18.4.08

Demi Kelestarian Lingkungan: Kerupuk sebagai Wadah Makanan?

Semarang - KeSEMaTBLOG. Adalah Nasrullah Idris, seorang penulis dari Bandung, yang telah berbaik hati mengirimkan artikel lingkungannya berjudul Demi Kelestarian Lingkungan: Kerupuk Sebagai Wadah Makanan? kepada KeSEMaT, untuk ditampilkan di KeSEMaTPORTAL. Walaupun tak ada hubungannya sama sekali dengan mangrove, namun kami menilai bahwa artikel ini sangat bagus dan perlu sekali dihadirkan dalam KeSEMaTBLOG, untuk memberikan informasi mengenai betapa bergunanya kerupuk apabila “dialihfungsikan” sebagai wadah makanan karena bisa menggantikan pembungkus makanan yang biasanya terbuat dari plastik/kertas yang menimbulkan pencemaran bagi bumi. Semoga, artikel ini bisa mengingatkan kita untuk lebih peduli lagi dengan lingkungan di sekitar kita. Terlebih lagi, artikel ini sengaja kami hadirkan, untuk menyongsong datangnya Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2008, ini. Selamat membaca.

Tentu banyak di antara kita pernah mencicipi jajanan es cream dalam gelas cantik di mana wadah ini sekaligus bisa dimakan. Karena memang sengaja diproduksi untuk dua fungsi.

Ia terbuat dari bahan utama "mentega, tepung kanji, dan telor". Dalam pembuatannya antara lain hampir mirip dengan kueh loyang. Artinya, cetakan logam dicelupkan pada adonan dalam bentuk cair itu sampai semua permukaan bagian luarnya basah. Lalu dibakar beberapa menit dalam oven. Akhirnya dicopot serta siap pakai.

Tetapi perkembangan teknologi pengecoran dewasa ini telah mengilhami serta mengwujudkan banyak improvisasi.

Ada beberapa versi untuk menamakannya. Tetapi mengingat kalau dimakan langsung terasa bunyi "pruk ... pruk ... pruk ..." dalam mulut maka dalam tulisan ini saya sebut saja dengan "kerupuk".

Nenek-moyang kita sudah lama merintis kerupuk. Dengan "alat sederhana, bahan hanya dengan tepung kaji plus garam, dan cara sederhana" mereka membuat kerupuk sebagai makanan.

Jadi boleh dikatakan bahwa adanya kerupuk sebagai wadah itu adalah akibat dari upaya "penambahan fungsi, kreativitas rasa, dan perluasan teknis".

Hanya sayang. Perkembangannya di Indonesia sangat lambat. Sampai kini masih terfokus untuk beberapa jenis makanan saja seperti es cream. Itu pun sudah semakin tergeser oleh peran plastik/kertas. Lihat saja di banyak di tempat jajanan. Akan sulit kita temukan kerupuk sebagai wadah. Kalau pun banyak kerupuk seperti di restoran, warung, atau cafe tetapi kan untuk dimakan. Apalagi dibuatnya dengan jalan digoreng serta tidak rata sehingga sulit bila dipakai sebagai wadah makanan.

Lain dengan di desa. Meskipun sudah semakin berkurang namun dewasa ini masih cukup banyak ibu memberikan memberi kepada anaknya dengan menyimpan nasi di atas kerupuk. Lalu diberi bumbu plus sedikit kuah. Dengan nikmatnya si anak mengunyah nasi dan menggigit kerupuk secara bergantian sampai akhirnya habis sama sekali. Dengan demikian tugas cuci piring sedikit teringankan. Berarti pula sabun cuci sedikit teriritkan dan limbah sabun setetes terkurangi.

Itu baru untuk satu orang anak. Bagaimana kalau semua anak untuk sarapan paginya melakukan cara tersebut.

