kelompok bertanggung jawab untuk mengadakan Business Accelerator (BA) untuk beberapa contoh isu lingkungan.

Isu yang menjadi topik selama pelaksanaan BA adalah Social Enterprise, Waste Management, Sustainable Neighborhood, dan Sustainable Wetlands and Water. Kegiatan BA ini bertujuan untuk melatih para peserta untuk menemukan suatu kesempatan usaha atau peluang dalam problematik yang timbul akibat interaksi masyarakat dengn lingkungan ataupun masalah lainnya yang melibatkan berbagai pihak.

Agenda terakhir dilaksanakan di Ibukota Amerika Serikat, Washington DC. Agenda yang dijalani di Washington DC mayoritas berupa agenda pertemuan dengan petinggi di Pemerintah Amerika Serikat, seperti Presiden Barack Obama, Diplomat dan konselor di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC, serta presentasi laporan kegiatan dan perencanaan proyek negara di Department of State Amerika Serikat.

"Tak menyangka bisa bertatap muka dengan Presiden Obama dan memasuki Gedung Putih yang tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan langka, ini. Mangrove membawa saya ke sini," kisah mantan Presiden KeSEMaT ini bangga.

Selama di Washington DC, peserta diharapkan untuk mempersiapkan rencana implementasi proyek yang bisa dilaksanakan di negeri masing-masing berdasarkan pengalaman yang didapatkan selama program berlangsung. Semangat MANGROVER!