7.4.09

Bisakah Mangrove Ditanam di Bledug Kuwu, Purwodadi?

Purwodadi - KeSEMaTBLOG. Awalnya kami sempat kaget begitu mendengar permintaan dari Kelompok Tani Tambak Grobogan (KTTG) agar di tambak ikan dan garamnya yang berada di sekitar lokasi wisata andalan Purwodadi bernama Bledug Kuwu (BK) ditanami minimal 5000 bibit mangrove. Adalah salah seorang panitia program penghijauan BK yang datang ke Kantor KeSEMaT Semarang dan menyampaikan niat dari para kelompok tani tersebut, agar KeSEMaT bisa mendatangkan ribuan bibit mangrove untuk ditanam ke sana. Namun, karena kami yakin bahwa Purwodadi bukanlah daerah pesisir, maka permintaannya kami tolak seraya menginformasikan kepada dia bahwa KeSEMaT akan datang ke lokasi, di keesokan harinya.

Keputusan kami untuk menolak permintaan panitia penghijauan BK bukanlah tolakan tanpa sebab. Fakta bahwa mangrove bukanlah tumbuhan darat melainkan tumbuhan pesisir yang memiliki habitat di daerah terlindung yang dipengaruhi pasang surut, bersalinitas serta wajib mendapatkan pola sirkulasi air yang baik, tentu saja tak bisa dipenuhi oleh Purwodadi yang notabene adalah area persawahan. Tolakan tersebut juga mengindikasikan bahwa kami tidak mau main-main dengan program-program penanaman mangrove tanpa diteliti dulu kondisi lokasinya untuk menjamin kelulushidupan bibitnya ke depan.

Maka, kami meluncur ke BK untuk membuktikan keyakinan kami di atas. Sesampai di sana, keyakinan kami benar. BK yang terletak di Grobogan bukanlah daerah pesisir melainkan persawahan yang luas dan lapang. Selanjutnya, kami juga menemukan bahwa BK dalam kondisi yang sangat ekstrim. Di sekitar BK, dalam radius 200 meter, tidak ada tanaman yang terlihat tumbuh meskipun rumput sekalipun. Namun demikian, tanaman seperti Cemara, Nyamplung dan Ketapang, berhasil tumbuh baik, tapi di luar radius BK.

Selesai melakukan pengamatan di BK, kami bertanya-tanya. Mengapa ada wacana penanaman mangrove di BK (?).

Setelah banyak bertanya kepada panitia program penghijauan, Camat, Kepala Desa dan KTTG pada saat diskusi, kami jadi tahu bahwa kelompok tani menginginkan adanya bakau (begitu mereka menyebut mangrove –red-) karena putus asa telah berkali-kali gagal dalam melakukan program penghijauan di sana. Sudah enam jenis tanaman yang ditanam di BK namun tanpa hasil. Sebagai tambahan, KTTG juga pernah melihat mangrove tumbuh subur di tambak-tambak Lamongan Jawa Timur. Mereka beranggapan kalau di tambak Lamongan bisa tumbuh, pastilah di tambak Purwodadi, bisa tumbuh juga.

Mendengar jawaban mereka, sambil beristirahat di bawah warung kecil di sekitar lokasi wisata setelah melakukan survei, kami menjelaskan mengenai habitat mangrove, syarat hidup mangrove dan berbagai pengetahuan lainnya mengenai tumbuhan pesisir ini (lihat foto di atas). Kami menginformasikan bahwa mangrove bukanlah tumbuhan darat. Dia hanya bisa tumbuh maksimal apabila dipengaruhi oleh banyak faktor seperti salinitas, pasang surut, pola sirkulasi yang baik, dan lain sebagainya yang sesuai dengan kondisi alaminya.

Setelah mendengarkan penjelasan dari kami, KTTG mengurungkan niatnya untuk menanam mangrove di BK. Namun demikian, mereka masih penasaran apakah dengan kandungan garam yang tersimpan di BK, mangrove tetap tidak bisa tumbuh (?).

Kami menjawabnya dengan penjelasan perlunya dilakukan penelitian tahap awal penanaman mangrove di BK namun dalam skala kecil. Tidak boleh ribuan mangrove ditanam secara langsung di sekitar BK tanpa didahului dengan penelitian yang representatif karena secara teori, kondisi lingkungan BK sangat tidak sesuai untuk pertumbuhan mangrove. Daripada mati sia-sia, lebih baik anggaran yang ada dialokasikan untuk membeli bibit lainnya yang kiranya lebih sesuai.

Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya Cemara, Nyamplung dan Ketapang sengaja dipilih, karena telah terbukti tumbuh dengan baik di sekitar BK.

Melihat semangat yang begitu menggebu dalam melakukan program penghijauan di BK dan untuk mengobati rasa penasaran para kelompok tani, maka akhirnya KeSEMaT mengabulkan permintaan mereka untuk mendatangkan puluhan bibit mangrove saja, sebagai tahap percobaan awal dan penelitian apakah mangrove bisa tumbuh di area darat yang tanahnya mengandung garam, seperti di laut.

Di akhir diskusi, kami juga menyampaikan bahwa apabila program penghijauan di tahun ini kurang berhasil, maka kami menyarankan agar di tahun berikutnya penelitian ilmiah mengenai jenis tanaman yang cocok ditanam di BK serta kemungkinan disterilkannya BK dari program penghijauan dilakukan. Hal ini mengingat kondisi tanah dan lingkungan BK yang telah membentuk sebuah ekosistem-tersendiri, yang unik dan ekstrim sehingga tidak bisa dijadikan area penanaman pohon. Salam MANGROVER!

1 comment: