21.1.08

Selamatkan Mangrove Demi Masa Depan yang Lebih Baik

Semarang - KeSEMaTBLOG. Setelah memposting “Mari kita hengkang dari estuaria,” KeSEMaT menerima puluhan email dari masyarakat Indonesia, yang intinya sangat setuju dan kontra sekali terhadap pendapat kami mengenai ajakan untuk segera menghentikan segala pekerjaan yang merusak estuaria. Salah satu email dari sekian belas email yang menyatakan kontranya, kiranya sangat menarik untuk kita cermati bersama. Email itu datang dari Seorang Bapak (SB) yang berasal dari sebuah kota metropolitan di Nusantara. Intinya, dia sangat tidak setuju dan khawatir sekali dengan sepak terjang para aktivis organisasi lingkungan, yang secara terus menerus melakukan kampanye anti reklamasi di kawasan pesisir.

SB beranggapan, dengan menolak setiap usaha reklamasi pantai, dalam jangka panjang, kita ini sama saja dengan membunuh populasi kita sendiri. Menurutnya, setiap usaha reklamasi yang dilakukan oleh pemerintah, tak lain dan tak bukan hanyalah untuk menjamin ketersediaan pemukiman yang layak bagi penduduk Indonesia. Dengan demikian, di masa mendatang, manusia Indonesia akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi, seperti yang telah dirasakan oleh penduduk dunia lainnya.

Selanjutnya, dia mencontohkan proses reklamasi pantai yang marak terjadi di Ibukota Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Pembangunan kawasan industri, pendirian puluhan pabrik baru, pelebaran jalan tol dan pemukiman penduduk, semuanya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi ledakan penduduk yang semakin hari semakin tak terbendung lagi.

Kalau saja reklamasi tak boleh dilakukan, maka dimana lagi manusia akan hidup. Dimana lagi manusia akan membangun rumah-rumah untuk hidupnya? Padahal, bukankah Tuhan telah menciptakan bumi ini semata-mata hanya untuk kelangsungan hidup manusia? Kalau saja manusia tak memanfaatkan estuaria, tidak memanfaatkan sumber daya yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, berarti kita ini sama saja dengan tidak menghormati kehendakNya.

Tambahnya lagi, sebagai manusia yang bijak, kita tak boleh menghakimi kerusakan alam akibat ulah manusia. Kalau saja daerah estuaria telah rusak karena dimanfaatkan oleh manusia untuk pemukiman, pertambakan dan pariwisata misalnya, maka itu adalah sah-sah saja. Kita tidak boleh menyalahkan manusia, karena manusia sudah dalam koridor yang benar, yaitu “memanfaatkan alam.”

Sebagai kesimpulan, dia menambahkan bahwa dari tahun ke tahun, kebutuhan manusia akan sandang, pangan dan papan, pastilah akan selalu meningkat. Kita butuh estuaria sebagai sebuah tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup kita tersebut. Untuk itu, para aktivis lingkungan dimintanya untuk tidak terlalu menyalahkan pemerintah apabila melakukan program reklamasi pantai. Toh, ke depannya, semua yang diusahakan pemerintah ini adalah demi kehidupan dan kelangsungan hidup mereka juga.

Begitulah poin-poin yang disampaikan oleh SB, via email, ke kami.

Dalam keadaan tertentu, pada dasarnya, kami juga setuju dengan pendapat yang dikemukakan oleh “beliau” ini. Kami pikir, siapa juga yang tak mau kualitas hidupnya meningkat dan terjamin sepanjang masa. Pasti semua manusia juga mau.

Namun demikian, beberapa pandangan yang dikemukakan oleh SB, kami kira agak kurang benar. Dengan tidak melakukan tindakan destruktif di estuaria-lah, maka kelangsungan hidup kita akan semakin terjamin dan everlasting alias “tahan lama.” Marilah kita semua untuk berpikir jernih, jujur, sesuai dengan hati nurani kita masing-masing, betapa kerusakan yang telah kita timbulkan di estuaria, justru akan lebih mempercepat kerusakan hidup kita di bumi ini, dan bukan sebaliknya!

Selanjutnya, permasalahan pemanfaatan sumber daya alam oleh manusia. Bukankah Tuhan juga telah meminta manusia untuk tidak hanya berhubungan dengan Dia dan antar sesama manusia saja, melainkan juga harus mampu bermasyarakat dengan alam dan lingkungannya. Jadi, apabila SB berkeyakinan manusia sah-sah saja apabila mengeruk hak alam, maka kami kira itu adalah bukan sebuah perbuatan yang bijak.

Sebaliknya, manusia yang diciptakan lebih tinggi derajatnya daripada makhluk lainnya, seharusnya harus lebih bisa berpikir dengan baik, tentang bagaimana caranya agar hubungan antara dia dengan Penciptanya, dengan sesama manusia dan dengan lingkungannya bisa berjalan baik secara seimbang. Selanjutnya, kita seharusnya bisa menemukan jalan keluar, bagaimana caranya agar mampu menjaga keseimbangan alam dengan baik tanpa melakukan tindakan merusak yang justru membuat hubungan kita dengan alam kita, menjadi kurang harmonis.

Ledakan manusia setiap tahun, memang tak bisa dihindari, akibatnya lahan akan semakin terjepit untuk menampungnya. Tapi, bukankah manusia juga diberikan akal dan pikiran untuk bisa mengendalikan populasi mereka sendiri? Jadi, kalau alam yang melulu kita jadikan obyek keserakahan kita, kami kira, kita ini sebagai manusia sangat tak menghormati hak hidup lingkungan estuaria kita.

Meminjam istilahnya SB, apakah kita mau, dicap oleh Sang Pencipta kita, sebagai makhlukNya yang tidak menghormati kehendakNya. Tentu tidak, bukan?