9.5.12

Dodol Mangrove Bakal “Sejajar" Dengan Pangan Lain di Kabupaten Bintan

Bintan – KeSEMaTBLOG. Adalah Bapak Agus Widyasmiko, S.Sos., Msi (Kepala Bidang Kehutanan Kab. Bintan) yang mengirimkan email kepada kami, sebagai berikut, “... kami telah men-download buku pengolahan mangrove (KeSEMaT – red), dan kami telah praktekkan yang tentunya disesuaikan dengan kearifan lokal yang ada di Kabupaten Bintan. Pada tanggal 6 Mei 2012 yang lalu, kami mendapat kunjungan dari Kementerian Pertanian. Kesempatan yang berharga tersebut kami manfaatkan untuk mempromosikan dodol mangrove dan syukurlah dapat diterima oleh masyarakat bahkan Menteri Pertanian, Gubernur Kepri dan Bupati Bintan bersedia mengunjungi stand kami. Dan, untuk lebih menggiatkan komunikasi diantara sesama pecinta mangrove, bersama ini kami lampirkan artikel mengenai sosialisasi yang telah kami lakukan...” Sungguh bangga karena Buku Mangrove kami karya Pendiri KeSEMaT, yaitu Mas Aris Priyono, alhamdulilah bisa bermanfaat untuk warga pesisir di Indonesia. Berikut ini artikel selengkapnya yang ditulis oleh beliau.

Pada tanggal 6 Mei 2012, Menteri Pertanian Bapak Dr. H. Suswono, MMA melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Bintan dalam rangka menyaksikan penandatanganan MOU pengembangan sayuran ekspor antara Kabupaten Bintan dengan pihak investor swasta dari Singapura dan MOU antara Asosiasi Pengusaha Tanaman Hias Bintan dengan PT. Bintan Resort Cakrawala Lagoi di Desa Toapaya Selatan, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Dalam kesempatan yang langka tersebut, dimanfaatkan oleh Dinas Pertanian untuk dapat mempromosikan berbagai produk unggulan pertanian Kabupaten Bintan, dan kesempatan tersebut juga dimanfaatkan secara maksimal oleh bidang kehutanan untuk dapat mempromosikan sumbangan sektor kehutanan dalam meningkatkan ragam produk olahan pangan yang berasal dari mangrove.

Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari ratusan pulau kecil yang tentunya memiliki daerah pesisir pantai yang luas. Hutan mangrove di Kabupaten Bintan lebih kurang seluas 7.956 Ha yang berada di 10 kecamatan. Potensi mangrove yang cukup besar ini apabila diolah dengan baik, tidak mustahil akan dapat menjadi sumber pangan alternatif yang menjanjikan. Berbekal dari kearifan lokal yang ada di Kabupaten Bintan dan berbagai sumber, diantaranya melalui Website KeSEMaT dan BPDAS Kepri, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan telah berupaya melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan mangrove melalui program “Mangrove Untuk Pangan”.

Potensi mangrove di Kabupaten Bintan cenderung meningkat, hal ini dikarenakan adanya program Kebun Bibit Rakyat yang dialokasikan oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri, sejak tahun 2010 hingga sekarang, berupa pembibitan dan penanaman mangrove. 

Dalam rangka mengenalkan produk pangan asal mangrove kepada masyarakat, maka pada kunjungan Menteri Pertanian di Kabupaten Bintan, untuk pertama kalinya hasil pangan olahan mangrove ditampilkan di bazar dan disejajarkan dengan olahan pangan asal pertanian lainnya.