Bukan maksud penulis mengajak mundur hidup ke belakang. Tetapi minimal hikmahnya bisa diambil dalam rangka memberikan kredit point terhadap kelestarian/pemecahan lingkungan. Kemudian dengan motivasi tinggi dan niat baik ditindaklanjuti dengan merekayasa kerupuk sedemikian rupa sehingga bisa diandalkan sebagai wadah berbagai makanan.

Kalau saja terwujud maka makanan ringan pada acara pesta nikah sampai seminar ilmiah tidak perlu lagi diwadahi dengan piring kertas maupun gelas plastik (lihat foto di atas, terlihat bahwa sampah-sampah plastik yang berasal dari limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai dan akhirnya mencemari laut dan daerah pesisir di Semarang).

Mungkin saja banyak tamu enggan sekalian menyantapnya karena masih risih, tidak biasa, atau kurang suka. Jadi dibuang saja ke tempat sampah.

Tetapi masih lebih baik dari aspek proses pembusukan. Jadi tidak perlu lagi repot untuk mendaur ulangnya seperti plastik dan kertas.

Sifat Kerupuk
Seperti kita ketahui bahwa kerupuk sekarang ini umumnya mempunyai sifat mudah patah, tidak simetris, dan makan tempat. Wajarlah bila dianggap tidak praktis dipakai sebagai wadah makanan. Malah masih jauh untuk membentuk tradisi.

Tetapi semua itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menundanya mengingat peluang rekayasa ke arah sana sangat terbuka. Tiada isyarat ilmiah bahwa sifatnya hanya seperti itu sampai kapan pun.

Kita sepakat bahwa proses keretakan kerupuk itu berlainan. Antara lain akibat perbedaan komposisi bahan, ketebalan, dan kadar airnya. Ada yang langsung patah hanya karena senggolan sedikit tangan. Ada yang baru patah ketika sudah ditekan dengan tangan.

Itu baru dari aspek keretakannya. Hal serupa pun berlaku untuk katagori lainnya seperti kedataran bentuk, kerapatan lubang, kecepatan produksi, sampai ketahanan udara.

Jadi logikanya adalah sifat kerupuk seperti kita kenal sekarang ini bukanlah harga mati. Artinya, masih bisa terus dimodifikasi sampai akhirnya dilihat secara ekonomis, artistik, ergonomis, dan kultural bisa bersaing dengan kertas/plastik. Nah melalui rekayasalah itu bisa terwujud.

Terang aja kalau dibuat hanya dengan adonan : air, tepung kanji, dan garam seperti tampak pada home industri. Walaupun bentuknya bagus pasca dijemur serta digoreng tetapi akan tetap cepat lembek ketika ditempati nasi berkuah atau sayur berair. Toh tujuan utamanya memang hanya untuk dimakan. Akhirnya menjadi beban psikologis karena setiap kali akan menyantap dicemaskan oleh kemungkinan bocor.

Mengingat banyaknya literatur/inovasi teknologi pangan di Indonesia rasanya sulit untuk menganggap kemungkinan kerupuk sebagai wadah berbagai jenis makanan sebagai mimpi belaka.

Mungkin saja para pekar terkait tidak pernah menyinggungnya sama sekali ketika masih duduk di bangku kuliah bidang tehnik. Tetapi mereka bisa mengasosiasikan dan mengaplikasikan esensi enginnering pada bahan kerupuk serta gilirannya menghasilkan formula efektif/efisien untuk memperluas kerupuk sebagai wadah makanan.

Misalkan pakar teknologi logam. Ia bisa diharapkan untuk membuat cetakan kerupuk dengan beragam bentuk "dari campuran logam" dan "dengan operasional tertentu" tertentu. Sementara pakar teknologi kimia bertugas menganalisan banyak alterantif adonan untuk kemudian dipilih satu di antaranya. Ahli biologi, medis, dan farmasi pun harus dilibatkan mengingat ini sangat erat kaitannya dengan resiko terhadap kesehatan. Belum lagi ekolog.

Pokoknya asal kordinasi komplementer antar pakar terbentuk secara tangguh sudah merupakan modal SDM siap pakai. Soalnya begini. Banyak persoalan lingkungan tidak, susah, atau lambat terselesaikan hanya karena para pakar terkaitnya bekerja tanpa koordinasi. Mereka bekerja masing-masing tanpa terlalu mempertimbangkan input satu sama lain. Sehingga kondisi tumpang tindih pun tidak terhindarkan lagi.

Itu juga belum cukup tanpa ada kemauan politik pemerintah selaku pembuat kebijaksanaan, pemberi kesempatan, pengelola keuangan, sampai penggerak kegiatan. Hanya terus-terang sampai sekarang penulis belum tahu, apakah presiden kita pernah memerintahkan untuk memikirkan kemungkinan wadah makanan dari plastik/kertas diganti dengan wadah seperti kerupuk?

Sejarah sudah banyak mencatat perkembangan di banyak negara tentang hubungan antara keletarian lingkungan dengan kemauan politik pemimpinnya.

Tahap Awal
Salah satu kekurangan produk kerupuk bila dilihat dari aspek wadah makanan adalah mudah menyerap air. Malah kadar air pasi nasi pun bisa terserap olehnya. Ini bisa dibuktikan dengan membandingkan masanya masing-masing antara sebelum dan sesudah bersatu. Ini karena banyaknya pori. Terlebih untuk kerupuk dari kombinasi air, tepung kanji, dan garam saja.

Nah bagaimana mempersempitnya sedemikian rupa sehingga tidak mudah lagi terserap air. Atau melapisinya dengan lapisan transparan tipis hasil ramuan tumbuhan tertentu serta tidak berbahaya/berefek negatif bagi kesehatan. Esensi engineering (fisika maupun kimia) dari plastik tentu bisa dikonversikan untuk membuat lapisan tersebut.

Masalah pori ini analog dengan logam hasil coran di mana akan mempunyai lebih berpori lebih banyak dan berukuran lebih besar dibandingkan logam hasil tekanan. Dengan kata lain logam tekan lebih keras/kuat daripada logam tuang.

Tetapi penulis rasa untuk tahap awal ini prioritaskan sajalah dulu untuk mengantisipasi lonjakan/mempercepat degradasi sampah agar realisasinya bisa lebih cepat. Sehingga terjadilah segera proses pengambilalihan fungsi wadah dari plastik/kertas ke kerupuk.

Soalnya kalau sekalian juga untuk konsumsi perut berarti harus memikirkan juga bumbu masak, gizi, warna, dan cita rasa. Belum lagi waktu untuk sosialisasi hanya untuk menunjukkan bahwa produk itu pun layak untuk dimakan.

Taroklah oke. Itu pun belum cukup. "Penyajian hidangan " dan "memperlakukan wadah" pun harus disosialisasikan juga. Kan risih makan kerupuk ini kalau sudah dipegang oleh tangan kurang bersih atau diletakkan di atas meja makan.

Biarlah ini dipikirkan ketika kehadirannya sudah cukup signifikan di pasaran di mana masyarakat dengan mudah bisa mencari, membeli, dan memperolehnya di banyak tempat. Sementara dari aspek bisnis, speed produksi, dan kualitas fungsi sudah dianggap memberikan prospek standar. Masyarakat pun sudah mampu berakomdasi dengan kehadirannya. Minimal memakainya tanpa riskan.

Toh proses alami akan terjadi. Artinya, suatu saat akan bermunculan inisiatif untuk menjadikannya sebagai makanan dalam artian sebenarnya tanpa menghilangkan fungsi sebagai wadah makanan. Maka di tempat penjualan barang eceran pun akan kita temui beragam bentuk bungkusan berisi produk dwifungsi serta ramah lingkungan tersebut.

Jadi kelak kalau orang hendak pergi piknik/camping ke tempat jauh seperti gunung, misalnya, tidak perlu lagi membawa piring maupun kerupuk. Cukup nasi plus lauk-pauknya. Bukankah untuk satu macam kegiatan ini saja beban barang sudah sedikit teringankan.

