10.4.09

Mangrove Cultivation Mana yang Paling Berkesan?

Semarang – KeSEMaTBLOG. Baru beberapa menit, kami mempublikasikan artikel berjudul “Mangrove REpLaNT (MR) Mana yang Paling Berkesan?” di Jaringan KeSEMaTONLINE, tapi para Mantan Peserta Mangrove Cultivation (MPMC) KeSEMaT sudah “protes.” Protesnya MPMC, karena merasa KeSEMaT “menganaktirikan” mereka dan menganggap bahwa MC sebagai wadah mereka membuktikan jiwa konservasi mangrovenya, terkesan dinomorduakan. “Kalau ada artikel Mangrove REpLaNT (MR) Mana yang Paling Berkesan?, seharusnya ada juga artikel yang berjudul Mangrove Cultivation (MC) Mana yang Paling Berkesan?.

Ternyata, tak hanya MR saja yang bisa menciptakan kenangan yang begitu indah nan melekat kuat dalam ingatan mereka, tapi MC-pun demikian adanya,” begitulah petikan para MPMC yang dikirimkan kepada kami. Nah, dalam koridor seperti inilah, pada akhirnya artikel ini hadir ke hadapan Anda.

Lihatlah foto di atas. Seperti para Mantan Peserta Mangrove REpLaNT (MPMR), para MPMC juga tak kalah hiperaktif-nya dalam membantu KeSEMaT untuk merehabilitasi ekosistem mangrove di Desa Teluk Awur, Jepara. Layaknya MR, setiap tahun para peserta MC juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan. MC mulai diperkenalkan oleh KeSEMaT kepada publik pada tahun 2006 yang pada saat itu hanya diikuti oleh 11 peserta dari luar KeSEMaT. Setelah itu, di MC 2007, 2008 dan 2009 secara berturut-turut MC diikuti oleh 23 orang peserta, 52 orang peserta dan 115 orang peserta.

Lonjakan peserta MC terasa sangat mengejutkan, karena terjadi di setiap tahun. Mulai dari MC 2007, 2008 dan 2009, jumlah peserta MC adalah dua kali lipat dari jumlah peserta MC tahun sebelumnya. Bahkan, peserta MC 2009 telah ditasbihkan KeSEMaT sebagai peserta MC terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan MC KeSEMaT. Tak hanya itu, secara kuantitas, peserta MC 2009 adalah peserta terbanyak dalam program konservasi mangrove KeSEMaT, mengalahkan jumlah peserta program konservasi mangrove KeSEMaT lainnya, seperti MR yang lebih dahulu dikenal publik dan fenomenal dengan jumlahnya yang setiap tahun mencapai ratusan orang.

Melihat fakta meyakinkan yang diperlihatkan para MPMC, maka kedudukan MC sekarang, tentu saja sama dan sebanding dengan MR yang lebih dulu melambung namanya. Bahkan, di MC 2009, konsep MC yang selama ini hanya identik dengan pembibitan propagul mangrove semata, telah dirombak dengan baik oleh KeSEMaT, dengan cara menambahkan Seminar Nasional yang megah dan program penyulaman bibit mangrove hasil penanaman peserta MR yang indah, dengan tujuan untuk memberikan bekal dan pengetahuan kepada para peserta MC tentang teknik penyulaman yang baik dan benar.

Maka, pada akhirnya, pertanyaan mengenai “Mangrove Cultivation (MC) Mana yang Paling Berkesan?,” tentunya tak akan banyak berarti lagi apabila dibandingkan dengan sebuah semangat menyala yang telah berhasil diperlihatkan oleh para MPMC di setiap tahun, di masing-masing generasinya. Namun demikian, memang sebuah pembandingan mana MC yang paling berkesan di benak para MPMC, tentu saja hanya layak dijawab secara pribadi oleh mereka sendiri. Salam MANGROVER!