4.4.08

Kerennya Bekerja sebagai GURU MANGROVE

Jepara - KeSEMaTBLOG. Lihatlah foto di samping ini. Di antara akar-akar mangrove yang tersisa dan di bawah gersangnya dedaunan Rhizophora yang masih ada inilah, para KeSEMaTERS bekerja. Pada sebuah “tempat sampah dan sarang nyamuk” (sebutan sebagian orang untuk mangrove) di Teluk Awur Jepara, kami mengabdikan diri, bekerja untuk alam pesisir kami. Tak pernah putus, setiap tahun, kami terus menjalin hubungan baik dengan manusia di tiap generasinya, untuk menginformasikan dan memberitahukan kepada mereka bahwa mangrove sangatlah berguna dan bermanfaat bagi keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Sudah tujuh generasi, selama tujuh tahun ini, kami menyuluh manusia dan berusaha sekuat tenaga untuk membuka hati mereka, betapa mangrove sangat layak untuk disayang dan dicintai. Kata orang, mangrove tak ada bagusnya sama sekali. Lumpur, nyamuk, duri, cacing, sampah dan hal menjijikkan lainnya yang banyak ditemukan di sana, membuat tempat ini dicap sebagai tempat yang tak tepat untuk disinggahi apalagi dijadikan sebagai tempat bekerja. Tapi, bagi kami yang memahami, mengerti dan menghargainya, kami bisa merasakan bahwa bekerja di mangrove adalah suatu kehormatan, sangatlah berharga, asyik dan menyenangkan.

Selanjutnya, menjadi seorang MANGROVER dan KeSEMaTERS sangatlah keren dan cool. Dengan baju kebesaran kami bernama Pakaian Seragam Harian (PSH), Pakaian Seragam Lapangan (PSL) dan Kokard KeSEMaT yang menempel di PSH/PSL , lengkaplah sudah kebanggaan kami bekerja sebagai GURU MANGROVE (GUROVE). Minimal satu bulan sekali, kami selalu berjalan menyusuri pasir putih dan lumpur coklat nan pekat, sembari terus berkampanye dan membagikan informasi pengetahuan mangrove kami kepada teman-teman kami, pun masyarakat kami.

Memang, memiliki ilmu pengetahuan dan skill tentang berbagai hal tentang mangrove mulai dari (1) tata cara identifikasi spesies mangrove, (2) tata cara sampling mangrove, (3) tata cara pembibitan mangrove, (4) tata cara penanaman mangrove, (5) tata cara pemeliharaan mangrove, (6) tata cara penelitian struktur komunitas, pemangsaan, serasah, plankton, diatom, makrobentos, Sistem Informasi Geografis (SIG), dan lain sebagainya, telah membuat kami bangga sebagai MANGROVER dan KeSEMaTERS. Di saat generasi muda lainnya, masih mencari-cari informasi tentang berbagai ilmu mangrove tadi, sebagai GUROVE, kami sudah mampu mendapatkannya. Tapi, tentu saja pencapaian ini tak membuat kami merasa jumawa. Rasa pengabdian masyarakat dan gerakan moral kami, untuk mau dan mampu membagikannya kepada sesama, selalu kami jaga.

Silih berganti, di setiap tahunnya, kami bertemu dengan generasi-generasi muda manusia, yang membutuhkan pengetahuan dan informasi mangrove yang benar dan berimbang. Kami sadar, mereka adalah agen-agen muda penerus generasi kita, yang memiliki tanggung jawab besar sebagai pengganti generasi manusia terdahulu, untuk melakukan pekerjaan berat penyelamatan ekosistem mangrove dari kepunahan, demi kelestarian alam dan eksistensi manusia di masa depan. Kami sangat sadar, penyuluhan mangrove harus terus dilakukan di setiap generasi dan tak boleh terputus. Satu kali saja terputus, maka akan terjadi missing link generasi, yang bisa berakibat fatal bagi perkembangan informasi mangrove di masa mendatang. Dan, kami tak mau mengambil resiko buruk itu.

Terkadang, beberapa kali, sempat juga terselip rasa ketakutan kami yang sangat besar terutama setelah melihat kenyataan bahwa bayi-bayi mangrove yang telah kami tanam dengan susah payah, selalu saja ditebang oleh oknum masyarakat sekitar. Padahal, berbagai usaha pemberian contoh dan penyadaran akan pentingnya ekosistem ini bagi kehidupan manusia, rasanya tak pernah alpa selalu kami adakan. Berdirinya sebuah Arboretum Mangrove KeSEMaT yang biasa kami sebut dengan ARMaT dan undangan penyuluhan mangrove yang kami sampaikan, kiranya tak terlalu membuat masyarakat di samping tapak merasa terusik untuk datang di acara penyuluhan, apalagi mengelola ARMAT bersama-sama dengan kami. Padahal, ARMaT sudah mulai menggeliat dan tumbuh besar. Dia memerlukan banyak kasih sayang dari kami dan masyarakat Teluk Awur Jepara, untuk menjaga dan memeliharanya, demi kelangsungan hidupnya di masa mendatang.

Kami sadar, sulit memang merubah perilaku masyarakat. Apalagi, kami baru bekerja selama tujuh tahun. Menurut para GUROVE kami yang pernah kami datangi, yaitu para komunitas petani mangrove dan kelompok nelayan di pesisir pantai Semarang, Rembang, Demak dan Jepara, kesadaran masyarakat baru mulai bisa tumbuh dan berakar kuat, rata-rata setelah melewati masa sepuluh tahun. Sayangnya, kami masih tiga tahun lagi menuju batas waktu kesadaran itu. Namun, menurut hemat kami, keberadaan ARMaT yang sekarang ini telah berubah menjadi vegetasi mangrove yang lebat, seharusnya sudah bisa membuka mata masyarakat sana, untuk mulai tergerak hatinya dan melindunginya. Memang, mengajak apalagi sampai bisa sampai merubah perilaku masyarakat untuk peduli dengan mangrovenya tak seperti membalikkan telapak tangan. Namun, kami akan terus berjuang dan berusaha. Justru, segala tantangan, kesulitan dan permasalahan itu, akan kami jadikan pemicu semangat, untuk lebih profesional dan maksimal lagi, bekerja sebagai GUROVE yang keren dan cool. Tertarik bekerja sebagai GUROVE, di antara akar-akar mangrove, seperti kami?