Kalau itu sudah menjadi kenyataan maka semakin terasalah, bagaimana pemahaman ilmu secara "tuntas, detail, dan integratif" bisa menghasilkan antisipasi terhadap faktor negatif dari lingkungan. Karena dengan cara begitulah akan muncul interaksi sampai menghasilkan banyak alternatif solusi. Selanjutnya akan semakin leluasalah memilihnya untuk kemudian diaplikasikan : "yang terbaik dari seabrek yang dikaji".

Keadaan di Beberapa Negara
Kini penelitian terhadap berbagai jenis tepung terus dilakukan di beberapa negara dalam rangka memberi kemungkinan bagi terciptanya makanan sebagai wadah makanan seperti jenis kerupuk. Pada abad XXI mereka harapkan ini bisa terealisasi secara global.

Menurut Heru Poerbo, pelajar kita di Jerman untuk program doktoral, doktoral, menceritakan bahwa hal itu sudah diujicobakan oleh DB di restorasi (Kereta Api) di Jerman beberapa tahun yang lalu. Tetapi tidak dilanjutkan lagi. Apakah karena memang lebih mahal/orang tidak suka dibandingkan piring biasa?

Ketika itu DB menggunakan piring/mangkok dari Teig (adonan gandum). Ini lebih dengan alasan ekologis jadi tidak perlu lagi memboroskan banyak air dan sabun cuci. Hanya ia mengaku ia memegang artikel tentang itu yang dipakai dalam latihan di Goethe Institut Mannheim. Mungkin pelajar kita asal Mannheim bisa menceritakan lebih terperinci.

Menurut salah seorang gurunya yang memang doyan naik kereta api, percobaan itu hanya sebentar. Terus menghilang. Pelajar jurusan perancangan perkotaan ini menduga bahwa ini karena kebanyakan orang lebih suka menggunakan piring biasa. Demikian akhir ceritanya kepada penulis.

Tetapi di beberapa kota di negara industri itu kabarnya ada beberapa jenis makanan diwadahi Waffle seperti Pommes di IMBISS (kios kecil di pinggir jalan). Karena wadahnya bisa dimakan maka penyimpanannya tidak sembarang tempat.

Di restoran di Mexico pun hal serupa akan kita temui piring cukup tebal berupa kerupuk. Hanya pembeli jarang memakannya. Karena tujuan produksinya bukan untuk itu.

Sedangkan di beberapa restoran di Amerika Serikat pernah dijumpai roti keras yang memang relatif enak dipakai untuk membungkus Pizza.

Penelitian di Jepang diarahkan juga sebagai bahan masakan. Jadi kalau tidak dipakai sebagai wadah ya masih bisa dimanfaatkan untuk membuat sop. Entah kabar terakhirnya.

Memang selama dekade terakhir ini wadah makanan terus menjadi permasalahan pemerintah di negara maju. Para LSMnya semakin keras menentang kehadiran "wadah makanan" kalau diketahui bisa menimbulkan kontamintasi terhadap makanan itu sendiri.

Misalkan Plastik Busa (STYROFOAM). Di Jerman ini sudah tidak dipakai lagi sebagai wadah makanan. Pasalnya dikhawatirkan adanya perpindahan zat monomer dari Styrofoam ke dalam makanan. Semakin lama makanan tersimpan dalamnya PB dengan suhu semakin tinggi, semakin cepat pula perpindahan itu, terlebih bila makanan banyak berlemak/berair. Karena itu pemerintah sana membuat ketentuan batas toleransi akan kadar perpindahan zat racun itu.

Tetapi saya belum tahu : kenapa di tanah air styrofoam masih dipakai untuk wadah makanan di beberapa restoran elit ? Juga sampai di mana tekanan LSM seperti WALHI terhadap hal tersebut ?