Dodol mangrove yang merupakan hasil olahan gabungan kelompok tani “Karya Bintan“ Desa Busung mendapat sambutan yang menggembirakan dari Bapak Menteri Pertanian dan masyarakat luar. Bapak Menteri Pertanian didampingi oleh Bupati Bintan, Bapak Ansar Ahmad, dan Gubernur Kepulauan Riau, Bapak M. Sani berkenan mengunjungi stand mangrove Karya Bintan. Dodol mangrove yang dihidangkan dalam sekejap telah habis dicicipi oleh pengunjung. Menurut Sdr. Zardaip, Ketua Gabungan Kelompok Tani Karya Bintan, ”Kepedulian masyarakat di Desa Busung dan Desa Penaga terhadap ekosistem mangrove sangat besar, hal ini terbukti dengan rencana mereka mengajukan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan Berbasis Mangrove seluas 287 ha kepada Menteri Kehutanan. Dan, dengan adanya upaya pengolahan mangrove manjadi sumber pangan alternatif, maka hal itu semakin menguatkan niat kelompok tani untuk menanam, menjaga dan merawat mengrove dengan sebaik-baiknya, karena fungsi mangrove selain tempat berlindung, bertelur dan berkembangbiaknya ekosistem laut, juga dapat dijadikan sebagai kebun pangan masyarakat. Kelak, bila kami melaut atau mencari ketam, tidak hanya melihat ke bawah untuk mencari ikan, ketam, udang, dan lain-lain, tapi juga melihat ke atas mencari buah mangrove. Yah, pokoknya bawah-atas-mangrove semua ada rezekinya, lah,“ demikian komentar sang Ketua Gapoktan dengan mimik wajah ceria. 

Hal ini diamini oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan yang memilikin slogan senada dengan Gapoktan, yaitu “Mangrove lebat, ikan udang ketam berkembang pesat, pangan dapat, kesejaheraan meningkat, itu baru mantap!” Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bintan, Bapak Drs. Adi Prihantara, MM memberikan arahan kepada Bidang Kehutanan untuk dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah mangrove agar lebih bervariasi. Untuk itu, pentingnya merencanakan pelatihan pemanfaatan mangrove pada tahun 2013, dan untuk sementara dapat dilakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat luas dengan berbagai cara. Lebih lanjut, Kepala Dinas mengharapkan, masyarakat dapat melihat mangrove juga sebagai sumber pangan, dengan demikian maka masyarakat tidak akan mau menebang mangrove, sebagaimana petani melihat pohon durian, sukun, mangga dan lain-lain, yang tidak akan pernah ditebang hanya untuk mengambil kayunya saja, karena ada potensi lain disana. Apabila masyarakat tidak menebang dan penanaman terus dikembangkan, maka program konservasi akan berjalan dengan efektif.

Tanggapan berbagai kalangan atas keberadaan bahan pangan asal mangrove sangat menggembirakan, diantaranya :
1. Ibu Dewi Kumalasari Ansar, Ketua Tim Penggerak Kabupaten Bintan, “Sangat bagus, bisa dikembangkan. Mana buku olahan mangrove untuk saya?, “ tanya beliau dengan antusias.
2. Yudha Inangsa, Kepala Bappeda Kabupaten Bintan, “ Wah, ini makanan yang sehat, karena sangat alami, kok bisa, ya?”
3. Tatang Suwenda Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bintan, “Saya baru tahu, ini sangat membantu meningkatan pendapatan nelayan, saya mendukung sekali.“
4. Jufrin Zuniwal, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bintan. “Sangat menarik, saya akan perintahkan staf saya untuk belajar juga.”
5. Kartini, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana, “Bagus. Saya akan dukung melalui program di dinas saya. Masyarakat desa atau pesisir selama ini identik dengan kemiskinan, bila mangrove dapat dijadikan alternatif sumber pangan, setidak-tidaknya mereka akan dapat mengolah untuk memenuhi kebutuhan sendiri sehingga mengurangi pengeluaran untuk membeli kebutuhan pangan dan bila bisa dikembangkan, akan mampu menjadi sumber baru pendapatan keluarga. Saya yakin, karena bahan baku mangrove cukup banyak di Kabupaten Bintan.”
6. Raja Misykal, Ketua Komisi II DPRD Kab. Bintan, “Sangat kreatif, masyarakat akan menjaga hutan mangrove karena mengrove bisa menghasilkan pangan.”
7. Said Djafar, Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau, “Pemanfaatan mangrove sebagai sumber pangan alternatif harus bijaksana, jangan sampai merusak mangrovenya sendiri.”
8. Zainal Katan, Camat Toapaya, “Macem tak percaye, mangrove bisa dimakan, rasanya macem dodol labu atau keledek.” 9. Dan berbagai komentar dari masyarakat luas yang senada mendukung pengembangan mangrove di Kabupaten Bintan.