30.4.08

Pembagian Zonasi Mangrove Berdasarkan Ketinggian dan Frekuensi Genangan Air Pasang

Semarang - KeSEMaTBLOG. Beberapa penikmat KeSEMaTBLOG, seringkali menanyakan kepada kami tentang pembagian ekosistem mangrove. Selain dilihat dari komponen vegetasinya (mangrove mayor, minor dan asosiasi), apakah mangrove juga bisa dibagi menurut karakteristiknya yang lain? Kami jawab, bisa. Memang, selain dilihat dari komponen penyusunnya, mangrove bisa juga dibagi berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangannya. Menurut Brown (2006), penelitian yang dilakukan oleh Watson (1982), menyebutkan bahwa berdasarkan ketinggian dan frekuensi genangannya, mangrove dibagi menjadi lima kelas.

Kelima kelas itu adalah (1) Kelas 1, adalah mangrove yang digenangi oleh seluruh level air dengan ketinggian 2,44 m dan frekuensi genangan 56-62 kali per bulan; (2) Kelas 2, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian sedang dengan ketinggian 3,35 m dan frekuensi genangan 45-59 kali per bulan; (3) Kelas 3, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian normal dengan ketinggian 3,96 m dan frekuensi genangan 20 - 45 kali per bulan; (4) Kelas 4, adalah mangrove yang digenangi oleh air dengan ketinggian besar dengan ketinggian 4,57 m dan frekuensi genangan 2-20 kali per bulan; dan (5) Kelas 5, adalah mangrove yang digenangi oleh air saat terjadi pasang besar /abnormal (equinoctial tide) dengan ketinggian 15 m dan frekuensi genangan 2 kali per bulan. Berikut ini adalah contoh aplikasinya, pada hutan mangrove di Indonesia.

Kelas 1. Mangrove dalam kelas ini tergenang oleh semua ketinggian air. Spesies dominan yang tumbuh di sini adalah Rhizophora mucronata, R. stylosa dan R. apiculata. Untuk R. mucronata lebih banyak tumbuh pada areal yang lebih banyak pasokan air tawar. Di Indonesia Timur, Avicennia spp dan Sonneratia spp mendominasi zona ini.

Kelas 2. Mangrove pada kelas ini digenangi oleh tingkat air dengan ketinggian sedang. Spesies utama yang tumbuh adalah Avicennia alba, A. marina, Sonneratia alba, dan R. mucronata.

Kelas 3. Digenangi oleh ketinggian air normal. Kebanyakan spesies bisa tumbuh dalam ketinggian ini. Sebagian besar spesies mangrove tumbuh di sini sehingga tingkat keragaman hayati tinggi. Spesies yang paling umum adalah Rhizophora spp (seringkali dominan), Ceriops tagal, Xylocarpus granatum, Lumnitzera littorea, dan Excoecaria agallocha.

Kelas 4. Genangan hanya terjadi pada saat air tinggi. Spesies yang umumnya dapat tumbuh di sini adalah Bruguiera spp, Xylocarpus spp, Lumnitzera littorea, dan Excoecaria agallocha. Untuk Rhizophora spp, jarang ditemui di areal ini karena lahannya terlalu kering untuk tumbuh.

Kelas 5. Genangan hanya terjadi pada saat air pasang besar. Spesies utama adalah Bruguiera gymnorrhiza (dominan), Instia bijuga, Nypa fruticans, Herritera littoralis, Excoecaria agallocha dan Aegiceras spp.

Dari pembagian zonasi mangrove ini, bisa dilihat bahwa di habitat aslinya, mangrove tak bisa hidup secara sembarangan. Dengan kata lain, mangrove hidup di ketinggian dan genangan air pasang yang berbeda. Kesalahan survey dalam pekerjaan pra rehabilitasi mangrove dan cara penanaman yang tidak sesuai dengan pembagian kelas mangrove seperti di atas, bisa mengakibatkan kegagalan program rehabilitasi mangrove secara keseluruhan.

KeSEMaT menyarankan, sebelum melakukan pekerjaan konservasi mangrove, dilakukan terlebih dahulu survei ketinggian dan frekuensi genangan air pasang secara benar. Setelah didapatkan data yang akurat, barulah dilakukan penanaman mangrove yang titik-titik penanamannya disesuaikan dengan kelas-kelas mangrove (lihat foto di atas, pada saat para peserta Mangrove REpLaNT 2007 KeSEMaT melakukan penanaman mangrove di Teluk Awur Jepara).

Sebagai tambahan, masing-masing spesies mangrove tumbuh pada ketinggian substrat yang berbeda dan pada bagian tertentu tergantung pada besarnya paparan mangrove terhadap genangan air pasang. Untuk itu, kita perlu mempelajari tabel air pasang di daerah masing-masing dan mulai melakukan pengukuran di areal mangrove yang masih bagus dalam kaitan anatar ketinggian substrat dengan berbagai spesies mangrove yang tumbuh pada setiap kedalaman. Salah satu kunci penting yang harus dilakukan ketika melakukan rehabilitasi mangrove adalah mencontoh tingkat kemiringan dan topografi substrat dari mangrove terdekat yang ,masih bagus kondisinya. (Brown, 2006).

Selamat mempraktekkan penanaman mangrove yang sesuai dengan ketinggian dan frekuensi genangan air pasang di mangrove. Mari selamatkan ekosistem mangrove kita. SEKARANG!